Mohon tunggu...
Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio Mohon Tunggu... Administrasi - Scriptores ad Deum glorificamus

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Hosabi versi Kasidi 31 - Rasa Terima Kasih

28 Mei 2024   08:51 Diperbarui: 28 Mei 2024   09:35 61
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.amazon.com.au/Abstract-Middle-Ages-Painting-Bathroom-Paintings/dp/B0BKL5TNCF

Hosabi versi Kasidi 31 -- Rasa Terima Kasih

Banyak anak memang kurang ajar, tidak tahu diri, dan tidak tahu terima kasih. Tidak sadarkah mereka bahwa bayi manusia tidak mampu mandiri bahkan sampai remaja? Beda dengan anak ayam, begitu menetas, begitu mandiri. Bayi manusia harus ada manusia lain, yang paling jelas adalah mama dan papanya, yang merawat. Tanpa itu bayi manusia pasti mati.

Hanya orang yang amat sangat cerdas atau yang amat sangat dungu, yang tidak menghargai mama papanya, dan setahu Kasidi orang yang amat sangat cerdas itu 'tidak ada di dunia ini', maka dari itu tidak diragukan lagi orang yang tidak menghargai papa dan mamanya, tidak menaruh hormat pada bunda dan ayahnya, tidak tahu berterima kasih pada ibu dan bapaknya, adalah orang yang sangat dungu. Perintah untuk menghormati, juga mencintai dan menyayangi orang tua, dan juga tahu berterima kasih pada mereka, sudah diberikan sejak awal oleh Allah, dan perintah ini diulangi kembali Tuhan.

Jadi sama sekali tidak ada alasan untuk tidak hormat dan tidak tahu berterima kasih pada orang tua, juga sama sekali tidak ada landasan pembenar untuk tidak mencintai dan menyayangi orang tua. Bahkan Tuhan yang sejatinya sama sekali tidak memerlukan hormat dan bahkan pernyataan tahu berterima kasih dari manusia ternyata pernah bersabda betapa Dia tidak suka orang yang tidak tahu berterima kasih. Simak Sabda Tuhan yang berikut ini yang disampaikan setelah Dia menyembuhkan sepuluh orang sakit kusta. Semblan di antaranya adalah orang Yahudi dan hanya satu orang yang bukan Yahudi.

"Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"


Coba bayangkan kejadian ini. Luar biasa, bukan? Dan bukankah ini sebenarnya gambaran dari kita semua yang biasanya kurang dan bahkan tidak tahu terima kasih?

Hanya saja, nah inilah hebatnya Tuhan, untuk anak yang tidak tahu terima kasih seperti ini Tuhan ternyata tetap berkenan, bahkan sangat berkenan. Tuhan mungkin saja jengkel dan mengeluh tetapi pada akhirnya sifatnya yang penuh kasih dan pengampun jauh melampaui semua hal, termasuk kejengkelan dan bahkan kemarahan. Bahkan tidak jarang Tuhan menunjukkan hal ini secara demonstratif dan provokatif sehingga bisa menimbulkan salah tafsir, khususnya bagi mereka yang terbiasa ngawur, sok tahu, dan bodoh.

'Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Begitulah Tuhan, dahsyat dan luar biasa, bukan? Khususnya cara berpikirnya. Orang yang tidak cerdas dan rendah hati dan murah hati pasti salah mengerti hampir sebagian besar Sabda Tuhan yang memang sangat provokatif, nyeleneh, dan menggebrak itu. Hehehe ... ayo belajar menjadi sedikit lebih cerdas supaya tidak terkaget-kaget mendengar Sabda Tuhan, kata Kasidi yang entah mengapa kali ini berbicaranya lembut sekali, selembut kain sutra.  (sda/tbs-28052024-hvk31-087853451949)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun