Tri Budhi Sastrio
Tri Budhi Sastrio profesional

SENANTIASA CUMA-CUMA LAKSANA KARUNIA BAPA

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Kasidi nomor 137 - Karya Sastra Tuhan

25 Mei 2018   11:26 Diperbarui: 25 Mei 2018   11:46 454 2 0
Kasidi nomor 137 - Karya Sastra Tuhan
dokumentasi pribadi

Hari itu bersama mahasiswa pasca yang memprogram matakuliah Kritik Sastra. Foto bersama dilakukan pada awal kuliah karena akan dibandingkan dengan wajah mereka setelah kuliah selesai. Apakah menjadi lebih cerah atau justru mendung kelabu? Kalau lebih cerah tentu karena mentari bersinar cerah, tetapi kalau sebaliknya tentu karena musim hujan belum berakhir. Tentu saja ini hanya kelakar sang dosen yang entah mengapa kemudian diceritakan pada Kasidi.

Kasidi yang merasa mendapat kesempatan, maklum meskipun dia itu jangankan S1, S2, S3 atau S4 karena 'S'-nya saja dia tidak punya, tetapi rasa ingin tahu dan semangat belajarnya berkobar-kobar dan menggebu, maka senyampang ada yang mau bercerita, disela-sela penjelasan dia menyela dan mengajukan pertanyaan yang menurut dia cukup kritis dan bagus. 

Padahal sejatinya pertanyaannya ya biasa atau bahkan sebenarnya konyol, tetapi yang ini ya jangan diperjelas, karena bisa saja menyebabkan sakit hati dan semangat berkobar-kobar yang terlanjur ada mungkin menyusut.

Apa sih yang diajarkan di kelas Kritik Sastra? Itu pertanyaannya. Sang Dosen dengan ringannya menjawab. Sebenarnya nama yang benar untuk mata kuliah ini 'Kritik Karya Sastra'.  Jadi semua jenis karya sastra, mulai dari puisi, prosa, drama, esai, dan biografi, dapat menjadi fokus perbincangan. Kasidi tampak mengangguk pelan, padahal dalam hati dia sebenarnya menggeleng hebat. Yah, apa itu?

Ambil saja contoh puisi, sang dosen melanjutkan. Karena dalam puisi ada dua elemen dasar yaitu 'sound and sense', bunyi dan makna, maka pada dua tataran inilah konsentrasi dan fokus perhatian mahasiswa diarahkan. Pada bunyi sendiri ada dua elemen penting yaitu 'rhyme and rhythm', sedangkan pada elemen makna juga ada dua elemen penting yaitu 'literal meaning and metaphoric meaning.'

Nah di antara empat elemen ini tentu saja yang paling dianggap penting adalah 'metaphoric meaning', makna metaforis. Karena dengan memanfaatkan karakteristik metafor, penyair yang hebat selalu berhasil menyembunyikan pesan utama yang disampaikan di antara baris-baris puisinya. Sebagai catatan, kata sang dosen, salah satu definisi indah 'metafor' adalah 'saying one thing, meaning another'. 

Kemudian penjelasan dilanjutkan dengan suara mantap seperti rentetan bunyi senapan mesin, sedangkan Kasidi yang tampak terbengong-bengong mulai menyesali dirinya, yah tahu begitu aku dulu nekad bersekolah tinggi-tinggi walau emak berulang-kali bilang 'sudah jangan macam-macam, tekuni saja tambal bannya, ini beras untuk besok sudah habis.'

Kasidi memang terus melanjutkan profesi ini ketika terdampar di kota setelah emaknya meninggal, tetapi semangatnya yang berkobar-kobar untuk tahu lebih banyak, dan sekarang tentang sastra dan karya sastra, tampaknya masih membara dan menyala. 

Semoga kesempatan seperti ini selalu ada, katanya lirih dalam hati, meskipun sekarang ini dia sebenarnya sedang mencoba perlahan-lahan menguak misteri di balik sebuah karya sastra yang ditulis dan dicatat berdasarkan ucapan, tindakan dan teladan Tuhan, yang selama ini diyakini selalu didasarkan pada dua hal penting, murah hati dan rendah hati. 

Mana ada karya sastra yang lebih hebat dari karya sastra yang ditulis berdasarkan ucapan dan keteladanan Tuhan sendiri? Ya, mana ada, kata Kasidi sambil tersenyum gembira, sebuah senyum yang ternyata nantinya disalah-artikan oleh sang dosen. Kasidi no. 137 - 087853451949 -- SDA24032018