Mohon tunggu...
Trian Ferianto
Trian Ferianto Mohon Tunggu... Blogger

Menulis untuk Bahagia. Penikmat buku, kopi, dan kehidupan. Senang hidup nomaden: saat ini sudah tinggal di 7 kota, merapah di 5 negara. Running my blog at pinterim.com | Executive Editor di BirokratMenulis.org

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Tak Ada yang Mengelak Romantisme Patroli Sahur Saat Anak-anak

19 April 2021   11:41 Diperbarui: 19 April 2021   12:01 321 9 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tak Ada yang Mengelak Romantisme Patroli Sahur Saat Anak-anak
Aktivitas patroli sahur yang rutin diadakan anak-anak selama ramadan. | Dok: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Ramadan artinya bersenang-senang di malam hari, tidur di siang hari! Hehe...

Diawali dari melaksanakan buka puasa, salat tarawih, dan tadarus alquran bersama-sama di masjid hingga larut malam. Biasanya disambung dengan tidur bermalam di masjid karena beberapa jam menjelang subuh nanti sudah siap tugas baru: patroli keliling kampung sambil memukuli ini itu untuk membangunkan warga.

Entah mengapa, memori masa kecil saya terkait ramadan adalah kegembiraan, alih-alih sebuah momen berlapar-lapar di siang hari.

Saya masih 'menangi' kondisi sebulan libur sekolah penuh saat ramadan. Artinya sebulan itu benar-benar terbebas dari kewajiban-kewajiban persiapan pergi ke sekolah dan segala macam pekerjaan rumah. Bapak Ibu pun tampak agak longgar membebaskan saya menikmati ramadan. Dengan syarat siangnya ikut berpuasa, dan malamnya ikut tarawih hingga tadarus. Selebihnya bonus untuk saat bermain sepuasnya.

Kami biasanya melaksanakan buka puasa di rumah masing-masing. Nah, keseruan pertama bermula saat salat tarawih. Di sinilah momen semua anak-anak di kampung berkumpul, mulai dari yang memang bawaannya iseng, hingga yang bawaannya anak baik-baik.

Yang anak baik-baik biasanya mereka akan sigap mengambil tempat salat saat iqamat berkumandang. Yang anak agak begajulan, main-main mereka berlanjut mulai dari azan hingga di akhir pelaksanaan salat witir.

Barisan badung ini biasa menempati saf paling belakang. Beragam keusilan hingga keonaran biasanya terjadi di sini. Mulai dari saling smack down, berkejar-kejaran, hingga mengusili barisan anak baik-baik dengan menjentik 'biji' kemaluan jamaah barisan depannya yang sedang sujud. Hehe...

Saya termasuk yang sering jadi korban. Kalau sudah begini, rasanya ngilu-ngilu gimana gitu.

Selepas tarawih, saya lanjut tadarus alquran di masjid. Yang melakukan aktivitas ini adalah ustad mengaji kami, anak-anak santri mengaji yang sudah lewat mengaji lima juz awal alquran besar (sebutan kami untuk alquran, level selanjutnya dari belajar mengaji yang sebelumnya memakai alquran kecil --- yang sekarang dinamakan iqro'), dan penduduk kampung yang sudah dewasa.

Lelaku tadarus alquran semasa kecil ini buat saya terasa istimewa karena di sinilah secara tidak langsung kami jadikan ajang pembuktian skill mengaji yang sehari-hari kami pelajari selembar demi selembar setiap hari. Biasanya tidak sembarang murid berani untuk gabung dengan orang dewasa mendarus bersama. Karena kalau masih grogi dan banyak salahnya, malu juga sebab langsung disiarkan melalui toa masjid.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN