Mohon tunggu...
Trian Ferianto
Trian Ferianto Mohon Tunggu... Blogger

Menulis untuk Bahagia. Penikmat buku, kopi, dan kehidupan. Senang hidup nomaden: saat ini sudah tinggal di 7 kota, merapah di 5 negara. Running my blog at pinterim.com

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Jangan Berharap "Gundala" seperti Serial Marvel

29 Agustus 2019   16:56 Diperbarui: 1 September 2019   23:56 0 14 1 Mohon Tunggu...
Jangan Berharap "Gundala" seperti Serial Marvel
Tokoh Gundala yang diperankan oleh Abimana Aryasatya. Sumber: Instagram/Joko Anwar

Benar belaka, jika Anda berharap Gundala akan mengekor serial superhero Hollywood Marvel, maka bisa jadi kita kecewa sebab Gundala adalah sebenar-benarnya Patriot Negeri Ini.

Joko Anwar sukses menghadirkan Gundala sebagai pintu masuk hadirnya jagoan-jagoan lokal dengan tetap mempertahankan nuansa 'Indonesia banget'. Hampir tidak ada kesan bahwa Gundala ini 'meniru-niru' Hollywood. 

Hal ini pantas jika menyimak pernyataan Joko Anwar saat konferensi pers filmnya bulan lalu yang memberikan pantangan bagi para pemain dan kru untuk menonton film lain sebagai referensi saat syuting Gundala. Buat saya, nyaris semua bagian tampak natural khas Indonesia, kecuali satu hal yang nanti akan saya ceritakan di belakang.

Sebagaimana diakui Joko Anwar, film inilah yang paling sulit proses penulisan ceritanya jika dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Butuh waktu tujuh bulan untuk merampungkan cerita dan menghidupkan kembali Gundala di tengah masyarakat modern berdasarkan tokoh komik yang dibuat tahun 60-an.

Hasilnya? Seluruh alur cerita tampak masuk akal dan hidup. Logika penonton seperti tetap dihargai dengan menyuguhkan cerita-cerita yang memang bisa saja terjadi di sekitar kita.

Kekuatan utama film Gundala ini adalah pada cerita dan screenplay khas Joko Anwar sebagaimana di film-film karya sebelumnya. Jika ekspektasi Anda menonton dengan membawa 'kenangan Superhero Hollywood' yang penuh dengan laga pertarungan sengit serta efek CGI menakjubkan, tidak akan Anda temukan di sini.

Saya menilai justru di bagian pertarungan, kemampuan Joko Anwar tidak sehebat Gareth Evans. Saya sendiri merasakan nuansa yang hambar justru saat adegan perkelahian Sancaka (tokoh yang menjadi Gundala) dengan para musuhnya, tidak semenggelinjang saat menonton perkelahian sengit di film The Raids. Meskipun demikian, adegan ini masih cukup layak untuk dinikmati.

Untuk urusan Computer-Generated Imagery (CGI), saya kira Joko Anwar bermain cukup 'aman' untuk tidak mengumbar efek-efek CGI yang tidak perlu. Entah karena kemampuan budget yang tidak seleluasa Superhero Hollywood, atau memang akan jadi merusak cerita dan nuansa Indonesia yang dibangun Joko Anwar jika terlalu banyak efek-efek bombastis seperti film Rafathar.

Saya khawatir, jika efek CGI ini dipaksa terlalu banyak, nuansa 'sinetron Indosiar' ala burung elangnya akan terasa. Untungnya tidak.

Menikmati Karya Anak Negeri | Dok. pribadi
Menikmati Karya Anak Negeri | Dok. pribadi
Cerita yang dibangun Joko Anwar juga sangat menarik, tidak datar begitu saja. Jalinan cerita dan fenomena yang disuguhkan pun dekat dengan permasalahan kita dan negeri ini sehari-hari seperti hoaks, korupsi, perselingkuhan pejabat dengan para mafia dan preman, serta ketidakadilan yang menyiksa rakyat kecil.

Joko Anwar berhasil menyuguhkan 'kehidupan' kita sehari-hari dalam film Gundala yang serba tidak bisa dijustifikasi dan dinilai dengan mudah. Setiap karakter yang muncul seperti pernah kita dengar dan ketahui di sekitar kita. Bahkan guyonan, "sepreman-premannya lelaki, pasti takut istri" juga muncul di film ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x