Tria Cahya Puspita
Tria Cahya Puspita lainnya

Katakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Lihat, dengar dan rasakan...menulis dengan hati.\r\nBlog : http://tidakwajar.blogspot.com/ \r\n

Selanjutnya

Tutup

Regional

Mimpi Satu Kartu Untuk Semua Transaksi Pembayaran

27 Mei 2015   17:24 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:32 254 0 0
Mimpi Satu Kartu Untuk Semua Transaksi Pembayaran
14327219441873740885

Saya pernah memimpikan dapat membayar semua transaksi tanpa menggunakan uang tunai di mana saja di Indonesia. Hanya dengan satu kartu tipis di kantong dan tidak perlu membawa-bawa banyak uang tunai ke manapun pergi. Pembayaran hanya menggunakan sebuah kartu yang bisa digunakan untuk transaksi apapun di mana saja, seperti halnya di Hongkong dan Singapura.


Beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2012, saya berkunjung ke Hongkong untuk melarikan diri dari kepenatan pikiran. Bermodalkan kenekatan dan membaca tentang Hongkong di dunia maya, saya berangkat untuk liburan seorang diri. Awalnya banyak kekhawatiran dalam diri, terutama soal uang. Bukan karena uang saya pas-pasan. Tapi kekhawatiran membawa uang tunai ketika pergi sendirian keliling Hongkong. Maklum saya tidak mengetahui dengan pasti keamanan di Hongkong, meskipun di beberapa web mengatakan Hongkong tempat yang aman. Tetap saja saya harus waspada dan berjaga-jaga.


Hasil penelusuran saya menyebutkan bahwa di Hongkong ada kartu serbaguna yang bisa digunakan untuk berbagai jenis pembayaran di retail, transportasi, pembayaran online, vending machines/self service kiosk, fasilitas umum, rumah sakit, sekolah, serta fasilitas hiburan seperti taman bermain, bioskop, fasilitas olahraga dan sebagainya. Kartu itu bernama Octopus. Memang ada beberapa jenis kartu lain yang sejenis. Namun kartu serbaguna yang popular di masyarakat Hongkong adalah Octopus.



Saya membeli kartu tersebut di Bandara untuk keperluan membayar transportasi MTR menuju hotel. Bingung juga saat pertama kali menggunakan kartu tersebut. Saya memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang menuju ke stasiun MTR bandara hanya tinggal menempelkan (tap) kartu saat hendak melewati mesin yang berjejer. Di mesin tersebut akan menyala hijau dan bisa dilewati setelah men-tap kartu. Oh...semudah itu, pikir saya. Saya pun men-tap kartu di mesin, melewatinya, dan masuk ke MTR yang nyaman. Keluar dari stasiun, saya hanya perlu men-tap sekali lagi. Mesin akan secara otomatis menghitung biaya dan mengurangi nominal kartu sesuai jarak tempuh. Tidak memerlukan petugas yang menagih karcis ataupun uang layaknya "kenek" di angkutan umum. Sangat praktis dan cepat.


Ketika bertemu dengan Tira, teman SMP yang bekerja di Hongkong, dia meminta saya untuk selalu mengantongi kartu tersebut ke manapun saya hendak pergi. Rupanya karena kartu tersebut benar-benar diterima di manapun, rata-rata orang Hongkong selalu menaruhnya di saku. Ok, saya akan membuktikan kesaktian kartu ini. Benarkah seperti yang saya baca dan seperti info teman saya?


Selain menggunakannya di transportasi massal seperti MTR dan tram, kartu tersebut ternyata memang bisa digunakan pula untuk berbelanja di mart seperti 7 eleven dan foodcourt di mall. Penggunaan mata uang dollar Hongkong biasanya masih menggunakan sen, sehingga dengan adanya Octopus cukup membantu. Tidak perlu menunggu uang kembalian terutama dengan uang receh yang banyak. Tidak memberatkan kantong ataupun tas. Wah...menyenangkan!


Suatu ketika saya baru menyadari bahwa dana di kartu sudah tidak cukup untuk biaya naik MTR. Karena belum terlalu percaya betapa saktinya Octopus, saya hanya mengisinya dengan sedikit uang. Celingukan mencari tahu dimana bisa mengisinya, saya melihat antrean beberapa orang pada mesin layaknya mesin ATM. Penasaran, saya pun menuju ke sana. Ternyata mesin ini bisa untuk melakukan top up kartu. Emm...seperti orang udik, lama saya terdiam di depan mesin hahaha... Membaca terlebih dahulu cara pengisiannya. Setelah yakin, saya menyiapkan sejumlah uang yang akan diisikan ke kartu. Untunglah, selain ada petunjuk tertulis, ada pula suara dari mesin yang menginformasikan langkah-langkah untuk top up. Benar-benar efisien! Selain di mesin, ternyata pengisian ulang dapat dilakukan di loket stasiun ataupun di retail macam 7 eleven. Hmm...benar-benar memudahkan orang.


Saat itu saya memimpikan, seandainya saja di Indonesia bisa seperti ini. Satu kartu untuk semua transaksi pembayaran di mana pun.


Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) di Indonesia


Untunglah...impian tersebut sekarang mulai terwujud. Meskipun masih jauh dari impian saya, setidaknya pembayaran non tunai menggunakan kartu serbaguna di Indonesia telah dimulai.


Bank Indonesia selaku Bank Sentral Republik Indonesia kini tengah gencar mendengungkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Bank Indonesia mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai pada tanggal 14 Agustus 2014 yang ditandai dengan penandatanganan MOU antara BI dan 4 instansi, yaitu Kementrian Keuangan, Kemenko Perekonomian, APPSI (Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia), dan Pemda DKI Jakarta. Selain itu Bank Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk men-sosialisasikannya, antara lain bekerjasama dengan Kompasiana menyelenggarakan Jelajah Non Tunai Nangkring di lima kota (Surabaya, Ambon, Aceh, Banjarmasin, dan Makasar).


GNNT menurut BI adalah gerakan nasional mendorong masyarakat menggunakan sistem pembayaran dan instrumen pembayaran non tunai dalam melakukan transaksi pembayaran. Data dari BI menunjukkan bahwa negara tetangga kita, Singapura, 44,5 % telah melakukan transaksi ritel dengan pembayaran non tunai. Jelas, karena seperti hal-nya Hongkong yang memiliki Octopus, Singapura memiliki Ez-Link yang cukup dikenal dan banyak digunakan penduduknya. Sementara Indonesia, hanya 0,6% saja yang bertransaksi ritel dengan pembayaran non tunai.


Mengapa BI merasa perlu untuk melakukan GNNT ini? Karena transaksi pembayaran non tunai memiliki banyak manfaat, di antaranya :





  • Praktis : tidak perlu membawa banyak uang tunai, higienis
  • Akses lebih luas : meningkatkan akses masyarakat ke dalam sistem pembayaran
  • Transparansi transaksi : membantu usaha pencegahan dan identifikasi kejahatan kriminal
  • Efisiensi rupiah : menekan biaya pengelolaan uang rupiah dan cash handling
  • Less friction economy : meningkatkan sirkulasi uang dalam perekonomian
  • Perencanaan ekonomi lebih akurat : transaksi tercatat secara lebih lengkap sehingga perencanaan lebih akurat



Layanan pembayaran non tunai sendiri terbagi 2 yaitu yang diselenggarakan oleh BI dan diselenggarakan oleh industri. BI menyelenggarakan transaksi seperti RTGS (Real Time Gross Settlement), SSSS (Scripless Securities Settlement System), dan SKNBI (Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia). Sedangkan industri sebagai PTD (Penyelenggara Transfer Dana), menyelenggarakan APMK (Alat Pembayaran Menggunakan Kartu), dan menyelenggarakan uang elektronik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini.





Sumber : Bank Indonesia



APMK seperti kartu ATM, kartu debit, dan kartu kredit sudah cukup dikenal oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Sedangkan uang elektronik, belum banyak diketahui penggunaannya. Lalu, uang eletronik (e-money) itu apa?


Uang Elektronik (E-Money)


Dalam Peraturan Bank Indonesia No.16/8/PBI/2014 tanggal 8 April 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia No.11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik, definisi dari uang elektronik adalah alat pembayaran yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :





  • Diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu kepada penerbit
  • Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media atau chip
  • Digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut
  • Nilai uang elektronik yang dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam uandang-undang yang mengatur perbankan




1432721990165173142
1432721990165173142
Flazz Gramedia dari BCA dan Brizzi dari BRI (GambarĀ oleh Tria CP)



Uang elektronik (e-money) baru dapat kita gunakan apabila kita telah mengisinya terlebih dulu dengan sejumlah uang. Karena karakteristik dari uang elektronik umumnya transaksi dengan nominal kecil, frekuensinya sering, digunakan secara massal, dan transaksinya cepat, maka BI membatasi nominal pengisian pada kartu. Maksimal pengisiannya sebesar Rp1 juta untuk yang tidak terdaftar (unregistered) dan Rp5 juta untuk data pemegang/pemilik yang terdaftar dan tercatat pada penerbit kartu (registered). Batas nilai transaksi uang elektronik dalam satu bulan maksimal Rp20 juta untuk transaksi yang bersifat incoming seperti setoran awal, top up, transfer dana masuk, dan sebagainya (Surat Edaran BI No.16/11/DKSP tanggal 22 Juli 2014 tentang Penyelenggaraan Uang Elektronik). Uang elektronik yang terdaftar biasanya berbentuk aplikasi pada smartphone, sedangkan yang tidak teregistrasi biasanya berbentuk kartu.


Bagaimana kalau kartu e-money hilang dan digunakan oleh orang lain?


Kartu e-money sendiri tidak seperti kartu kredit ataupun kartu debit yang memiliki pengaman seperti PIN dan tanda tangan pemegang/pemilik. Kartu e-money dapat digunakan oleh siapapun seperti layaknya uang tunai. Ibaratnya seperti uang yang berbentuk kartu. Jadi kalau hilang, maka hilang pula uangnya. Jangan sampai salah duga yaa... Pihak penerbit tidak akan mengganti besarnya uang yang terisi pada kartu tersebut, sebab tidak teregistrasi.


Uang elektronik yang ada di Indonesia saat ini adalah T-Cash dari Telkomsel, Dompetku dari Indosat, XL Tunai dari XL Axiata, Delima dari Telkom, Jakcard dari Bank DKI, Mega Cash dari Bank Mega, Rekening Ponsel dari CIMB Niaga, BBM Money dari Bank Permata, Tap Cash dari BNI, E-Money dan E-Toll dari Bank Mandiri, Brizzi dari BRI, Flazz dari BCA, Finpay dari Finnet, Skye Mobile Money dari Skye Sab, Doku dari Nusa Inti Arta, Mynt dari Artajasa, dan sebagainya.


Yah, setidaknya mimpi saya sudah mulai terwujud, meskipun banyaknya jenis e-money yang diterbitkan menurut saya cukup merepotkan dan membingungkan. Pasalnya untuk beberapa transaksi tertentu, harus menggunakan e-money dari penerbit tertentu pula. Hal ini disebabkan penerbit belum banyak melakukan kerjasama dengan berbagai pihak.


Saya berharap ke depannya mimpi saya dapat terpenuhi seutuhnya. Akan ada beberapa penerbit unggul yang dapat melakukan kerjasama dengan berbagai macam pembayaran jasa maupun barang di Indonesia. Cukup hanya dengan sebuah kartu e-money yang berlaku untuk segala macam transaksi pembayaran. Akankah mimpi saya terwujud?