Toto Karyanto
Toto Karyanto Wiraswasta

Orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Agenda Konferensi Ekonomi Kreatif Bali ke PBB 2019- Bagian Pertama

9 November 2018   01:26 Diperbarui: 9 November 2018   11:16 293 1 0
Agenda Konferensi Ekonomi Kreatif Bali ke  PBB 2019- Bagian Pertama
Ilustrasi foto @bekraf

Pada Kongres Ekonomi Kreatif Dunia 2018 di Bali, Indonesia selaku tuan rumah mencatat sukses besar dengan kesepakatan yang dituangkan dalam 21 poin  Agenda Bali yang akan dibawa ke pertemuan PBB tahun depan. 

Selain itu menjadikan Dubai, Uni Emirat Arab, sebagai tuan rumah WCCE 2020 selaku pengaju proposal yang paling awal. Dan seperti yang telah dipaparkan pada tulisan sebelumnya, Konferensi yang telah menjadi merek Indonesia ini menghasilkan banyak gagasan yang menguatkan keyakinan bahwa ekonomi kreatif akan menjadi tulang punggung perekonomian negara-negara pesertanya. Paling tidak, Indonesia telah menunjukkan bukti-bukti kongkrit bahwa sektor ini sesuai dengan rerangka berpikir SDG's (Sustainable Development Goals). 

Dalam sesi pemaparan, Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjelaskan kepada para peserta Kongres tentang sumbangan sektor ekonomi kreatif terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia mencapai angka 7,8% dan menunjukkan kecenderungan meningkat dari waktu ke waktu. 

Hal ini menumbuhkan keyakinan bahwa ekonomi kreatif akan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Perkembangan positif nampak dari besarnya minat generasi milenial pada kegiatan tersebut. 

Sementara itu, Kepala Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) Triawan Munaf, Agenda Bali merupakan aspirasi dan refleksi pentingnya ekonomi kreatif terhadap perekonomian global. Kolaborasi sangat diperlukan untuk mendukung penguatan ekosistem ekonomi kreatif. 

Pusat Unggulan Ekonomi Kreatif yang disepakati berada di Indonesia berfungsi sebagai serambi pelaku ekonomi kreatif dari seluruh dunia guna menghubungkan gagasan, sumber daya, informasi, dan konsep-konsep bisnis, antara lain di sektor musik, kuliner, aplikasi digital dan lain-lain.

Banyak hal positif yang muncul di dalam dan sekitar Konferensi Ekonomi Kreatif Dunia yang pertama kali diselenggarakan ini. Semua menaruh harapan besar agar perhelatan yang diikuti 36 negara peserta dan ratusan pelaku ekonomi dari berbagai sektor terus berkembang dalam semangat gotong royong (kolaborasi dan kolektifitas). Menuju era industri 4.0 dengan usaha-usaha kongkrit menggapai tujuan-tujuan pembangunan yang berkelanjutan. 

Pada sesi pertama, ada 7 dari 21 poin penting Agenda Bali yaitu:

  1. Mempromosikan komitmen politik internasional yang lebih kuat untuk mengatasi tantangan dan merebut peluang Ekonomi Kreatif;
  2. Mempromosikan keterlibatan organisasi internasional yang relevan termasuk tetapi tidak terbatas pada PBB, WIPO, WTO, IDB, ASEAN serta organisasi internasional dan regional lainnya untuk mengatasi tantangan Ekonomi Kreatif;
  3. Mendukung dan mengembangkan lingkungan yang mendukung dan memudahkan untuk mengakomodasi pertumbuhan pasar lokal dan internasional dan merek lokal di sektor kreatif;
  4. Berkomitmen untuk memperkuat peran pemerintah, sektor swasta, media, masyarakat sipil,business council, dan akademisi dalam Ekonomi Kreatif;
  5. Memperhatikan hasil Preparatoy Meeting Pertama dan Kedua World Conference of Creative Economysebagaimana terlampir;
  6. Menyambut inisiatif Indonesia untuk menetapkan, pada saat yang tepat, pusat virtual dan/atau fisik yang mempromosikan pertukaran, kolaborasi, dan kerja sama internasional dalam bidang Ekonomi Kreatif di Indonesia yang akan membantu kemajuan tujuan Ekonomi Kreatif di tingkat global dan pencapaian Sustainable Development Goals;
  7. Melakukan berbagai kegiatan untuk memfasilitasi usaha dan proyek baru, seperti studi kelayakan, untuk mendorong kolaborasi start-up di tingkat nasional dan internasional;

Perhelatan akbar WCCE yang menghasilkan Agenda Bali bukan sekadar acara tunggal : ekonomi kreatif. Ada pesan-pesan keindonesiaan yang dinyatakan secara jelas dan gamblang seperti nampak pada poin-poin di atas. Namun ada juga yang dihadirkan dengan rasa semisal penggunaan kata kunci : kolaborasi yang identik dengan makna semangat gotong royong. Dan pesan perubahan dari pemain menjadi pemimpin. 

Jika ditelusuri dari berbagai sumber berita seputar penyelenggaraan WCCE baik yang ada di dalam maupun luar arena, selain mengangkat tema besar Inclusively Creative. Bali yang sudah dikenal di seantero jagat raya sebagai ikon pariwisata, terselip pesan keindonesiaan lain yakni kebhinneka tunggalikaan. 

Singkat kata, keberhasilan Indonesia mengerucutkan gagasan dan isu-isu SDG's lewat ekonomi kreatif adalah kepiawaian para diplomatnya. Kang Emil dengan BCCF -nya atau mungkin saja Livy Zheng dengan Blitar-nya. Kekuatan diplomasi budaya Triawan Munaf selaku pemuka Bekraf dan  juga seniman musik berpadu dengan kepiawaian Retno Marsudi serta Sri Mulyani Indrawati pada bidang masing-masing telah dibuktikan dari perubahan peran atau posisi Indonesia.  

Sumber : Utama, Inspirasi