Mohon tunggu...
Toto Karyanto
Toto Karyanto Mohon Tunggu... Bukan yang banyak pasti baik, tapi yang baik pastilah yang banyak.

Orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mencari Jawaban Kegelisahan

27 Oktober 2018   04:41 Diperbarui: 27 Oktober 2018   10:51 0 4 1 Mohon Tunggu...
Mencari Jawaban Kegelisahan
Ilustrasi foto @koalisiseni.or.id

Sejak tidak aktif di dunia maya sekitar empat tahun lalu, saya cenderung menutup diri dari segala bentuk hiruk pikuknya dunia yang terekam di internet. Bukan untuk bertapa, mencari keheningan dari desah nafas sendiri dan nyanyi dedaunan yang menari dalam buaian semilir angin. Tidak juga untuk menggapai barisan awan di batas cakrawala. 

Seperti cerita perjalanan, jeda itu untuk introspeksi. Mencoba kembali kenali diri tanpa prasangka apapun. Biar semua mengalir ikuti alurnya. Dan rehat kecil itupun harus berakhir oleh panggilan yang tak dapat ditolak atau dimungkiri. Bahasa hati dan bisikan nurani. 

Pengalaman mengajarkan agar tidak bersitegang dengan dialektika. Sang guru kehidupan senantiasa berwasiat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.  Tak perlu baper atau narsis. Biasa saja buat sendiri. Karena yang luar biasa ada porsinya. 

***

Asal muasalnya tak begitu jelas, saat membuka pagi itu ada hasrat yang begitu kuat untuk membuka aplikasi media sosial berwarna biru laut. Para teman yang saya kenal sebagai pegiat seni dan budaya tengah meramaikan linimasa dengan beragam komentar bernada sumbang atas kehadiran jabang bayi molek nan lucu.  

Sang jabang bayi itu diberi nama indah. KSBN, kependekan dari Komite Seni Budaya Nasional. Konon, kelahirannya atas panggilan jiwa keindonesiaan seorang prajurit dan amanat Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Setelah mencoba tahu inti masalah yang jadi bahan "bincang panas" di media sosial itu, saya menyela dengan menulis status di linimasa teman. "Saya bukan seniman atau budayawan" tanpa embel-embel. Ternyata tulisan itu diteruskan entah kemana, akhirnya muncul jawaban yang cukup mengejutkan dari seorang pegiat seni teater yang juga petinggi di kepengurusan DKD. Intinya, jika tak ada yang mau mengaku, biarkan dirinya menyatakan sebagai seniman dan budayawan. Atas jawaban itu, saya menguatkan asa untuk mencari sumber-sumber informasi di dua dunia: nyata dan maya.

Di dunia nyata, saya berbincang dengan seniman lukis yang menggagas kedai makan bernuansa Pulau Dewata, Suryanto. Ia pula yang menggagas dan konsisten memelihara kehidupan di rumah budaya Kauman. Mbah Surya Menggala, panggilan lain dari seniman itu, tidak terlalu risau dengan kelahiran bayi molek nan lucu itu.

Bahkan, seolah tak peduli, ia justru banyak mengungkapkan gagasan "gila"menjadikan tanah kelahiran dan tempat usahanya sebagai ikon budaya yang diminati para turis mancanegara. Nah..tanpa menunggu lama saya sodorkan ponsel pada satu artikel di sini. Beberapa saat kemudian ia  nampak tersenyum dan mengangguk. Ini jembatan untuk menghadirkan ekosistem.

Perbincangan di dunia maya, terutama di media sosial,  acapkali menghadirkan suasana seperti ilustrasi di atas. Pendekar pembenci yang tak segan melukai diri untuk sesuatu yang tidak manfaat. Apalagi di ranah budaya dan dilakukan (dengan sengaja) tergopoh-gopoh.

Membangun manusia berkarakter bukan perkara formalitas. Banyak hal yang tak mampu dijangkau oleh akal sehat semata. Apalagi untuk meletakkan dasar berpijak yang kuat bagi kejayaan masa depan. Kemandirian yang dilakukan secara berkelompok sebagaimana ihtiar komunitas jauh lebih efektif jika dibanding perdebatan yang kontra produktif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2