Topik Irawan
Topik Irawan Team Marking RDC 2 Tambun

Hanya buruh biasa bukan siapa siapa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengenang Abah Tubagus Encep, Kesahajaan Seorang Pengajar yang Suka Ngeblog

12 Juli 2018   09:56 Diperbarui: 12 Juli 2018   09:55 244 0 2
Mengenang Abah Tubagus Encep, Kesahajaan Seorang Pengajar yang Suka Ngeblog
                                                       Abah Tubagus Encep Saat acara Bukber Kompasiana-Bank Indonesia (dokpri)

Tak terasa air mata jatuh satu satu saat mendengar kabar duka cita ini, membuka facebook dan membaca postingan Kompasianer Traveler Mbak Tamita Wibisono pada tanggal 10 Juli lalu, luruh air mata dan beranjak ke tempat sepi, tak ingin teman kerja tahu bahwa hari itu sebenarnya kesedihan begitu menyentak. Abah Tubagus Encep berpulang selama lamanya. Masih terkenang saat postingan terakhir beliau mengunggah video saat bernyanyi "Suci Dalam Debu" nya Iklim.

Abah bernyanyi dengan mik warna keemasan dan saat beliau bernyanyi dari arah belakang seorang bocah ikutan tampil di video dengan membawa boneka dengan ukuran besar. Tak menyangka memang itulah postingan terakhir Abah, di akun Twitter pun Kompasiana menciutkan meninggalnya Abah dengan di sertai beberapa karya Abah TE begitulah saya memanggilnya.

Mengenal Abah saat nangkring acara Kompasiana di Kementerian Keuangan yang membahas tentang beasiswa LPDP, gaya yang mudah di kenali adalah ikat kepala yang Abah kenakan dan sama persis dengan poto profilnya di Kompasiana. Dengan logat Sunda yang kental kami pun mengobrol akrab seakan sudah lama saling mengenal. Tak terhitung berapa kali saya dan Abah bertemu dalam acara Kompasiana. Abah termasuk Kompasianer yang humble, rendah hati dan mau berbagi ilmu. Tak segan Abah meng inbox saya dan menasehati cara menyajikan tulisan agar enak di baca.

Penempatan tanda baca, dan pemilihan paragraf agar tak membuat mata pembaca nggak nyaman salah satu saran Abah yang selalu saya ingat, dan ini suatu hal yang luar biasa karena Abah tak segan membagi pengalamannya ketika menulis. 

Ketika saya masih newbie banget di Kompasiana, Abah sudah biasa memenangkan blog competition. Bahkan Abah pernah memenangkan hadiah motor matic saat Kompasiana mengadakan lomba blog yang di adakan Kompasiana dengan salah satu merk motor, karya Abah pernah di terbitkan pada harian Kompas dalam rubrik Flazz.

Kepergiannya yang mendadak membuat sejumlah teman media sosial Facebook mengucapkan bela sungkawa. Namun dalam beberapa tahun terakhir Abah TE sudah jarang mengikuti acara acara Kompasiana. Kesibukan beliau di Madrasah Aliyah Turus sebagai kepala sekolah mungkin membuat Abah rehat dalam kegiatan Kompasiana. Abah Tubagus Encep bukan saja pendidik bagi murid murid nya, namun saya merasakan sentuhan 'ajaran' Abah TE bagaimana meramu kata kata menjadi tulisan yang bisa membuat pembaca mengerti dari makna tulisan yang kita buat.

Kompasiana telah mempertemukan saya dengan Abah Tubagus Encep, seorang Kompasianer yang murah hati, seorang Kompasianer yang telah menjuarai beberapa blog competition dengan titel jawara. Kepergiannya di tangisi para teman teman sesama Kompasianer. Kenangan tentang Abah akan selalu hidup dan jujur saja saya pun sedih dengan wafatnya beliau. Selamat jalan Abah Tubagus Encep semoga ALLAH SWT melapangkan kubur beliau dan di terima iman Islamnya, aminn.