Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Pengamat dan Praktisi

Mengalirdiakunketiga05092020

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bercermin dari Lelucon Singkatan SD, Sekolah Dihapus atau Sekolah Duduk

23 April 2021   11:06 Diperbarui: 23 April 2021   11:24 257 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bercermin dari Lelucon Singkatan SD, Sekolah Dihapus atau Sekolah Duduk
Sumber: Kompas.com


Mustahil di dalam cermin tersenyum, bila saat bercermin menangis. (Supartono JW.23042021)

Tepat di Hari Kartini, Rabu, 21 April 2021, ada peristiwa yang bila ditarik lebih dalam ke hati dan pikiran kita masing-masing, tentu akan ada satu pilihan kata yang mewakili hati dan pikiran kita masing-masing. Satu kata itu bisa saja miris atau sedih atau prihatin dan atau-atau yang lainnya.

Singkatan SD, cermin pendidikan kita

Bagaimana tidak, anak-anak yang usianya masuk duduk di Sekolah Dasar (SD), ternyata tidak bisa menyebut singkatan SD dengan benar dalam konten di medsos yang viral dan tranding topic. Meski, banyak yang berpikir konten yang mengungkap gambaran pendidikan nyata di Indonesia ini hanya untuk hiburan, candaan, bahan tertawaan hingga settingan hanya untuk menarik viewers, saat kita tertawa melihat tontonan itu, pasti setelahnya kita berpikir, hancur benar pendidikan di Indonesia, bila itu tak settingan. 

Tapi terlepas adanya tuduhan settingan, masyarakat sendiri dapat menjawab fakta bahwa kejadian semacam itu ada dan nyata tidak di Indonesia?

Pasalnya, saat kita semua berpikir tentang Kartini, tentu akan teringat tentang Kartini yang terkungkung atau terkekang, namun tetap berupaya dapat berkomunikasi dengan dunia luar dengan cara membaca dan menulis surat. Dengan membaca dan menulis surat, maka Kartini pun terus mendapat asupan informasi dan pengetahuan dari luar dari jawaban-jawaban surat yang ditulisnya. Artinya, hanya dengan membaca dan menulis surat yang isinya di antaranya menulis tentang keadaan dirinya, Kartini mendapat jawaban atas permasalahan yang dihadapai pada masa itu, dan akhirnya menemukan jawaban, dia harus berbuat apa.

Setelah 57 tahun Hari Kartini di peringati di Indonesia, ternyata di saat semua rakyat Indonesia tahu bahwa pendidikan di Indonesia terus terpuruk dan tertinggal bahkan di kawasan Asia Tenggara, lalu ditambah dengan hadirnya pandemi Covid-19, yang membuat Kegiatan Belajar  Mengajar (KBM) tatap muka di sekolah terhenti, ada pihak yang kembali membukakan mata pada kita semua, bahwa pendidikan di Indonesia tambah memprihatinkan.

Dari pondasi bermasalah, masyarakat berbaur

Ibarat bangunan rumah, anak usia SD itu sama dengan pondasi rumah. Bila pondasi rumah di seluruh Indonesia (baca: anak SD), tak terbuat dari adonan bahan pondasi yang benar, tak diproses dengan benar saat dibentuk menjadi pondasi, tidak mengikuti teori yang benar saat membentuk pondasi, dan ujungnya tak layak berposisi sebagai pondasi, maka bagaimana mungkin bangunan rumah di atasnya akan kuat.

Itulah mengapa Indonesia selalu mendapat peringkat rendah dalam survei kinerja siswa dari The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sesuai hasil survei Programme for International Student Assesment (PISA).

Pasalnya Kurikulum pendidikan dasar kita terus bermasalah. Karenanya, PISA yang melakukan survei evaluasi sistem pendidikan di dunia dan mengukur kinerja siswa kelas pendidikan menengah, yaitu membaca atau literasi, matematika, dan sains, untuk Indonesia selalu terpuruk. Sebab pondasinya, anak-anak SD di negeri kita diproses dan dibentuk tak sesuai harapan. Akibatnya, saat di pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), baru ketahuan, sesuai survei PISA.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x