Ekonomi

Mungkinkah Ekspor Indonesia Bisa Mendahului Tiga Negara Tetangga?

13 Maret 2018   15:58 Diperbarui: 13 Maret 2018   19:16 288 0 0
Mungkinkah Ekspor Indonesia Bisa Mendahului Tiga Negara Tetangga?
ekonomi.metrotvnews.com

Presiden Jokowi di awal tahun 2018 lalu menyoroti kinerja ekspor Indonesia yang menurutnya perlu diberi rapor merah.  Pasalnya menurut data yang dipegang Presiden, total ekspor negara tetangga (Thailand, Vietnam, Malaysia) ada di atas Indonesia. Bapak Presiden menyebut ekspor Indonesia pada 2017 mencapai US$ 145 miliar, kalah dengan Thailand yang mencapai US$ 231 miliar, Malaysia US$ 184 miliar, dan Vietnam yang mencapai US$ 160 miliar. Ini setali tiga uang dengan tim nasional sepakbola kita yang memang (selalu) masih kalah dengan tim dari ketiga negara tersebut.

Mari kita lihat apa saja yang menjadi produk unggulan ekspor ketiga negara tetangga tersebut.  Menurut data di International Trade Centre (www.intracen.org) tahun 2017, 10 (sepuluh besar) ekspor Indonesia ke dunia didominasi produk-produk palm oil dan minerba termasuk gas alam.  Hanya produk perhiasan/permata yang masuk dalam 10 besar produk yang diekspor Indonesia, serta udang, alas kaki, dan produk karet (termasuk ban kendaraan) yang ada di 15 (lima belas) besar. Sementara Thailand memiliki produk-produk elektronik, suku cadang kendaraan, pendingin udara yang nangkring di kelompok 10 (sepuluh) besarnya. Ekspor Malaysia didominasi peralatan dan suku cadang elektronik, Palm Oil dan gas alam, serta produk karet (sarung tangan dsb).  Vietnam bermain di perangkat telepon, selular dan suku cadangnya, mesin pemroses data, sepatu, dan kopi !. 

Dari sekilas gambaran diatas, Indonesia dan Malaysia masih mengambil porsi besar dari sumber daya alam sebagai andalannya, sementara Thailand dan Vietnam sudah asyik bermain di hasil industri elektronik dan permesinan. Dimana Singapura ?  Tidak usah dulu kita bandingkan, karena mereka seperti  berada di region lain, bukan di Asia Tenggara. Secara umum, negara tujuan ekspor negara-negara yang disebutkan di atas adalah sama, yaitu China, Amerika Serikat, Jepang, dan  ASEAN sendiri.

Kunci pertumbuhan ekonomi sebuah negara salah duanya yang paling berpengaruh adalah nilai ekspor dan investasi yang masuk.  Oleh sebab itu, warning dari Presiden Jokowi soal kinerja ekspor ini harus menjadi motivasi untuk bergerak dan bekerja maksimal untuk bersaing dengan para kompetitor Indonesia. Beberapa instansi diberi telunjuk dari Bapak Presiden untuk segera memperbaiki kinerjanya.  

Apakah kinerja ekspor hanya tanggung jawab satu atau dua instansi saja ?  jawabannya pasti tidak.  Seperti halnya tim sepakbola, seorang striker/penyerang sering sekali menjadi kambing hitam apabila timnya tidak bisa mencetak gol dan kemudian kalah. Kemenangan dan kekalahan sebuah tim ditentukan oleh kerjasama seluruh unsur, pada saat pra bertanding, saat bertanding, pasca bertanding, dan melibatkan seluruh unsur tim sepakbola yaitu, kompetisi lokal/nasional, regulasi, staf pelatih, pihak manajemen, sponsor, tim analis, pencari bakat, pembinaan pemain muda, dan sebagainya.

Meningkatkan ekspor berarti kita harus lebih efektif dan efisien dari para kompetitor untuk produk-produk yang sejenis. Selain itu, Indonesia harus punya produk unggulan yang lebih spesifik, bukan hanya mengandalkan sumber daya alam saja. Produk hasil pertanian dan industri perikanan memiliki modal dasar yang kuat secara lokal, ini layak dipersiapkan menjadi produk unggulan.   

Palm Oil sebagai produk ekspor terbesar Indonesia ke pasar dunia tengah mengalami kampanye negatif yang pada intinya dilakukan karena persoalan persaingan. Satu sisi kita menangkal kampanye negatif tersebut, sisi-sisi yang lain harus terus mencari terobosan melalui diversifikasi produk, pasar ekspor baru, dan metode pemasaran yang tepat dan fokus untuk produk-produk Indonesia. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap kinerja ekspor seperti pemulihan ekonomi global, perbaikan harga komoditas di pasar internasional dan kemampuan menangani dispute dalam wadah World Trade Organization (WTO) yang bermarkas di Jenewa. Swiss.

Ekspor dapat terjadi jika ada permintaan dari pihak di negara lain (importir).  Biasanya seorang/pihak importir akan merealisasikan pembeliannya ketika ia menganggap produk dan harganya cocok.  Artinya, produk tersebut sudah memiliki standar yang ditetapkan negaranya dan memiliki margin harga yang menguntungkan sampai ditingkat konsumen. Importir ketika mencari produk sudah pasti mengetahui bahwa produk tersebut dibutuhkan di negaranya. Jadi yang menjadi kata kunci disini adalah produk (dengan standarnya), dan harga

Kalau kita berbicara di latar belakang produk, banyak sekali pihak yang terlibat di negara eksportir. Disana akan dibicarakan soal bahan baku, SDM dan tenaga kerja, isu lingkungan, keberlanjutan, teknologi, metode teknologi yang dipakai, produk asli atau bukan, isu subsidi, industrinya, bahkan Hak Asasi Manusia.  Sementara untuk harga, selain ditentukan oleh efektifitas dan efesiensi di negara eksportir, komponen harga ditentukan juga di negara penerima barang (importir). 

Harga akan ditentukan  juga oleh pajak impor, atau pajak-pajak lain yang memang diterapkan negara setempat (negara pengimpor), termasuk ongkos-ongkos cukai, transportasi dan distribusi sampai ke tingkat konsumen. Jadi ketika orang menganggap ekspor hanya ditentukan oleh produk saja, maka jalan masih panjang dan berliku untuk sampai kepada transaksi di ujungnya.

Untuk menyiasati banyaknya ongkos yang mempengaruhi tingkat daya saing, banyak negara melakukan perjanjian-perjanjian perdagangan bebas dengan negara lainnya. Perjanjian perdagangan ini dilakukan secara bilateral (antar dua negara saja) atau multilateral (banyak negara di kawasan tertentu).  Ketika dua buah negara sudah menandatangani perjanjian perdagangan, maka faktor-faktor yang mempengaruhi harga akan jauh ditekan.  Misalnya, dengan adanya perjanjian perdagangan maka pajak impor untuk produk yang disepakati yang semula katakanlah 20% menjadi turun atau bahkan menjadi 0%.  Coba saja dibayangkan, ketika Indonesia harus bersaing dengan Malaysia untuk ekspor produk yang sama ke negara X. 

Negara X sudah punya perjanjian perdagangan dengan Malaysia yang sepakat untuk menerapkan 0% untuk tarif impor produk yang disepakati, sementara Indonesia belum punya perjanjian dagang dengan negara X tersebut, maka produk kita akan dikenakan tarif impor sebesar 20%.  Bagaimana caranya untuk menghilangkan ongkos 20% tersebut dari komponen produksi ? Pasti importir negara X akan memilih produk yang lebih murah (dengan asumsi kualitas produknya relatif sama).

Marketer-marketer Indonesia di  manca negara (Atase Perdagangan dan Indonesian Trade and Promotion Centre/ITPC) bertugas menginformasikan 5W 1H terkait peluang pasar di  negara akreditasinya serta memasarkan dan mempromosikan produk Indonesia disana. 

Dalam proses pekerjaannya, mereka tidak bisa mencari dan mengolah bola sendiri, mereka bergantung kepada pemain-pemain lain agar mendapatkan momen menendang dan menyundul bola masuk ke gawang lawan. Persoalan ekspor adalah persoalan tim, dalam sepakbola bermain secara tim sangat penting, walaupun ada pemain sepakbola yang mampu membawa dan men-dribble bola sendirian dari lapangan sendiri ke wilayah lawan lalu mencetak gol.  Pemain seperti itu hanya muncul sekali dalam 25 -- 50 tahun, seperti dilakukan Diego Maradonna   ke gawang Peter Shilton, Inggris di Piala Dunia 1986, dan solo run Lionel Messi ke gawang Getafe di Liga Spanyol pada tahun 2011. So, mau menunggu munculnya Messi baru atau kerja secara tim ?