Mohon tunggu...
TOMY PERUCHO
TOMY PERUCHO Mohon Tunggu... Praktisi Perbankan, berkeluarga dan memiliki 2 orang anak.
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Agama : Islam. Pengalaman kerja : 1994-2020 di Perbankan. Aktif menulis di dalam perusahaan dan aktif mengajar (trainer di internal perusahaan) dan di kampus.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mari Belajar Bertukar Tempat

10 Juli 2020   12:00 Diperbarui: 10 Juli 2020   12:07 23 1 0 Mohon Tunggu...

Suatu pagi ketika akan memasuki lift di kantor ... "Pagi Pak. "mm!" (ekspresi tanpa senyum dan tanpa melihat kepada pemberi salam) demikian tanggapan salah seorang pimpinan di perusahaan tersebut. 

Di bagian lain, Ssst3x...eh3x...kamu! Maaf, Ibu memanggil saya? Iya kamu! Tolong ini difoto-copy ya cepetan! Dalam hati si OB saya kan punya nama kok ibu itu pake ssst3x.... Coba kalo dia dipanggil ssst3x mau ngga ya...

Dalam sebuah obrolan antar rekan kerja, ternyata kedua peristiwa tersebut menjadi topik perbincangan...waah sayang ya... orang itu pimpinan, tetapi kok sikapnya seperti itu ya, dan lain-lain.

Kejadian lain di rumah "ya udah ya! Tut! Bunyi telepon ditutup. "Lhoo...kok terima teleponnya seperti itu? bagaimana rasanya kalo kita sebagai orang yang menerima telepon tadi.. pasti ngga enak dengernya ya. Lain kali kalo kita bertelepon dengan orang lain, kalo belum bisa atau malas untuk beramah-ramah setidaknya proper ya, nak". Ucapkan salam ketika memulai pembicaraan dan menutupnya dengan mengucapkan salam dan terima kasih. Demikian nasehat seorang ayah kepada putra kecilnya.

Menghargai dan menghormati orang lain merupakan hal kecil dan terlihat sepele di zaman modern ini, namun ternyata tidak mudah untuk melakukannya. Kedua hal tersebut sering didengung-dengungkan bahkan dijadikan nilai2 inti di banyak perusahaan, namun seringkali berakhir menjadi slogan kosong. 

Menghargai dan menghormati orang lain merupakan pendidikan dasar yang hanya akan efektif bila diperoleh dan dicontohkan melalui keteladanan perbuatan bukan sekedar kata2 atau indoktrinasi, tidak bisa sekedar melalui pendidikan formal. Keduanya merupakan salah satu fondasi utama dari pembentukan karakter seseorang dan merupakan bagian dari akhlak budi pekerti. 

Dan pelajaran mengenai bagaimana menghargai dan menghormati orang lain berawal dari pendidikan yang ditanamkan oleh orang tua di dalam keluarga. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak-anak dan guru pertama bagi mereka adalah para orang tua mereka. Figur2 teladan lainnya bagi mereka adalah guru-guru di sekolah. Lantas bagaimana dengan kita di tempat kerja?

Status sosial, latar belakang dan tingkat pendidikan tidaklah selalu berbanding lurus dengan sikap dan perilaku serta akhlak budi pekerti seseorang. Seseorang dihargai dan dihormati bukan karena atribut dan materi yang dimiliki, namun lebih kepada penanaman yang baik, sikap dan perilaku orang tersebut dalam bermasyarakat. 

Masyarakat Jepang sangat menghargai dan menghormati tokoh-tokoh mereka bukan karena kesuksesan mereka membangun kedua perusahaan2 besar Jepang menjadi perusahaan raksasa kelas dunia, tetapi lebih pada kerja keras dan bagaimana mereka membangun karakter orang2 yang ada di dalam perusahaan mereka.

Bagaimana seharusnya kita bersikap untuk dapat menghargai dan menghormati orang lain? Cara sederhana yang mungkin dapat kita gunakan adalah cobalah berpikir "bertukar tempat". 

Sebelum kita bersikap, bertindak dan berperilaku, pikirkan juga apa yang akan kita rasakan bila kita berada pada posisi orang tersebut. Bila kita ingin dihormati dan dihargai, maka datangnya harus dari diri kita lebih dahulu, yaitu menanamkan sikap dan perilaku yang baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x