Mohon tunggu...
Tommy TRD
Tommy TRD Mohon Tunggu... Just a Writer...

Jumpa juga di @tommytrd

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Not Welcome, but Welcome Home!

13 Maret 2020   17:25 Diperbarui: 13 Maret 2020   17:18 22 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Not Welcome, but Welcome Home!
Foto : dokumen pribadi

Assalamualaikum...
Hallo, jumpa lagi pada tulisan kali ini.

Sebuah kejadian yang sudah agak lama sebenarnya. Mungkin hampir 1 bulan yang lalu, ketika saya menerima sebuah chat atau komentar atas sebuah postingan di media sosial dari seorang teman lama. Yang lebih kurang mengucapkan selamat datang di dunia usaha. Juga ikut teriring beberapa pesan, bahwa bisnis atau dunia usaha memiliki roller coaster nya sendiri. Kadang naik kadang turun. Bahkan kadang ada penipuan. Semacam itu lah. Sebuah pesan yang tentu bagus untuk saya simak baik-baik.

Ternyata memang sudah selama itu saya meninggalkan dunia "hitung-hitungan nominal", sehingga saya pun mendapatkan ucapan selamat datang. Dunia yang mengelilingi saya dengan intens sejak mulai lahir sampai saya berusia 22 tahun. Baru ketika berusia 22 tahun saya secara efektif sedikit berpindah dunia. Karena sejak usia itu saya mengenakan seragam corps kuning khaki. Dan berlanjut sampai usia saya saat ini, yang akan menginjak 34 tahun beberapa bulan lagi, alias sudah hampir 12 tahun saya menggunakan seragam itu.

Sebagian besar lingkungan saya memang mengenal saya sebagai PNS. Karena mereka mengenal saya mungkin dari usia akhir belasan atau awal dua puluhan. Jadi memang mereka melihat saya dari sudut pandang apa yang mereka lihat. Namun jika dihitung, saya hidup lebih lama di dunia dagang itu dibanding dunia saya yang lain.

Saya menikmati sarapan pagi di hotel termewah di Kota Padang saat itu, Pangeran Beach. Saya sarapan menggunakan celemek, pisau garpu yang biasanya hanya saya lihat di film-film. Menu sarapannya toast dengan telur mata sapi bersih yang kuningnya akan meleleh ketika dipotong. Ayah saya akan menikmati kopi dan rokok dunhill nya sambil membaca koran. Setelah selesai baru saya menuju sekolah dasar saya. Itu agenda setiap hari !!! hanya menu sarapan saja yang beberapa kali saya ganti.

Pada usia awal belasan, bisnis Ayah saya tidak dalam kondisi yang biasa. Maka rutinitas kami pun bergeser dari Pangeran Beach, ke bubur kampiun Terandam yang legendaris itu. Saat itu per porsinya hanya sekitar 5 ribuan. Kami pun sarapan lebih cepat, karena memang sulit untuk berlama-lama di sana. Antrian pembelinya banyak.

Satu hal yang saya petik dari perubahan itu adalah, Ayah saya seorang pengusaha tulen. Dia tahu resiko profesinya, "when it rains, you get wet". Namun yang paling penting adalah, tempat sarapan anda tidak menjadikan siapa anda. Karena kami berdua tetap menikmati hidup yang berjalan ketika itu. Tidak peduli apa yang ada di hadapan kami adalah sebuah hidangan dengan tingkat keindahan mendekati art dengan garnishnya, atau bubur campur yang bentuknya tak beraturan dan tentu saja tidak membutuhkan pisau seperti di film-film itu. Ayah saya tetap berbicara dan tertawa seperti biasa. Tak peduli kami duduk di sebuah sofa empuk atau bangku papan.  

Suatu waktu lebih parah lagi. Rumah tempat berteduh nyaris disita bank. Pada saat itu, jika hal itu terjadi maka no way out. Karena tidak ada lagi rumah di kota, maka kami akan pulang kampung dan mungkin berladang. Topi cowboy untuk menonton pacuan kuda Ayah saya akan berganti dengan caping.  Tapi kembali Allah SWT menunjukan belas kasihnya. Usaha untuk mendapatkan kembali sertifikat rumah itu, berhasil. Walaupun memakan waktu yang cukup panjang. But my father did it, so we still in town, until now.

Jadi dunia usaha itu ada roller coaster nya ? Tentu saja. Lagipula dunia mana yang tidak ? Dengan sekilas perjalanan hidup saya, welcome rasanya sedikit kurang pas. "Welcome Home !!!" sepertinya sedikit lebih tepat.


Sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya...

VIDEO PILIHAN