Thomas Jan Bernadus
Thomas Jan Bernadus blogger di bacirita.id dan tommi.id

blogger free lance

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

"Iklan Jokowi" di Bioskop, Apanya yang Salah?

14 September 2018   17:26 Diperbarui: 14 September 2018   18:21 800 1 0
"Iklan Jokowi" di Bioskop, Apanya yang Salah?
(mediaindonesia.com)

Sepekan terakhir ini, di media mainstream maupun media sosial, sedang ramai dibahas soal tayangan Iklan Kementrian Kominfo tentang pembangunan bendungan. Asal muasal perbincangan atau pembahasan ini, karena salah seorang pengguna media sosial yang seperti kesal dengan tayangan iklan ini.

Sejujurnya, saya sudah mengetahui iklan ini semenjak beberapa pekan lalu. Yang tayang sekarang ini adalah bendungan. Sebelum-sebelumnya ada iklan soal BBM satu harga dan pembangunan infrastruktur lainnya. Saya ketika melihat iklan ini, malah senang karena informasi seperti ini sudah tayang di bioskop, bukan di televisi lagi.

Ketika mulai ramai di media sosial, banyak yang mengatakan bahwa ini iklan Jokowi. Saya kemudian bingung. Lah kok disebut iklan Jokowi? Saya agak aneh saja sih kalau mengatakan ini iklan Jokowi. Iklannya bukan tentang Jokowi kok.

Saya berpikir, kalau ini iklannya Jokowi, Jokowi nantinya akan muncul terus di iklan ini. Dari awal hingga akhir. Di iklan soal bendungan ini, yang ditampilkan adalah pembangunan bendungan dan irigasi yang dilakukan oleh pemerintah dan membawa manfaat bagi masyarakat.

Jadi, sebenarnya iklan ini bukanlah Iklan Jokowi, tapi Iklan hasil pembangunan. Apa yang salah sih sebenarnya? Bagi saya, ini nggak ada salahnya.

Iklan di bioskop juga, bukan hal yang baru. Kalau kita sering menonton di bioskop, bukan hanya teaser atau trailer film yang akan tayang saja yang disajikan. 5 tahun belakangan ini, banyak sekali iklan di Bioskop. Mulai dari iklan properti, aplikasi e-commerce dan bahkan iklan dari jejaring bioskopnya juga tayang. Apa (lagi) yang salah?

Dengan iklan yang tayang di bioskop, justru akan lebih tersampaikan. Saya tidak punya data jumlah penonton bioskop saat ini. Tapi, dengan angka yang mencapai jutaan penonton untuk satu film, ya iklan ini akan dilihat oleh jutaan pasang mata.

Penonton film, biasanya, sebelum film utama tayang, sudah berada di dalam bioskop. Berdasarkan pantauan saya, yang masuk ketika film utama tayang, tidak sampai satu persen dari penonton bioskop. Jadi placement di bioskop ini tidak ada yang salah, karena akan dilihat.

Ini mungkin akan lebih efektif dibandingkan dengan iklan di televisi. Kenapa? kalau iklan di televisi, biasanya penonton suka pindah channel. Jadi kemungkinan besar akan tidak terlihat.

Lagian, di televisi juga, buat apa memasang iklan kalau hasil-hasil pembangunan, atau upaya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah sudah menjadi bahan berita. Nggak perlu iklan lagi kan?

Di iklan ini juga, pak Jokowi hanya tampil sangat sebentar. Suara pak Jokowi juga mengisi iklan ini tidak lama. Hanya hitungan detik. Jadi mengapa harus dipersoalkan sih?

Tak ada yang salah kalau kita ingin menyampaikan informasi melalui iklan. Toh dalam iklan ini tidak ada ajakan untuk memilih Jokowi sebagai Presiden. Kenapa harus alergi?