Mohon tunggu...
Muhammad Fatkhurrozi
Muhammad Fatkhurrozi Mohon Tunggu... mengamati dengan hati

Pengamat politik

Selanjutnya

Tutup

Politik

Mencari Arah Bangsa

23 Oktober 2013   11:04 Diperbarui: 24 Juni 2015   06:08 0 0 1 Mohon Tunggu...

Suatu pandangan yang darinya terpancar aturan-aturan kehidupan, dapat kita sebut ideologi. Definisi ini yang kita sepakati dalam konteks tulisan ini. Kita mengenal ideologi Kapitalisme, yang dibangun dengan konsep pemisahan antara agama dengan kehidupan, dan ideologi Sosialisme, yang dibangun dari materialisme dialektika. Konsep-konsep tersebut adalah konsep yang mendasar mengenai kehidupan. Jawaban atas darimana kita berasal, apa tujuan hidup kita, dan akan kemana setelah hidup, inilah yang menjadi dasar munculnya sebuah ideologi. Negara-negara yang mengemban ideologi ekstrim tertentu tidaklah banyak. Uni Soviet mungkin dapat kita sebut sebagai negara sosialis, sedangkan Amerika adalah negara kapitalis. Kita tahu juga bagaimana kedua negara ini berseteru membentuk dua buah kutub kekuatan yang super power sejak akhir Perang Dunia ke-II. Dua negara ini dengan masing-masing ideologinya menunjukkan pada kita betapa kuat kontribusinya -terlepas dari positif atau negatifnya- pada sejarah dunia di akhir abad 20. Namun Soviet tidak dapat mengimbangi perang dingin ini dan akhirnya runtuh di akhir 90-an yang dapat kita sebut juga sebagai tumbangnya sosialisme. Sedangkan kapitalisme yang diemban Amerika saat ini pun telah menunjukkan gelagat keruntuhannya dengan badai krisis yang sudah berulang-ulang terjadi sejak era Perang Dunia. Kita menyebut apa yang menjadi falsafah bangsa Indonesia adalah Pancasila. Banyak yang menyebut bahwa inilah ideologi bangsa Indonesia. Namun kita kadang kurang menyadari, bahwa Pancasila masih sekedar gagasan-gagasan filosofis. Dalam keberjalanan sejarah bangsa, Pancasila tidak mampu melahirkan aturan yang "khas", sehingga sering ditarik-tarik ke arah ideologi yang diemban oleh rezim tertentu. Di era Soekarno yang pro-Soviet, Pancasila lebih ditarik ke arah sosialis-komunis, kapitalis pada era Orde Baru, dan kapitalis-liberal pada era reformasi. Ini membuat kita sadar bahwa Pancasila membutuhkan pandangan mendasar untuk dapat dikatakan sebagai sebuah pemikiran yang menghasilkan peraturan. Point-point yang terdapat dalam Pancasila memang kita rasa sebagai sesuatu yang ideal. Konsep spiritualitas dalam kehidupan bernegara, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, kesejahteraan, dan keadilan sosial dan sebagainya memang konsep yang jelas dirasa cocok bagi bangsa yang dikatakan sangat majemuk ini. Namun kita juga harus menyadari, bahwa gagasan-gagasan yang ada dalam Pancasila ternyata juga adalah kondisi ideal yang ingin dicapai oleh ideologi tertentu (untuk Sosialisme minus ide ketuhanan). Adanya Amerika sebagai negara pengemban kapitalis tentu ingin mewujudkan keadilan bersama, kemanusiaan, persatuan, dan kesejahteraan. Begitu pula dengan Sosialisme. Dari sini kita dapat mengerti mengapa bahwa ideologi Kapitalisme dan Sosialisme adalah pandangan mendasar yang dapat membuahkan peraturan tertentu, sedangkan Pancasila masih dalam gagasan filosofis.

Inilah mengapa arah bangsa yang katanya harus berdasar Pancasila ini selalu tidak pernah ada wujud tetapnya. Bagi kalangan aktivis Islam, Pancasila dapat dikatakan konsep yang dapat diwujudkan dengan ideologi Islam. Kalangan nasionalis menyadari harus ada jiwa Pancasila pada diri setiap masyarakat. Tak jarang pula ada yang mengaku sebagai Islam yang nasionalis yang mengkompromikan negara Indonesia Pancasila yang ber-syariah. Parameter bangsa yang berjalan ke arah yang benar bagi setiap warganya pun bisa jadi berbeda-beda.

Tentu ini berbeda dengan negara yang mengemban ideologi ekstrim. Penguasa Uni Soviet sepakat bahwa bangsa yang berjalan di jalan yang benar adalah ketika negara selalu menguasai setiap kepemilikan, adanya persamaan hak antar warganya, dan parameter kemajuan bangsa adalah kemajuan materiil. Amerika sepakat bahwa kebebasan warganya adalah yang nomor satu dan parameternya adalah kemajuan materi. Meski perbedaan terjadi di kalangan petinggi negara, namun yang sebenarnya terjadi hanyalah perbedaan pendapat dalam hal cabang, bukan berbeda dalam pandangan hidup. Mungkin ini salah satu faktor kemajuan negara-negara pengemban ideologi ekstrim. Peradaban yang jauh luar biasa juga dapat kita lihat pada kekhilafahan Islam dengan ideologi Islamnya.

Akhirnya kita menyadari bahwa bangsa ini masih mencari identitasnya. Pancasila sebagai jiwa nasional yang dirancang sedemikian sempurna oleh founding fathers kita ternyata masih belum cukup untuk menjadi gagasan yang mendasar sebagai arah gerak bangsa. Ini membuat kita mengerti mengapa di banyak kalangan masih belum terlihat “jiwa” Pancasila. Seorang tukang becak yang tidak hafal sila empat dan lima, supir truk yang bahkan tidak pernah mendengar UUD empat lima, dan mahasiswa yang sibuk dengan Dota memang fenomena biasa. Sedangkan negeri yang tidak tahu harus kemana ini kini mungkin bisa sedikit berbangga dengan prestasi tim sepakbolanya yang segera mendunia.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x