Mohon tunggu...
b
b Mohon Tunggu... Kompasianer

Terimakasih buat teman teman yang sudah membaca, vote, dan memberi komentar.Semoga banyak rezekinya ya

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Tak Punya Jokowi, Alasan Demokrat SBY, AHY, Moeldoko "Mati Perlahan"

8 Maret 2021   11:18 Diperbarui: 8 Maret 2021   12:00 473 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tak Punya Jokowi, Alasan Demokrat SBY, AHY, Moeldoko "Mati Perlahan"
Sumber: pikiran rakyat.com

Kalau kita, lihat kejayaan yang membawa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan naik bukanlah Megawati. Megawati dan PDIP bahkan selalu gigit jari dan diasapi oleh Susilo Bambang Yudhoyono dan Partai Demokrat. Kalau kita lihat polanya maka kejayaan sebuah partai sangat bergantung pada sosok dan ketokohan. Partai tidak pernah berjaya atas dirinya sendiri.

Selalu ada tokoh yang mengerek suara partai tersebut ke atas. Sebab partai adalah sebuah lembaga yang terlalu abstrak untuk diidolakan masyarakat. Partai tidak punya sentimen pribadi untuk dicintai. Lain halnya dengan sosok.

Sosok adalah pribadi yang dapat dicintai. Sosok hidup, sosok bergerak, sosok punya pesona yang memikat. Maka Berharap sebuah partai bangkit tanpa menyandarkan pada Kharisma seorang tokoh adalah upaya yang sia-sia. Bukankah itu yang terjadi pada partai Demokrat, partai Demokrat bangkit karena pesona Susilo Bambang Yudhoyono.

Itu juga yang terjadi pada PDIP. Partai berlambang banteng tersebut bangkit karena kehadiran Joko Widodo. Tanpa kehadiran Jokowi mungkin saat ini kita belum melihat PDIP menjadi partai yang berkuasa. Dampak Jokowi tidak main-main bagi PDIP. Secara legislatif suara PDIP pun melonjak drastis.

Sehingga PDIP bisa menguasai kursi eksekutif dan juga legislatif. Maka mengherankan juga melihat kader partai Demokrat bertengkar dan mengupayakan Moeldoko menjadi ketua umum partai Demokrat. Sebab antara Agus Harimurti Yudhoyono dan Moeldoko sama-sama tidak memiliki Pesona untuk memenangkan pilpres di tahun 2024.

Maka jika kongres luar biasa memilih Moeldoko sebagai ketua umum menargetkan pilpres di tahun 2024, tentu adalah sebuah langkah yang tidak realistis. Namun jika tujuannya memperbaiki posisi partai saya setuju. Misalnya saja selama ini di bawah kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono Partai Demokrat tidak berprogres.

Sikap politiknya juga tidak jelas, dibilang koalisi tidak dibilang oposisi tanggung. Mungkin para kader yang membelot merasa gerah dengan sikap Agus Harimurti Yudhoyono yang tidak jelas. sehingga para kader yang kritis menganggap langkah-langkah Agus Harimurti Yudhoyono adalah sebuah kerugian dari hari ke hari yang dialami Partai Demokrat.

Kalau tujuannya untuk memperbaiki arah partai maka kongres luar biasa dapat dimaklumkan. Mungkin para kader yang membelot berharap, dengan terpilihnya Moeldoko Partai Demokrat dapat merapat pada pemerintah dan secara perlahan memperoleh kembali kepercayaan di masyarakat.

Setidaknya jika sudah berkoalisi dengan pemerintah jatah menteri sudah terjamin didapat. Minimal satu dua kursi dapatlah. Nampaknya para kader partai Demokrat yang membelot dan menyelenggarakan Kongres luar biasa juga menyadari hal ini.

Maka tampaknya tujuan kongres luar biasa dan memilih Moeldoko ini untuk memperbaiki Strategi politik Partai Demokrat yang abu-abu. Para kader yang membelot menyadari bahwa Moeldoko tidak memiliki Kharisma selevel dengan Joko Widodo. Namun bagaimanapun kongres luar biasa dilaksanakan karena mungkin aspirasi kader selama ini tidak pernah didengar.

Terbukti saat pilpres di tahun 2019, di saat banyak kader partai Demokrat memilih bergabung dengan Joko Widodo, tapi Partai Demokrat malah memutuskan mendukung Prabowo Subianto dan sandiaga Uno. Tampaknya kongres Luar biasa ini adalah puncak dari tersumbatnya aspirasi kader pada tampuk kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono.

VIDEO PILIHAN