Mohon tunggu...
b
b Mohon Tunggu... Kompasianer

Terimakasih buat teman teman yang sudah mrmbaca, vote, dan memberi komentar.Semoga banyak rezekinya ya

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Pada Akhirnya Standar Sukses Semua Orang Akan Sama

20 Mei 2020   15:27 Diperbarui: 20 Mei 2020   15:35 97 10 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pada Akhirnya Standar Sukses Semua Orang Akan Sama
Ilustrasi Pixabay

Karena bantuan facebook, saya dengan teman SMP dan teman SMA dapat terhubung kembali.Setelah sekian tahun berpisah akhirnya kami dapat kembali berkomunikasi untuk sekedar menanyakan kabar.Saya jadi ingat ungkapan batak yang berbunyi,"Salpu do sude haposoanni."Artinya kurang lebih,"Lenyaplah masa-masa muda itu."Saya ingat banget dulu kami punya impian jadi orang yang paling sukses dibandingkan teman sekelas yang lain.Selain karena cinta saya ditolak, hal itulah yang membuat saya merantau ke kota Bandung ini..hahaha..

Dulu cita-cita saya jadi anak band, tapi saya tidak menemukan pergaulan yang mendukung, makanya impian itu tidak kesampaian.Jadi saat masih sekolah dulu dan lulus saya bisa melihat bahwa setiap teman ingin jadi yang paling berhasil.Itu kenapa ada yang kuliahnya jauh dari tempat asalnya.Semakin jauh kuliahnya, semakin dia terasa paling sukses.Ada yang kuliah di Bandung, Medan, Yogyakarta dll.Jadi kalau pulang kampung serasa kegantengan dan kecantikan bertambah, sudah jadi anak kota.Sedangkan mereka yang setelah lulus SMA menetap di kampung dan memutuskan untuk bekerja, itu kayak paling ketinggalan.

Ya iyalah, kerja di kampung apa sih? Kalau di Pekanbaru dulu, kebetulan dua jam dari kota, pekerjaan yang tersedia itu ya di kebun kelapa sawit milik PT.Ada yang jadi tukang bongkar pupuk, mendodos (memanen buah sawit), mamiringi (membersihkan tepian kelapa sawit dari rumput), dan mar-PU (menimbun jalan yang berlobang pakai tanah lalu meminta uang pada kendaraan yang lewat).Memang begitu istilahnya disana.Saya gak tahu apa istilah nasionalnya untuk pekerjaan di atas.Kalaupun ada pekerjaan yang lain, ya gak akan jauh dari dunia kebun kepala sawit.Namanya juga di kampung.

Makanya teman yang bisa kuliah ke kota rasanya sudah paling sukses banget, paling terpelajar.Padahal gak semua mereka lulus, banyak juga yang kuliahnya gak bener, dan cuman menghabiskan duit orang tua.Ujung-ujungnya balik ke kampung dan ngurus kebun bapaknya.Sekarang sebagian dari mereka sudah ada yang menikah, punya anak, punya isteri dan hidup dengan keluarga kecilnya.

Berawal dari facebook lalu seorang teman membuat grup whatsapp, sehingga kami yang pernah seangkatan dapat terkumpul dalam satu grup.Mulailah timbul niatan untuk reuni, walau belum terlaksana karena berbagai alasan.Saya perhatikan facebook teman-teman saya itu, saya lihat foto dan postingannya, tak ada satupun yang pamer kesuksesan.Pamer naik mobil pribadi, pamer jabatan, pamer rumah atau pamer dia sekarang tinggal dimana.Kebanyakan membagikan foto bersama anak dan isterinya.

Saat bercakap-cakap di grup whatsapp pun seperti tidak ada yang ingin menonjolkan keberhasilannya.Kami hanya ngobrol tentang masa lalu dan bercerita sedikit tentang kondisi masing-masing.Hal ini menarik buat saya.Dulu dosen saya pernah bilang,"Nanti siapa diantara kalian yang gak datang reuni, kemungkinan besar dia yang gagal."Jadi maksud dosen saya gak datang reuni karena gak sukses, jadi malu.Tapi setelah saya pikir lagi, sepertinya dosen saya itu salah besar.

Dulu memang setiap orang punya ambisi yang besar, biar sukses lalu bisa dipamerkan.Tapi ternyata semakin dewasa manusia, semakin berubah makna sukses untuknya.Dalam grup whatsapp saya mulai bertanya dimana sekarang teman kita yang dari kelas satu selalu juara, ternyata dia kini sudah jadi dokter.Dimana sekarang teman kita yang dulu pacarnya si juara satu, ouh sudah jadi dosen.Dimana sekarang teman kita yang banyak gaya, ouh sudah jadi ini jadi itu.Dimana sekarang teman kita yang culun dan najis di mata para wanita? Ouh itu saya dan sekarang dia sudah keren dan siap untuk membalaskan dendam pada wanita yang telah menolaknya hahaha.Canda boy..

Tidak ada yang terintimidasi karena yang seorang jadi dokter yang seorang hanya penjaga toko.Tak ada pula yang ingat, siapa dulu yang paling gede bacotnya, apakah dia sekarang sukses? Tak ada pula yang merasa malu karena tidak jadi orang ternama.Semua ambisi itu hanyalah kenangan manis masa lalu yang sudah bergeser dengan hal baru.Setiap orang memungut apa yang dia anggap mutiara dalam perjalanan hidupnya.Cita-cita masa lalu digantikan dengan hasrat baru yang lebih membahagiakan.Kesuksesan menurut ukuran dunia, digantikan dengan hal yang paling intim dan bernilai.

Itu sebab saya menyimpulkan, bahwa pada akhirnya standar kesuksesan semua orang akan sama.Yaitu, orang akan mengukur kesuksesan hidupnya berdasarkan hidupnya sendiri.Ternyata kesuksesan sejati tak ditemukan dari hasil membandingkan diri dengan orang lain.Lagi pula apa sih arti sukses itu? Ternyata itu tidak terlalu penting karena tak ada orang lain yang perduli.Semua orang pada akhirnya akan hidup masing-masing dan tak punya waktu untuk menonton pencapaian orang lain.

Pada akhirnya pencapaian dari cita-cita akan jadi hal yang remeh.Itu sebab saya tak melihat seorangpun dari teman saya ingin menunjukkan kalau dia adalah yang paling sukses.Ada yang hanya jadi tukang kebun, tapi sering memposting foto anak isterinya, ada yang jadi guru dan sering posting foto anak didiknya, ada yang tak jelas jadi apa dan hobi posting fotonya lagi memancing.Semua itu bukan simbol kesuksesan, apa yang mereka bagikan adalah hal yang berharga dan punya nilai dalam hidup mereka.Pada akhirnya standar kesuksesan semua orang akan sama sekalipun berbeda pada prakteknya.

Kalau begitu, sebenarnya tak ada yang lebih sukses dari yang lain.Semua adalah orang sukses kalau dia merasa sukses.Karena standar sukses itu sama, kembali kepada masing-masing kita.Semoga tulisan singkat ini bermanfaat.

Penikmat yang bukan pakar

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x