TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI profesional

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Hidup Sudah Enak, Jangan Cari Susah Sendiri

22 April 2017   07:36 Diperbarui: 22 April 2017   08:06 521 11 7
Hidup Sudah Enak, Jangan Cari Susah Sendiri
foto : dok.pribadi


Merengguk cappucinno hangat di musim gugur yang lumayan dingin sungguh terasa amat nikmat. Apalagi sambil memandang keluar jendela kamar, di mana tampak puluhan burung kakak tua sedang bercanda ria hinggap  di dahan pohon  Eucalyptus yang tumbuh di seberang jalan perbukitan Mount Saint Thomas, tempat kami tinggal.

Ada rasa syukur yang menyeruak di relung  hati yang terdalam karena walaupun sudah lama berlalu, namun terkadang masih terasa bagaikan mimpi kami bisa tinggal di Australia. Apalagi membayangkan selama bertahun-tahun hidup menderita dan tinggal dipasar kumuh, berdampingan dengan tikus dan segala jenis binatang merayap.

foto : dok.pribadi
foto : dok.pribadi

Impian Terkabul, tapi Koq Malah Cari Susah Sendiri?

Setelah berusaha kerja keras akhirnya doa dikabulkan dan hidup berubah total. Tinggal dirumah yang lumayan, tidur di kasur empuk, mau makan apa saja ada. Tapi anehnya, setelah menikmati hidup enak malah sengaja menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk dapat merasakan hidup di bawah tenda, seperti gelandangan. Aneh tapi  nyata terjadi.

Baru-baru ini, kami ikut camping dan hal ini bukanlah pertama kalinya makanya kami tidak perlu mengulangi kisah perjalanan lama, karena hanya akan membosankan orang yang membacanya. Malah mungkin saja bisa membuat orang jadi mual, karena membaca cerita yang diulang-ulang bagaikan kaset rusak.

Mempersiapkan perangkat tenda, sleeping bag, alat masak memasak, kompor gas generator untuk menyalakan lampu bukan perkara mudah dan murah. Butuh biaya ratusan dollar untuk dapat memilikinya. Kendaraan dijejal sepenuh penuhnya dan para penumpang harus ikhlas berbagi tempat dengan tas berisi selimut dan pernak-pernik bahan yang akan dimasak di tempat camping.

foto : dok.pribadi
foto : dok.pribadi

Tiba Dilokasi

Setelah menempuh perjalanan selama berjam jam dan harus mengisi ulang BBM ditengah perjalanan, agar jangan sampai mogok diperdesaan. Melewati jalanan bergelombang yang membuat dashboard mobil tidak jarang bergesekan dengan gundukan tanah dan debu berterbangan bagaikan awan gelap. Akhirnya tiba di lokasi camping. Tidak ada hubungan dengan dunia luar. Tidak ada komunikasi, karena jaringan internet tidak ada sama sekali disini. HP tidak bisa berfungsi, kecuali hanya untuk mendengarkan musik.

Memasang tenda dan segala pernak-perniknya, juga bukan perkara mudah karena harus mencari lokasi yang aman. Malamnya, menyalakan api unggun agar tidak terlalu kedinginan. Kemudian membakar kentang yang dibungkus dengan kertas timah dan menjadi santapan malam ditemani kopi yang dipadu  dengan air yang direbus diatas api unggun.

Begitu api unggun mulai meredup dan kami masuk kedalam tenda dengan tubuh terasa menggigil karena udara berubah menjadi dingin.

foto : dok.pribadi
foto : dok.pribadi

Tengah Malam, Mau ke toilet?

Saking dinginnya udara, mana tidur di rerumputan dan beralaskan sleeping bag karena ingin merasakan gimana gelandangan tidur, tiba-tiba malamnya perut melilit dan kebelet mau ke toilet. Sedangkan di daerah ini, sama sekali tidak ada perumahaan atau Public Restroom. Rasanya malas benar mau keluar dari tenda, tapi perut tidak mau di ajak kompromi.

Akhirnya dengan terhuyung-huyung, saking ngantuk dan kedinginan, keluar tenda, mencari sekap untuk mengali tanah. Jadi bukan hanya kucing yang kalau kebelet harus gali lubang terlebih dulu, kali ini saya yang harus gali lubang. Dan hal ini tidak boleh dekat-dekat tenda, bisa didenda 1000 dolar. Karena aturannya, minimal 60 meter dari sungai agar air tidak tercemar.

60 meter tidak jauh kalau dilakukan dijalan datar, tapi masuk kehutan dan harus menginjak rumput basah serta sesekali terjebak masuk kedalam lubang sungguh bukan hal yang mudah. Akhirnya dapat lokasi strategis dibalik pohon besar. Mulai menggali dengan nafas tersenggal-senggal,

Selesai seremonial lubang harus ditutupi kembali dengan tanah untuk menghindari jangan sampai mencemarkan lingkungan. Selesai tugas, balik lagi ke tenda tapi menjelang paraksiang, eee kambuh lagi.

foto : dok.pribadi
foto : dok.pribadi

Mempersiapkan Lubang

Belajar dari pengalaman malam pertama, maka hari kedua saya sudah mempersiapkan lubang in case of emergency bagi kami berdua. Ternyata benar, tengah malam perut mulai lagi muter-muter, tapi karena mengingat sudah ada persiapan lubang bagi kami berdua, maka kami dengan penuh percaya diri berangkat menuju ke medan pertempuran tanpa membawa sekap hanya berbekalkan tissue dan air sebotol untuk bersih-bersih.

Tetapi setibanya di bawah pohon yang sudah saya tandai, ternyata kedua lubang sudah digunakan orang lain. Tega amat yang melakukannya. Akibatnya, kami harus balik lagi ke perkemahan untuk mengambil sekop dan balik lagi untuk menggali lubang.

Hal-hal seperti inilah yang masuk ke penerawangan saya pagi ini, yakni mengapa sudah hidup enak, tidur dikamar yang ada penghangat ruangan, ada kasur empuk, ada toilet, koq mau dengan sengaja bikin susah diri sendiri? Mungkin ada yang bisa bantu menjawab?Terima kasih

catatan: semua foto dokumentasi pribadi

Wollongong,22 April,2017

Tjiptadinata Effendi