Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Putus Hubungan Kekeluargaan Akibat Ketakutan Tertular Covid

22 Juli 2021   07:56 Diperbarui: 22 Juli 2021   08:06 136 13 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Putus Hubungan Kekeluargaan Akibat Ketakutan Tertular  Covid
kumparan-com-60f8c26f06310e58df24d104.jpg

Ilustrasi : kumparan.com

Ditulis Berdasarkan Kisah Nyata

Keluarga yang ditinggal pergi oleh salah seorang anggotanya akibat direnggut paksa oleh Covid, bagaikan orang yang sudah jatuh ditimpa besi beton. Seperti yang sudah disampaikan dalam artikel terdahulu, di antara sekian ribu orang yang kehilangan sanak saudara dan sahabat akibat di rebut paksa oleh Covid adalah merupakan pengalaman dari anak adik sepupu saya  dan anak dari sahabat baik saya. Tentu tidak etis bila saya sebutkan nama dan tempatnya.  Karena itu kita sebut saja namanya Neni yang kini terpaksa tinggal sendirian, tanpa siapa siapa di rumah orang tuanya alm.  Hampir setiap hari komunikasi dengan saya via WA "Om maafkan Neni ya, setiap hari merepotkan Om dengan keluh kesah " pesan Neni kemarin.

"Tidak apa apa Neni. Saya dan papa Neni almarhum, adalah satu kakek dan satu nenek. Jadi kita masih satu keluarga  Kalau lagi bingung dan  gelisah, Neni WA atau telpon Om ya. Kalau terlambat menjawab, berarti Om lagi nyetir." Jawab saya. 

Sejak dari kepergian papanya kerumah abadi, Neni bercerita betapa perih hatinya. Karena di saat pemakaman papanya, tak seorangpun kerabat yang datang melayat. Neni merasa hatinya sangat terluka, karena orang orang yang selama ini dihormati dan dihargainya, justru di saat ia membutuhkan dukungan moril tak seorangpun datang.  Hanya mengirimkan pesan WA, " Kami sekeluarga ikut berduka cita ya ,semoga papa diterima di surga." cuma itu saja dan tidak ada lagi lanjutannya.  "Percuma punya kerabat semacam itu Om. Kala papa lagi sukses, ramai-ramai setiap Sabtu datang bertandang ke rumah. Tapi di kala papa meninggal, tetiba mereka mendadak sibuk dan tidak bisa hadir. " 

Saya sudah mencoba menasihati Neni dengan berkata, "Neni, kita tidak boleh menghakimi orang karena boleh jadi di antara mereka ada anggota keluarganya yang juga sakit, sehingga tidak dapat datang melayat. " Tapi Neni membantah "Bukan Om, mereka takut datang, karena mengira papa meninggal mendadak akibat Covid. " 

Nah, tentu saja saya tidak  perlu berdebat dengan orang yang lagi sedih dan emosinonal. Terus WA berlanjut, "Biasanya Neni ada tempat bercerita dan mengadu, tapi sejak mama dan papa tidak ada, Neni tinggal sendirian di rumah. Rasanya bengong tidak tahu harus berbuat apa Om? Neni sudah menghapus semua nomor telpon sanak family, percuma punya family yang hanya mau datang kala kami tertawa dan saat menangis, Neni ditinggal sendirian".

Kita Tidak Mungkin Menanggung Beban Hidup Orang Lain

Walaupun Neni adalah anak dari saudara sepupu yang berarti masih dalam satu garis turunan,tapi tidak mungkin dapat menanggung beban hidup orang lain. Saya hanya dapat memberikan saran dan nasihat, tapi tidak bisa berbuat lebih dari itu. Ternyata apa yang dialami Neni, dialami juga oleh Fandi anak sahabat baik kami. Walaupun irama berbeda, tapi nada kemarahannya adalah sama, yakni "putus hubungan dengan sanak family" Dikarenakan saat mamanya meninggal, tidak satupun sanak keluarga yang mau datang melayat. 

"Ternyata ada manusia yang seperti ini ya Opa. Biasanya setiap bulan ada arisan keluarga  di rumah dan selalu ramai, setidaknya ada 20 orang yang hadir, tapi pada saat mama meninggal hingga dimakamkan, tak satupun kerabat mama yang datang, justru tetangga yang tidak ada hubungan kekeluargaan hadir semuanya."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x