Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Kebangkitan Nasional diawali dengan Kebangkitan Diri Sendiri

20 Mei 2015   07:39 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:48 212 14 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kebangkitan Nasional diawali dengan Kebangkitan Diri Sendiri
14320822551322575846





[caption id="attachment_384494" align="aligncenter" width="700" caption="kebangkitan,diawali dari diri sendiri/tjiptadinata effendi"][/caption]





Kebangkitan Nasional DiawaliDengan Kebangkitan Diri Sendiri

Semangat kebersamaaan,melalui kebangkitan nasional, untuk mengubah keadaan menuju kepada kondisi yang lebih baik,tentu saja merupakan harapan semua anak bangsa.Kita bangkit melawan :




  • Koruptor
  • Pembodohan masal
  • Ketidak adilan
  • Perbudakan terselubung
  • Penjajahan oleh bangsa sendiri
  • Diskriminasi
  • Rasialisme terselubung
  • Pemerasan penindasan oleh oknum berkuasa
  • Pemberitaaan yangsepihak
  • Dan seterusnya dan seterusnya

Namun, semuanya akan menjadi NOL besar, bila orang tidak mengawali dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin orang yang dalam hidupnya sendiri, menunjukkan prilaku yang tidak adail,arogan, tak berbelas kasih ,nol toleransi ,penindasan dalam keluarga , pelecehan terhadap orang bawahan ,yang disebut pembantu,babu atau jongos,ikut dalam gerakan Kebangkitan Nasional. Orang yang dalam kondisi tergolek dalam kenistaan, mustahil dapat berpotensi mengulurkan tangan kepada orang lain,untuk mengangkat harkat hidup mereka.

Sebagaimana halnya adalah mustahil orang yang dirinya berada dalam kegelapan, ingin membantu menerangi jalan hidup orang lain.Orang yang tidak mampu mengubah diri sendiri, tidak mungkin dapat mengubah keadaan.

Tolonglah Diri Sendiri, Sebelum Menolong Yang Lainnya

Kalau kita mau jujur pada diri sendiri (kita harus jujur pada diri)maka tidak jarang dalam kehidupan pribadi ,sadar atau tidak,kita ikut terbawa hanyut dalam arus kehidupan ,dalam aktivitas sehari harian




Kita berpacu dalam mencari rejeki, berpacu dalam menggali ilmu pengetahuan,berpacu mencari kekayaan ,popularitas diri,jabatan dan sebagainya. Begitu asyiknya ,sehingga kita lupa,apa sebenarnya yang kita cari didalam hidup ini? Apa makna kehidupan bagi kita? Kita lupa diri,bagaimana mungkin bisa peduli pada kehidupan orang lain?



Memahami arti kehidupan ,merupakan kalimat yang amat sederhana,tetapi sebenarnya cukup banyak orang yang tidak memahami makna dari kalimat tersebut. Selama saya dan istri berkelana dari Sabang sampai Merauke,selama kurun waktu hampir lima belas tahun,saya mencoba melakukan penelitian secara pribadi,terhadap ribuan orang,dari berbagai suku dan latar belakang budaya yang berbeda, ternyata lebih dari 80 persen ,mengaku tidak tahu apa arti yang sesungguhnya dari kehidupan.


Apa Makna Kehidupan Bagi Saya?
Pertanyaannya mudah:” Apa arti kehidupan buat saya pribadi?” ,tetapi mereka tidak dapat menjawab secara serta merta.Bahkan tidak sedikit diantaranya termenung ,memikirkan jawabannya, seolah olah pertanyaan tersebut baru pertama kali didengar dalam perjalanan hidup.
Sudah terlambatkah untuk memikirkannya? Never late to change. Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Kendatipun belajar untuk memahami diri sendiri.



Karena dengan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk belajar ,banyak hal yang akan dapat dicapai selama perjalanan hidup kita.



Meraih Kebangkitan Diri (Pencerahan)

Secara bebas,kata “pencerahan” dapat diartikan :” keluar dari kegelapan”,mengetahui dengan jelas, sesuatu yang tadinya tidak dipahami. Memahami ,mengapa manusia harus hidup berbagi? Memahami bahwa semua orang butuh uang, tetapi uang bukan segala galanya. Mencapai pencerahan diri ,bahkan mampu membuat orang, mengembalikan setumpuk uang,yang diberikan kepadanya,karena mengetahui bahwa ada banyak orang lain yang lebih membutuhkan . Yang mungkin bagi kebanyakan orang ,dianggap suatu :” kebodohan”

Dalam kondisi ekonomi yang morat marit, ternyata masih banyak orang yang jujur, Ada sopir taksi mengembalikan uang ratusan juta rupiah.ada pelayan toko yang mengembalikan dompet berisi 5000 dolar (pengalaman pribadi),tukang parkir mengembalikan tas berisi 100 juta rupiah dan banyak lagi yang lainnya.. Tindakan ini tidak akan dapat terwujud secara spontanitas,melainkan butuh penggodokan mental dan jiwa,untuk sampai pada tahap pencerahan tersebut.Orang tidak harus menyandang gelar sarjana untuk dapat meraih pencerahan diri.




Proses pembelajaran diri,akan menjadikan kita manusia yang semakin memahami karunia agung Sang Mahakarya dalam diri kita masing masing,dalam memaknai dan mengisi setiap sisi kehidupan kita. .Agar dapat dimanfaatkan ,tidak hanya untuk meningkatkan taraf kesadaran diri kita, tetapi tidak kalah pentingnya adalah membuka hati kita untuk peduli akan sesama kita, tanpa melihat suku,bangsa dan agama yang diimaninya.Sadar Diri


Agar Dapat Menyadarkan Orang lain
Dengan menapaki jenjang kesadaran jiwa,maka sebagai manusia,kita memiliki kekuatan dan kemampuan diri,untuk mematahkan belenggu diri yang kita ciptakan sendiri,melalui ke egoisme ,kemalasan serta kesombongan diri.



Sepotong kemampuan diri yang bernama intelektual,ternyata tidak ada apa apanya,bila dibandingkan dengan misteri kehidupan yang begitu multikomplit. Di mana rambu rambu batas kemampuan manusia,adalah sejauh mana pikirannya mengalir dan sejauh mana keyakinannya pada diri sendiri dan keyakinannya pada Sang Pencipta..



Oleh karena itu ,adalah sangat naif, bila segala sesuatu peristiwa hidup, dipertanyakan logikanya bagaimana? Seakan akan logika adalah segala galanya dalam kehidupan manusia. Padahal ada banyak kenyatan hidup yang tak terpungkiri,yang tidak dapat dihitung secara matematika atau dilogikakan.


Mencapai pencerahan atau kesadaran jiwa ,tentulah tidak semudah mengucapkannya. Perlu pemahaman yang mantap,penghayatan akan maknanya dan tekad untuk meraihnya. Mungkin saja harus melalui perjalanan panjang yang melelahkan ,sebelum mampu menembus tirai misteri kehidupan itu sendiri,yaitu memaknai hidup untuk menjadi manusia yang berguna ,tidak hanya bagi keluarga,tapi juga bagi orang lain.


Sebagai seorang manusia,kita diberikan kebebasan oleh Sang Pencipta, untuk memilih : menjadi manusia yang dikenang karena bermanfaat bagi orang lain, atau menjadi manusia yang dilupakan,karena kehadirannya di dunia ini tidak berarti apapun bagi sesama.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional.! Mari kita awali terlebih dulu dengan diri sendiri.

Hari Kebangkitan Nasional. 20 Mei. 2015

Tjiptadinata Effendi

VIDEO PILIHAN