Mohon tunggu...
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widarmanto Mohon Tunggu... Penulis dan praktisi pendidikan

Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Pendidikan terakhir S2 di bidang Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis dalam genre puisi, cerpen, artikel/esai/opini. Beberapa bukunya telah terbit. Buku puisinya "Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak" menjadi salah satu buku terbaik tk. nasional versi Hari Puisi Indonesia tahun 2016. Tinggal di Ngawi dan bisa dihubungi melalui email: cahyont@yahoo.co.id, WA 085643653271. No.Rek BCA Cabang Ngawi 7790121109, a.n.Tjahjono Widarmanto

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Slamet sebagai Tujuan Hidup Manusia Jawa

18 September 2020   21:10 Diperbarui: 18 September 2020   21:14 10 1 0 Mohon Tunggu...

Hidup di dunia dengan bahagia dan selamat pastilah menjadi cita-cita semua manusia. Demikian juga dengan wong Jawa memiliki tujuan hidup selamat yang disebutnya sebagai slamet. Wong Jawa merumuskankannya dengan istilah slamet widada nir sambikala

Filosofi dan tujuan hidup slamet mewarnai pada setiap pertemuan formal atau hajatan yang disampaikan oleh pranata acara (pembawa acara) yang disampaikan dengan kalimat rahayu ingkang sami pinanggih, widada nir sambikala

Kalimat ucapan tersebut dimaksudkan menyampaikan harapan untuk selamat dan terhindar dari bencana, aman, sehat, sentosa, bahagia, sejahtera di dunia dan akhirat, yang lazim disebut :slamet donya akherat.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, keselamatan adakalanya menghadapi berbagai gangguan. Gangguan-gangguan tersebut bisa muncul dan berasal dari diri sendiri, orang lain, alam semesta ataupun berasal dari hal-hal yang bersifat gaib (supranatural). Yang berasal dari diri sendiri utamanya muncul karena dorongan nafsu dan perilaku pribadi. Nafsu-nafsu dan perilaku buruk bisa menyebabkan seseorang tidak slamet. 

Gangguan keselamatan yang berasal dari orang lain, umumnya dipicu karena ketidakharmonisan hubungan pribadi dengan masyarakat yang menyebabkan perselisihan dan pertentangan yang pada akhirnya bermuara pada ketidak slametan. Sedangkan gangguan dari alam semesta yang berupa musibah dan berbagai bencana alam disebabkan karena ketelodoran manusia karena tidak menjaga kelestarian alam dan ekosistem. Adapun gangguan yang berasal dari hal-hal gaib, misalnya kerasukan, sakit yang bukan disebabkan medis, dan sebagainya.

Konsep slamet pada manusia Jawa mengarah untuk hidup yang selaras (harmoni) atau equilbrium (keseimbangan). Keseimbangan tersebut merupakan wujud keselamatan yang harus dicari. Wong Jawa memopulerkan dengan istilah golek dalan pepadhang atau mencari jalan terang. Upaya  golek dalan pepadhang ini diperoleh melalui pengendalian diri melalui moral, akhlak, etika, dan budi pekerti.

Untuk mencapai slamet setiap manusia Jawa menjalani berbagai laku, ritual yang sesuai dengan angger-angger (pedoman) dan wewaler (pantangan). Dengan demikian berarti mewujudkan keselamatan memerlukan sebuah kesadaran, pedoman, sistem sekaligus pengamalan. Berbagai lelaku, ritual, angger-angger dan wewaler tersebut merupakan sebuah upaya untuk mewujudkan laku utama yang mengarah pada keselarasan sehingga tidak berorientasi pada bener karepe dhewe namun benar untuk kepentingan kemashalatan.

Keinginan untuk slamet oleh manusia Jawa dimunculkan dalam tataran simbolik yang muncul pada tradisi slametan. Hampir dalam setiap peristiwa besar atau penting dalam fase kehidupan seperti kelahiran, pernikahan, kematian, mendirikan rumah, pindah rumah, panen dan sebagainya dimunculkan dalam simbolisasi tradisi slametan. Saat menjelang kelahiran bayi diadakan slametan brokohan, slametan jenang abang, slametan pupak puser, slametan weton, dan sebagainya dengan tujuan si jabang bayi selamat bahagia dan sejahtera hidupnya.

Sampai kematian pun, harapan untuk slamet (ingat konsep slamet adalah slamet donya akherat) bagi si mati juga diwujudkan dalam berbagai slametan. Mulai dari slametan ngesur tanah saat menggali liang lahat, slameten nelung dina, slametan ming dina, slametan matang puluh, slametan nyatus, dan hingga slameten nyewu.

Saat wong Jawa panen atau merayakan keberhasilan kerja, merekapun selalu menyertai rasa syukur dengan harapan untuk slamet melalui berbagai ritual. Misalnya, saat menjelang musim giling gula mereka mengadalkan slameten cembengan, slameten ngarak tebu manten. Saat mendirikan rumah mereka slametan bedah bumi, slametan ngunggahke molo (menaikkan bumbungan atap rumah) sampai slametan caos dhahar dewi Sri. Semua wujud ritual dan tradisi itu merupakan bentuk simbolisasi harapan untuk meraih keselamatan atau nggayuh keslametan.  

*) Penulis adalah esais dan sastrawan yang tinggal di Ngawi

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x