Tilaria Padika
Tilaria Padika Petani

Artikel sejarah - ekonomi - politik - sosial budaya Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Social Animals," Pledoi "Pelakor" dan Pasangannya

3 Juni 2018   16:50 Diperbarui: 3 Juni 2018   22:41 987 11 7
"Social Animals," Pledoi "Pelakor" dan Pasangannya
Social Animals. Tangkap layar. Dokpri

Saat ini, mak-mak di grup facebook Rumpies The Club, komunitas tukang bikin puisi dan cerpen Kompasiana itu sedang hangat mendiskusikan lagi soal pelakor. Semangat mereka adalah melihat dari sudut pandang pelaku. Jadi semacam ikhtiar kritis untuk mengenakan kacamata yang berbeda dari sudut arus utama yang nyinyir kepada pelaku.

Kepanjangan pelakor versi saya adalah Pecinta Laki Orang. Jadi tidak sesumbang Perebut Laki Orang, dan karena itu saya boleh pakai istilah pelakor ini. Om-Tante tak boleh pakai, bias gender soalnya. Yaiks. #SOBARI---trendingkan!--sok benar sendiri. Embeeeer!

Yang mak-mak Rumpies tidak tahu adalah pas 1 Juni 2018, Tante Theresa Bennett luncurkan secara video on demand film pertama yang disutradarainya, The Social Animals. Jangan keliru dengan film dokumenter berjudul serupa kepunyaan Om Blake Heal (produser) yang rilis Maret 2018. Juga tak ada sangkut paut dengan buku The Social Animal karya Om David Brooks yang sempat trending topic itu.

Jika dihitung masa pembuatannya, maka Tante Bennet sudah mendahului mak-mak Rumpies The Club dalam soal ide memandang pelakor dari sudut pandang berbeda.

Social Animals milik Tante Bennett bercerita tentang karakter utama perempuan, Zoe (diperankan aktris komedi Noel Wells) yang jatuh cinta kepada lelaki beristri, Paul (Josh Radnor).

Zoe adalah gadis--maksudnya belum menikah, bukan belum 'begituan'--30an tahun yang mengelola usaha salon waxing. Saya baru tahu dari film ini kalau wax ternyata bukan hanya mencabut rambut kaki tetapi juga rambut di bagian you know what.

Meski bergonta-ganti 'kawan cowok' dalam relasi one night stand, Zoe tidak pernah jatuh cinta. Hidupnya fokus mengembangkan usaha yang di ambang bangkrut oleh kemunculan pesaing, jasa cabut bulu modern yang berdiri berdekatan.

Pertama kali Zoe jatuh cinta justru kepada lelaki beristri, Paul.

Sampai di sini, Om-Tante mungkin buru-buru persalahkan Zoe. Ya kalau tahu orang sudah beristri, tahan diri donk. Cinta itu emosional tetapi relasi rasional. Karenanya tidak semua cinta harus berujung pada relasi.

Jangan buru-buru berburuk sangka, Om-Tante. Tabayyun sikit kenape? Baca dulu hingga tuntas.

Paul-Jane (Aya Cash) adalah pasangan suami-istri beranak tiga, masih kecil-kecil. Jane seorang pengacara nyandu kerja yang menopang ekonomi rumah tangga. Paul adalah sarjana filsafat yang membuka rental video. Seperti Zoe, usaha Paul juga menjelang bangkrut sebab tak ada lagi yang mau menyewa film. Ya zaman video on demand begini ngapain juga rental video.

Hubungan Paul-Jane sangat gersang. Sudah 3 bulan mereka tidak 'begituan.' Jane terlalu lelah untuk bercumbu. Jane bahkan sarankan Paul untuk selingkuh saja, mencari cewek sampingan.

Paul yang kesepian hatinya, sepi pula lapak dagangnya, bertemu Zoe, juragan salon waxing dari seberang jalan yang iseng bertandang ke toko Paul. Obrolan singkat terjadi, chit-chat gaje.

Beberapa hari kemudian Paul mengajak Zoe tonton film di atap tokonya, lalu berlanjut makan bareng di taman foodtruck.  Kesempatan berikut, Paul membuatkan cd kompilasi lagu untuk Zoe.

Meski begitu Paul tidak hendak berselingkuh. Ia hanya mencintai Jane, mencoba bertahan dalam hubungan yang kemarau panjang kering kerontang.

Yang menjengkelkan adalah Jane ternyata brengs*k. Ia menyewa gigolo dan berhubungan dengan lelaki pekerja seks itu beberapa kali. Tiap nge-date dengan si gigolo, Jane menipu Paul dengan alasan kerjaan atau kondisi darurat kawan-kawan perempuan yang membutuhkannya. Modus tuh yeeee.

Suatu ketika, Paul mengunjungi Jane di kantornya, membawa bunga. Begitu Om Paul buka pintu ruangan kerja Jane, istrinya sedang woman on top pada si om gigolo.

Kisah selanjutnya jangan saya ceritakan. Om-Tante tonton sendiri. Kalau saya ceritakan, untuk apa film itu ditayangkan? Lagi pula saya bukan Mas Abdul yang mengisahkan novel dan cerpen kepada Surti. Om-Tante juga bukan Surti, kan? Eh, sudah baca cerpen bertema serupa, hubungan Surti-Abdul-Rini itu kan?  Cerpen religi, lho.

Buruan, baca dulu sebelum dihapus admin. Nih-> "28 Hari Pukul 2:30 Tahajud Munajat Cinta."

Melalui Social Animals, Tante Theresa Bennett seperti mau membela para perempuan yang mencintai suami orang; juga para suami yang mencintai perempuan lain. Ini sebuah pledoi bahwa perselingkuhan lelaki beristri dan perempuan lajang dapat terjadi karena rumah tangga si lelaki berantakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2