Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Fahrenheit 451 dan Ketakutan-ketakutan Masa Depan Indonesia

22 Mei 2018   15:36 Diperbarui: 24 Mei 2018   01:00 4692 20 14 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fahrenheit 451 dan Ketakutan-ketakutan Masa Depan Indonesia
Diolah dari tangkapan layar Fahrenheid 451. Dokpri

"Karya-karya sastra sering dengan lihai memanggil kisah masa lalu, menghadirkannya sebagai cermin bagi peristiwa-peristiwa hari ini."

-- Tilaria Padika, "Arok Dedes Pramoedya: Perang Proksi dan Problem Kebhinnekaan"

Semalam saya menonton film. Menarik sekali. Fahrenheit 451 judulnya, adalah film yang baru saja dirilis 12 Mei 2018 oleh HBO. Meski begitu, novel berjudul serupa yang diadaptasi ke film ini sudah terbit sejak 1953. Novelis Amerika Roy Bradbury penulisnya.

Fahrenheit 451 adalah novel distopia, memang--dari filmnya--tak sekelam 1948 milik Orwell. Melalui novel ini, Bradbury mengkritik politik Amerika Serikat di era itu sekaligus mengingatkan akan kemungkinan masa depan yang dihadapi jika kondisi itu terus dibiarkan.

Karena belum membaca versi novelnya, dan tidak tahu apakah versi film adalah adaptasi menyeluruh terhadap novel, saya tulis artikel ini berlandaskan film dengan menambahkan informasi tentang novel itu dari review sejumlah orang.

Film Fahrenheit 451 menceritakan masa depan masyarakat yang anti-buku. Unit Pemadam Kebakaran (Damkar) berubah fungsi menjadi satuan aksi sweeping dan pembakaran buku-buku. Orang-orang yang memiliki buku dihukum dihapus identitasnya dan karena itu tidak bisa hidup normal dalam masyarakat yang sangat terkoneksi dengan teknologi.

Ingatan publik akan masa lalu dihapus. Tak ada jejak tertulis dan digital. Anggota Damkar tidak akan percaya jika dikatakan dahulu tugas unit mereka adalah memadamkan kebakaran, bukan menyulut api pada buku-buku.

Dalam masyarakat masa depan itu, satu-satunya bacaan dan sumber informasi adalah kecerdasan buatan bernama "Nine"

Kita dapat membayangkan Nine sebagai Google yang tanpa pesaing. Tidak ada media daring selain Nine. Seluruh informasi dimasukkan ke dalam Nine, tetapi bukan isi buku-buku bacaan.

Informasi ditulis dan disampaikan oleh algoritma komputer super cerdas. Tak adalagi penulis, jurnalis, bahkan tidak ada media sosial seperti facebook atau twitter. Partisipasi publik dalam jaringan komunikasi daring hanyalah memberi emoticon smile dan like pada berita  real time  yang disampaikan Nine.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x