Tilaria Padika
Tilaria Padika Petani

Artikel sejarah - ekonomi - politik - sosial budaya Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Stephen Hawking, Bukan Hanya Ilmuwan tapi Juga Aktivis Terkemuka

14 Maret 2018   18:45 Diperbarui: 15 Maret 2018   19:13 1916 19 7
Stephen Hawking, Bukan Hanya Ilmuwan tapi Juga Aktivis Terkemuka
Hawking bertongkat dan kacamata di sebelah kiri Tariq Ali (kumis). Paling kanan adalah Vanessa Redgrave (ikat kepala). Foto ini dikonfirmasi the National Portrait Gallery bahwa menurut Tariq Ali, pria yang berjalan disampingnya bukan Stephen Hawking.. Sumber: Facebook/teleSUR English

Dunia berkabung atas kematian ilmuwan besar Fisika dan Astronomi, Stephen Hawking, pelopor dalam upaya mengungkap rahasia lubang hitam dan pelanjut pekerjaan Einstein tentang relativitas. Bukunya, A Brief History of Time adalah ulasan popular atas sains yang sangat berpengaruh. Ini adalah salah satu buku yang dahulu turut mempengaruhi masa muda saya untuk tertarik belajar sains di sebuah institut di Bandung, meski kemudian banyak distraksi yang mengalihkan saya dari sana.

Tetapi saya yakin, banyak di antara Om-Tante yang tidak tahu jika Hawking bukan hanya seorang ilmuwan, ia juga seorang aktivis. Saya pun baru tahu ini setelah membuka teleSUR Spanyol, dalam situsnya menerbitkan artikel berjudul "Renowned Physicist, Social Activist Stephen Hawking Dead at 76" dan fanpage Facebook teleSUR English mengunggah foto Hawking dalam unjuk rasa bersama  Tariq Ali dan Vanessa Redgrav.

TeleSUR memberi keterangan foto itu adalah saat unjuk rasa di London 1969 untuk menolak perang Vietnam. Setelah menelusuri lebih dalam, saya yakin itu foto saat Grosvenor Square March 1968.

Era 1960-an memang masa keemasan aktivis di dunia, bertolak belakang dengan di Indonesia yang oleh sebuah buku --saya lupa judulnya-- disebut didominasi oleh para mahasiswa yang hanya sayup-sayup mendengar kemewahan liberalisme-kapitalisme.

Era 1960-an adalah puncak gerakan hak sipil di Amerika Serikat. Saya pernah mengulasnya pekan lalu waktu bercerita tentang setting sejarah lahirnya karakter komik Black Panther, superhero kulit hitam yang filmnya bikin Om-Tante rela mengantre bersama remaja-remaja imut di pintu bioskop. (Baca: Black Panther Itu Perlawanan Kontra Kultur).

Di Eropa terjadi hal yang sama, bahkan lebih berdampak internasional. Pada era inilah revolusi mahasiswa, Paris 1968 meletus. Dari revolusi Paris 1968 kelak lahir tendensi dalam ilmu sosial kritis, neo-marxist dan post modernisme.

Rupanya, Hawking tidak terkecuali ikut terpapar semangat dari global-uprising itu.

Ketika itu Hawking berusia sekitar 26 tahun. Ia bukan lagi mahasiswa. Sudah 2 tahun sebelumnya ia meraih gelar doktor dari Universitas Cambridge dan esai-nya, "Singularities and The Geometry of Space-Time" memenangkan Adam Prize. Usia pernikahannya dengan Jane Wilde baru setahun. Empat tahun sebelumnya ia mendapat vonis dari dokter, hanya akan hidup 2 tahun lagi oleh Motor Deurone Disease.

Ya, Hawking sudah seorang ilmuwan terkemuka dengan penyakit yang kian parah, rela berbaris bersama ribuan pengujuk rasa lainnya, berhadap-hadapan dengan polisi. Ia berbaris bersama Tariq Ali dan Vanessa Redgrave.

Tariq Ali kelak menjadi dedengkot aktivis dan penulis buku, termasuk novel berkualitas. Ia redaktur jurnal terkemuka New Left Review.  Bukunya Clash of Fundamentalisms: Crusades, Jihads and Modernity (2002) adalah salah satu yang wajib Om-Tante baca. Sementara Venessa Redgrave adalah aktris papan atas yang perannya dalam lusinan film masuk nominasi berbagai penghargaan film internasional, termasuk memenangkan Oscar untuk aktris pendukung terbaik dalam film Julia (1977).

Penolakan Hawking terhadap perang imperialis bukan sekedar euforia. Hal ini terbukti ketika 30 tahun kemudian, ia juga memprotes invasi Amerika Serikat ke Irak, 2003-2011. Ia menyebut itu sebagai kejahatan perang.

Dengan keterbatasan kondisi fisik, Hawking berbaris bersama ilmuwan peraih nobel, Joseph Rotblat di lapangan Trafalgar Square, London, November 2004. Joseph Rotbalt adalah ilmuwan yang oleh landasan moral, mengundurkan diri dari tim riset bom atom pada 1940-an. (1)

Hawking juga mendukung gerakan boikot akademik terhadap Israel. Pada 2013, Presiden Israel (saat itu) Simon Peres merayakan konferensi tahunan presiden yang kelima. Hawking diundang sebagai ketua konferensi. Hawking memanfaatkannya untuk memprotes perlakuan Israel atas Palestina. Ia menyatakan tidak hadir dan menyerukan ilmuwan lain untuk melakukan hal serupa. (2)

Hawking bukan sekedar seorang pasifis. Perjuangannya juga menyangkut hak atas kesehatan. Ia pendukung utama sistem layanan kesehatan universal. Sistem ini menjamin pelayanan kesehatan yang setara dan gratis (sudah dibayar melalui pajak) bagi seluruh rakyat. Sistem ini berlaku di Kuba, Kanada, dan Inggris. Tentang sistem kesehatan universal ini, Om-Tante bisa tonton di film dokumenter Sicko, karya Michael More.

Karena itu Hawking menolak privatisasi rumah sakit. Menurutnya, "Semakin banyak laba yang diperas dari sistem ini, semakin cepat pula pertumbuhan monopoli swasta dan semakin mahal pula biaya kesehatan. NHS perlu dilindungi dari kepentingan komersial dan pihak-pihak yang ingin menyerahkannya ke swasta." 

Seperti seniornya, Einstein yang menolak kapitalisme (baca artikel Einstein, "Why Socialism?"), Hawking juga mengkritik kapitalisme. Katanya, "If machines produce everything we need, the outcome will depend on how things are distributed. Everyone can enjoy a life of luxurious leisure if the machine-produced wealth is shared, or most people can end up miserably poor if the machine-owners successfully lobby against wealth redistribution. So far, the trend seems to be toward the second option, with technology driving ever-increasing inequality."(3)

Konon Hawking juga anggota Boycott, Divestment, Sanctions (BDS), organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan, keadilan, dan kesetaraan bagi rakyat Palestina.

Kini, aktivis dan ilmuwan itu telah pergi. Ia meninggal terhormat, meninggalkan warisan kemanusiaan. Mengenang kematiannya, Frank Andrea Pennestri, administrator BDS di New York berkomentar pada foto Hawking di facebook TeleSUR. "He was a Warrior Indeed, a BDS member and a man of Conscience and Heart. All of BDS will always hold a special place for Him."

Baiklah. Rest in Glory, Comerade Hawking.

Koreksi: Foto di atas dikonfirmasi the National Portrait Gallery bahwa menurut Tariq Ali, pria yang berjalan disampingnya bukan Stephen Hawking.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2