Tigaris Alifandi
Tigaris Alifandi Eksekutif The Tigaris Institute

Kuli penikmat ketenangan | Membaca untuk berbicara, menulis untuk berpikir

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Sindrom Musim Ketiga Mourinho

10 Oktober 2018   21:28 Diperbarui: 10 Oktober 2018   21:28 766 0 0
Sindrom Musim Ketiga Mourinho
goal.com

Tak banyak yang berubah dari dirinya. Masih sama. Sejak kemunculannya yang fenomenal sekitar hampir 1,5 dekade lalu.

Karakter dan strategi pun tak banyak berubah. Mungkin ubannya semakin kelihatan. Raut wajahnya saya rasa mulai menua. Tampak kurang "kejam" dan tak "bergairah", layak dulu kala.

Termasuk kebiasaannya. Tak pernah lama melatih klub. Rataannya hanya 2,17 tahun berdasarkan data Transfermarkt.

Tapi, Jose Mourinho dikenal mampu memberikan segalanya bagi klub yang dilatih. Dalam waktu yang singkat. Macam David Copperfield versi sepakbola. 

Porto, Chelsea, Inter Milan, Real Madrid. Sederet klub yang pernah merasakan tangan dinginnya. Setidaknya minimal gelar liga domestik. Di MU, masih belum untuk liga domestik.

Bisa jadi Mou hanya mempersiapkan skuad untuk berprestasi dalam jangka waktu 2-3 tahun. Sesuai keinginan dan kebiasaannya. Musim pertama, pematangan strategi dan pembentukan skuad impian. Musim kedua, berlari sejauh mungkin di semua kompetisi. Menang adalah harga mati, setiap pertandingan adalah final.

Tak banyak yang berubah darinya saya rasa, termasuk sindrom yang ia miliki. Bukan menyerang fisik ataupun psikisnya. Melainkan kariernya.

Sindrom musim ketiga. Dimana apa yang telah ia capai dua musim sebelumnya. Akan bertolak belakang pada penampilan musim ketiganya. Tak jarang, pemecatan terjadi pada The Special One.

Bukti nyata, saat melatih Chelsea dan Real Madrid. Dirinya harus angkat kaki di pertengahan musim, periode pertama dan keduanya, ketika melatih Chelsea. Pada musim ketiga ia melatih, tahun 2007 dan 2015. Madrid tertatih-tatih ketika tahun ketiga Mou. Beruntung masih bisa finish Runner-Up di La Liga.

Sekarang, indikasi sindrom ketiga tampaknya muncul lagi di klub yang ia latih.

Manchester United menorehkan start terburuk sejak tahun 1990. Gagal  meraih empat kemenangan dalam dua pekan. Buruk bagi klub sekelas MU yang terbiasa berjaya selama era Sir Alex Ferguson.

Beruntung lah, pekan lalu menang atas Newcastle. Bak oase di tengah gurun. Setidaknya bisa menjadi pelecut semangat pemain dalam mengarungi pertandingan kedepannya.

Hubungannya dengan manajemen mulai panas. Rumor pemecatan mulai santer.Beberapa nama macam Zidane dan Conte muncul. Yang patut dicatat. Ketidakpuasan dirinya terhadap manajemen dipicu ketidakmampuan membeli pemain incarannya. Banyak yang bilang, Ed Woodward sekarang agak pelit.

Hubungan dengan beberapa pemain pun dikabarkan mulai renggang. Sikapnya masih sama, egois, temperamental, seperti dulu. Dialah penguasa dalam ruang ganti. Penguasa tunggal. Itu yang terkadang membuatnya sering bermasalah. Terutama kepada pemain dengan ego tinggi, apalagi mengkritik strateginya.

Beberapa legenda MU mulai banyak yang angkat bicara. Di tengah penampilan mantan klubnya yang agak goyah. Kritik pedas terlontar. Bahkan ada yang mengatakan bahwa MU sekarang sekelas klub medioker. Tak hanya kritik, pledoi pun ada pula. The Ginger Prince yang awalnya kritis, mulai membela Mou. Mengatakan bahwa manajemen harus memberi waktu kepada Mourinho untuk membawa prestasi lebih tinggi.

Ya, The Special One memang sosok spesial. Bergelimang prestasi. Tapi percuma. Dia punya sindrom musim ketiga yang berulang, sampai sekarang masih belum ditemukan obatnya. Hanya dia sendiri yang bisa mengobati sindrom itu. Entah itu keBETULan atau keBENARan.