Mohon tunggu...
Tiara Laninda
Tiara Laninda Mohon Tunggu... Mahasiswa - Undergraduate Journalism Student

Journalism Student, interested on social, traveling, and lifestyle field.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kapitalisme dan Eksploitasi, Sumber Krisis Air Bersih Masyarakat Bandung

5 Januari 2023   12:05 Diperbarui: 5 Januari 2023   12:09 341
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bandung. Sumber ilustrasi: via KOMPAS.com/Rio Kuswandi

Krisis air bersih yang melanda pemukiman masyarakat Bandung, khususnya di Desa Cimareme kian parah. Antrean masyarakat yang  berdiri menunggu jeriken biru mereka diisi air bersih yang semakin hari semakin panjang. Keresahan masyarakat yang tak kunjung usai ini menjadi sebuah lika-liku rumit perjuangan dalam mendapatkan sumber daya air, terlebih di musim kemarau.

Perjuangan dalam mendapatkan air bersih terus berlanjut di Kelurahan Ciroyom. Untuk memenuhi kebutuhan hidup saja, warga harus membeli air dari tukang jeriken keliling. Diketahui sejak 2019 lalu, dua sumber pemasok air baku untuk memenuhi kebutuhan PDAM Tirtawening Kota Bandung semakin menyusut. Hal ini juga diungkapkan oleh Sonny Salimi bahwa sejak 2019, kondisi air baku sangat kekurangan, khususnya pasokan air dari Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca, daerah selatan Kota Bandung.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kota Bandung mencapai 2,5 juta jiwa pada 2018. Menurut data tersebut, masyarakat Kota Bandung paling tidak membutuhkan sebanyak 6 ribu liter air baku per detik. Saat ini, PDAM Tirtawening mampu mengolah 2.500 liter air per detik, sehingga terdapat selisih 3.500 liter. Dilansir dari laman JabarEkspres.com, Kasi Konservasi Air Tanah DLHK Kota Bandung, Salman Faruq mengatakan, kebutuhan masyarakat akan air bersih yang terus meningkat turut berkontribusi terhadap penyusutan air tanah.

Saking sulitnya untuk mendapatkan sumber air bersih, antrian bukan hanya didominasi oleh laki-laki. Perempuan, ibu-ibu, bahkan anak-anak tampak ikut mengantre karena tak ada lagi yang menjaga di rumah. Mau tidak mau, mereka ikut membantu orang tua membawa dirigen meski dalam usia yang masih sangat belia. Beberapa anak balita digendong oleh ibunya untuk berdiri mengantri. Lengan kiri menjaga agar anak tidak jatuh, sementara lengan kanan digunakan untuk memegang jeriken biru pembawa air. Tak terbayang beratnya beban yang harus ditempuh, apalagi di tengah panasnya terik matahari.

Sulitnya mendapatkan akses air bersih tak menjadi jalan kerja sama antar penduduk di tengah krisis. Kapitalisme terus berkembang dengan adanya privatisasi air yang membuat rakyat dengan ekonomi kurang mampu semakin kesulitan mendapatkan akses air bersih untuk kehidupan sehari-hari. Empati sudah hilang, ego menguasai keinginan yang tak terkendali akibat permasalahan berkepanjangan yang tak kunjung menemukan solusi.

Upaya dalam mendapatkan pasokan air juga sudah dibantu oleh pabrik di sekitaran wilayah industri. Pabrik memiliki kewajiban membantu masyarakat dalam memperoleh debit air yang besar untuk memenuhi kebutuhan penduduk di sekitar pabrik. Proses distribusi airnya masih biasa, tetapi volume air bersih yang didapatkan berkurang jauh.

Bukan dalam hal mengantre saja, warga Kota Bandung seperti Antapani Wetan juga sudah mulai mengandalkan air tanah sebagai kebutuhan sehari-hari. Namun, ini bukanlah akhir dari perjuangan masyarakat dalam memperoleh akses air bersih. Salah satu rumah di ujung jalan Malangbong keluar dengan warna gelap dan pekat. Pemilik rumah sudah menggunakan 8 alat saring agar air dapat jernih. Berharap mendapatkan hasil positif dari usahanya, air justru tetap kotor sehingga tidak layak untuk diminum.

Kepada bandungbergerak.id, Ratna, salah satu warga Gang Sukapakir mengaku harus menggelontorkan uang sebesar satu juta rupiah untuk usaha yang sia-sia. Janji manis PDAM akan jaminan kemudahan air justru berkata sebaliknya. Alih-alih datang, PDAM justru menghilang tanpa kabar dengan kewajiban yang seharusnya ditunaikan. Ratna mengaku terpaksa menggunakan air keruh yang keluar dalam sumur bor miliknya untuk memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci. Sementara bagi keperluan minum dan memasak, ia memilih membelinya dari warga lain. Satu-satunya harapan baginya adalah air dapat mengalir deras, layak, dan murah.

Tanggung jawab yang tak ditunaikan, kewajiban yang dilupakan mendorong adanya alternatif penggunaan air tanah marak terjadi di Kota Bandung. Penggalian lebih dalam untuk mendapatkan air menjadi sebuah antisipasi sementara yang dapat dilakukan. Ujung pangkal dari sulitnya air bersih di Bandung disebabkan oleh eksploitasi air oleh hotel, mal, apartemen dan bangunan kota lainnya dengan debit air yang begitu fantastis. Kapitalisme yang terus berkembang ini sudah menjadi hal yang dikelola dan tumbuh dengan pesat, baik dari pemerintah, PDAM, dan juga pihak investor pemilik gedung tidak terdengar memihak kepada masyarakat. Cara-cara mempersulit dan merugikan masyarakat justru berkembang kian pesat.

Nauval Hidayat (21), warga Cibeunying Kidul yang rumahnya tidak menerima fasilitas airbersih oleh PDAM Tirtawening mengeluhkan susahnya air bersih yang ada di daerahnya.Bahkan ia harus membeli air bersih atau mengambil langsung dari sumur yang biasanya antri karena masih banyak warga lain yang bernasib sama.

Nauval tak pernah merasakan hak nya sebagai warga Bandung dengan fasilitas air bersih yang seharusnya ia terima berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung No.15 tersebut. Tidak ada solusi yang diberikan oleh pemerintah kota Bandung untuk mengatasi kasus yang dialami oleh Nauval dan warga lain yang tidak menerima air bersih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun