T.H. Salengke
T.H. Salengke Akademisi

Petani yang sedang menunggu panen tiba

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Dalam Teori dan Sifat Seorang Pemimpin

15 Maret 2019   08:47 Diperbarui: 15 Maret 2019   12:35 88 11 4
Dalam Teori dan Sifat Seorang Pemimpin
(kamijember.go.id)

Pemilu 2019 menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang memiliki hak pilih untuk mempelajari karakter calon pemimpin yang akan mereka dukung. Di tataran kepala negara, masyarakat disuguhkan dengan satu acara debat, supaya mereka bisa membaca apakah pasangan calon presiden dan wakil presiden tersebut memiliki sifat dan kriteria yang mereka inginkan.

Diakui atau tidak, debat terbuka memiliki dampak yang besar untuk mempengaruhi pendirian pemilih, khususnya pemili mula. Gaya dan pola bicara serta gestur tubuh saat merespon materi debat, dapat dinilai apakah pasangan calon tersebut menguasai materi, memiliki pengetahuan, dan mempunyai sifat serta karakter sebagai pemimpin yang diharapkan.

Secara umum, disebutkan dalam beberapa pandangan yang membahas seputar serang pemimpin dan gaya kepemimpinan yang ada di sekitar kita sbb:

Pertama, teori genetis. Dalam teori ini disebutkan bahwa seorang pemimpin itu dilahirkan. Kata dilahirkan di sini tidaklah mutlak anak raja akan menjadi raja. Atau anak presiden akan menjadi presiden, tetapi "dilahirkan" bermaksud bahwa seorang pemimpin itu sudah sejak kecil memiliki watak kepemimpinan secara alami.

Kedua, teori sosial. Dalam teori ini, dijelaskan bahwa seorang pemimpin itu diciptakan. Apakah maksud diciptakan? Bisa saja dipersiapkan oleh kelompok partai adau organisasi tertentu. Pada zaman modern ini, pemimpin cenderung diciptakan. Yang lebih menyedihkan adalah uang ikut menentukan seseorang bisa menjadi pemimpin atau tidak.

Kediga, teori akologis. Seorang pemimpin itu memiliki gen kepemimpinan yang ditunjang dengan pengalaman, intelektualitas, modal, dan pelatiahan yang cukup. Walaupun teori pertama dan kedua bisa dijadikan acuan untuk menentukan seorang pemimpin, namun dalam hal Pemilu presiden dan wakil prsiden, teori ketiga inilah yang paling tepat untuk dijadikan acuan menentukan dukungan terhadap calon pemimpin negara.

(Dok. Afif.id)
(Dok. Afif.id)
Memilih pemimpin yang ada dalam salah satu dari tiga teori tersebut juga perlu memperhatikan sifat dan gaya memimpin yang menunjang teori yang ada. Beberapa gaya kepemimpinan yang dapat kita paparkan di sini sbb:

Pertama, demokratis. pempin yang demokratis akan senantiasa mengedepankan musyawarah dan mufakat. Kekuasaan yang yang melekat tidak digunakan untuk menekan rakyat, tetapi sebaliknya untuk membela rakyat secara adil.

Kedua, otoriter. Gata kepemimpinan yang satu ini sering kita dengar di mana-mana. Antara contoh yang bisa disebut di sini adalah gaya kepemimpinan Raja Fir'au dan juga gaya kepemimpinan Hitler yang identik dengan otoriter.

Ketiga, militeristik. Gaya ini identik dengan disiplin yang tinggi, tegas dan berjiwa besar.

Keempat, paternalistik. Gaya kepemimpinan ini mengarah kepada sikap pemimpin yang selalu mendominasi kelompok yang dipimpinnya, terutama dalam pengambilan keputusan. Hal tersebut didorong oleh persepsi bahwa dia sebagai pemimpin lebih tahu dari mereka-mereka yang dipimpinnya.

Kelima, kharismatik. Gaya pemimpin kharismatik itu muncul dari dalam diri seseorang yang didorong oleh kecakapan dan profesionalisme dalam mengatur ritme kepemimpinannya. Profesionalisme dan sportifitas yang tinggi, akan melahirkan sikap hormat dari orang-orang yang dipimpinnya.

Adapun dalam hal memilih presiden dan wakil presiden, tentu kita harus pilih calon yang memiliki sifat, visi dan misi yang mengarah pada kesejahteraan rakyat yang berkeadilan.[]

KL: 15032019

(Dok. gerbang psikologi)
(Dok. gerbang psikologi)