Mohon tunggu...
Thoufan Pratama
Thoufan Pratama Mohon Tunggu... Mari Melenting

Mulanya (?) kemudian (-) menjadi (+) maka hasilnya = eureka

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018 dan Inovasi Program

27 Juli 2018   09:23 Diperbarui: 13 Agustus 2018   01:16 0 0 0 Mohon Tunggu...
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018 dan Inovasi Program
dokpri


HARGANAS TINGKAT DESA YANG PERTAMA DI INDONESIA

INOVASI ARISAN PROGRAM

Hari keluarga Nasional adalah sebuah moment peringatan yang dilakukan oleh Badan Kependudukan dan keluarga Berencana (BKKBN) setiap tahunnya sebagai ajang mengingatkan bahwa membangun sebuah peradaban dimulai dari keluarga. sejak dicangkannya pertama kali pada tahun 1993 di Propinsi Lampung maka sejak saat itu setiap tahunnya diperingati sebagai hari Keluarga Nasional hingga saat ini (2018 di Manado). 

Walaupun pencanangan pertama belumlah mendapatkan legitimasi pemerintah, nanti Harganas mendapat legalitasnya pada 15 September 2014 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 39 tahun 2014, anggal 29 Juni ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional dan bukan hari libur.

cerita berlanjut, Hari Keluarga Nasional sebenarnya bukanlah hal yang amat istimewa bagi kalangan yang banyak tahu akan penting dan urgentnya sebuah keluarga, karena diluar sana, konsep Hari Keluarga Nasional telah diperingati pula walau dalam bentuk dan cuaca yang berbeda, kita ambil contoh di Amerika, dengan nama Family Day, di australia, afrikan bahkan sebagian negara belahan bumi yang laen pun memperingatinya dengan satu tujuan dan pesan utama yakni menumbuhkan rasa kebersamaan dalam keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.

Bagaimana dengan Indonesia?

 Di Indonesia, kita kerap terperangkap dalam pola pikir yang bersifat rutinitas, masih enggan melakukan upaya berpikir yang "melenting" bahwa memodifikasi sebuah acara ritual/seremoni dengan pendekatan inovatif dan humanis jauh lebih dapat tepat sasaran dan menyentuh hal hal yang menjadi tujuan utama kita dibandingkan melakukan sebuat ritual atau seremoni belakang.

Maka, tersebutlah sebuah Desa Di Kabupaten Gowa propinsi Sulawesi Selatan, Nama Desa itu adalah Mata Allo (Bahasa indonesia : Matahari), di Desa ini telah mampu mendeskripsikan semangat dan nilai nilai peringatan HARGANAS itu dengan jalan melakukan perayaan seremoni yang di barengi dengan aksi aksi real di dalam wilayahnya (baca: Desa Mata Allo) dalam rangka mensupport program pemerintah yang kadang hanya didengungkan tapi tidak terealisasi.

Aksi nyata di Desa ini adalah, bagaimana mengajak semua stake holder yang ada dalam pemerintah Desa tersebut untuk turut serta berperan aktif membangun Desa, maka mulai perangkat desa yang terbawa RT, RW, lanjut ke BABINSA, BINMAS, BIDES (Bidan Desa), Para Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pendidik, Tokoh Perempuan dan Tokoh Pemuda, Pelajar, Karang taruna, organisasi organisasi antar agama, hingga kepada ajakan kepada para pemegang modal yang ingin menyalurkan hartanya dijalan Allah (baca: sedekah).

Sedikit deskripsi tentang pelaksanaan program kolaborasi adalah dengan terciptanya ide inovasi yang diberi nama "ARISAN PROGRAM". Arisan Program adalah sebuah kesepakatan dan komitmen antar semua stake holder yang dikemas dalam bentuk arisan. arisan ini sepintas lalu nampak biasa biasa saja tapi yang menjadikan arisan program ini unik adalah dengan menyertakan nama nama program unggulan yang ada di Desa yang kemudian ikut di lot (baca:ditetapkan dengan jalan ilihan random) yang mana nama pemenang haarisan hari itu sekaligus bertindak sebagai koordinator kagiatan yang juga telah sepakati dan di tetapkan, dan demikian lah seterus selatiap bulannya dalam menjalan kan semua program yang ada di desa tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2