Mohon tunggu...
Theresia Iin Assenheimer
Theresia Iin Assenheimer Mohon Tunggu... Berbagi

Berkreasi

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Ibuku Kartiniku

13 April 2021   04:56 Diperbarui: 13 April 2021   05:04 255 34 5 Mohon Tunggu...

Kartini identik dengan emansipasi, identik dengan persamaan hak pendidikan dan pekerjaan. Saya bersyukur dan bangga terlahir sebagai orang Indonesia, wanita Indonesia. Dimana kita bisa belajar apa saja dan setinggi-tingginya. Bahkan mbah putriku yang lahir sekitar tahun 1915 sudah mengenyam pendidikan dan menjadi kepala sekolah dasar di suatu desa di Yogyakarta. 

Ibuku bidan perawat dan selama hidupnya selalu bekerja keras sampai tiba masa pensiunnya. Kadang aku berfikir, apakah benar inikah keinginan Kartini bahwa persamaan dan kebebasan wanita untuk menerima pendidikan dan akhirnya bekerja dan bekerja siang malam seperti ibuku? saya kira Kartinipun tidak membayangkan bahwa pada akhirnya ada wanita yang memiliki pendidikan baik dan bekerja siang malam, sampai hampir tidak ada waktu untuk keluarga, suami dan anak-anaknya.

Mengapa ibuku yang bidan dan perawat begitu sibuk, bekerja siang malam hampir tidak mengenal hari libur atau hari minggu. 

1. Daerah pedesaan di lereng Gunung Merapi, tanpa penerangan listrik dan jalan setapak terjal mendaki.

Saat itu tahun tujuh puluhan, sarana kesehatan belum seperti sekarang. Ibuku sebagai bidan, pegawai negri yang ditugaskan di daerah terpencil,  di kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah ibu, daerah sulit sampai di lereng Gunung Merapi. Saat itu sarana trasportasi belum seperti sekarang, selain jalanan yang mendaki jalan masih berbatu-batu belum beraspal seperti sekarang. 

Bapak dengan sepeda motornya selalu mendampingi dan mengantar ibu bila ibu menolong kelahiran di desa-desa di lereng Gunung Merapi, di samping pekerjaan bapak sebagai dosen di ISI Yogyakarta. Karena jalanan yang terlalu terjal dan sempit, sehingga sepeda motorpun harus dituntun, bapak dan ibuku harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah pasien. Menolong orang melahirkan tidak selalu di siang hari, tidak jarang di malam hari tanpa penerangan listrik seperti sekarang. Ibu bapakku menggunakan oncor sebagai penerang jalan, yaitu bambu yang diisi dengan minyak tanah dan kain tua sebagai sumbunya. 

2.Sarana kesehatan yang belum memadai

Karena saran kesehatan, seperti rumah sakit, dokter atau puskesmas belum seperti sekarang, maka ibuku yang bidan perawat, selain menolong ibu hamil dan melahirkan, orang-orang sakit datang ke rumah kami untuk minta diobati ibu.

Pagi-pagi sebelum berangkat ke BKIA, Balai Kesehatan Ibu dan Anak, saat itu belum ada Puskesmas, pasien-pasien telah berderet menunggu pertolongan ibu. Bak dokter saja, ibu mengobati orang-orang sakit itu, bapak sebagai asistennya. Kalau aku ingat saat itu kenangan yang indah dan sedikit lucu, bapakku yang seniman membantu ibu menolong orang sakit, hampir tidak ada waktu lagi untuk memegang kuas dan kasvasnya, tetapi bapak juga bahagia dan menikmatinya menolong orang banyak. 

Disini aku melihat kerjasama dan cinta bapak ibuku juga keluhuran hati mereka yang membekas dalam ingatanku.  Sekarang aku mengerti  apa yang bapak katakan," Jangan takut untuk memberi dan menolong orang, dengan memberi kamu akan menerima lebih banyak lagi" Ternyata benar, dengan memberi dan menolong sesama, Tuhan segera memberi suka cita yang indah dalam hati. Suka cita ini memberi kekuatan untuk memberi dan menolong lagi.

Setelah mengobati pasien-pasien yang datang, ibu dengan dibonceng bapak pergi ke BKIA, Balai Kesehtan Ibu dan Anak, kemudian bapak meneruskan perjalanan ke kampus ISI Yogyakarta untuk memberi kuliah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x