Mohon tunggu...
thamzilthahir tualle
thamzilthahir tualle Mohon Tunggu... journalist -

lahir di makassar. selalu mencoba menulis apa adanya bukan ada apanya!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Cerita Duka Bapak Dua Pelaut Turatea

26 Juni 2011   15:55 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:09 339 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Cerita Duka Bapak Dua Pelaut Turatea
thamzil-thahir.jpg

Kedukaan Langka di Jeneponto Share | dok tribun thamzil thahir Berita Terkait

SUKA dan duka adalah cara batin menyikapi suasana dan melewati waktu. Inilah yang dialami keluarga besar Saddara' Daeng Rate, tokoh masyarakat Arungkeke, Jeneponto. Tanggal 5 Mei 20011, putra keempat, Karaeng Rate Syarifuddin Dg Tengang, bersuka. Dia menikahkan putra keduanya, M Ridwan (38). Kerabat pun berpesta. Namun sebulan kemudian, suka itu berubah jadi duka yang justru datang beruntun. Minggu (5/6/2011), pukul 23.00 wita malam, Syarifuddin terkena serangan jantung. Sang Ayah, bapak dua pelaut Turatea ini juga meninggal dalam tidurnya. Dalam hikayat Bugis Makassar, kematian ini disitilahkan orang Bugis dengan nalai sompung tinro atau nassambungi tinrona kata orang Makassar. "Sebelum tidur, adik saya masih sempat bercakap-cakap dengan adik sepupu, dan menata sendiri tempat tidurnya," kata hanafi, kakak kandung almarhum Syafruddin. Dalam hitungan menit, dia meninggal di hadapan istri, Hajjah Aminah Dg Rannu, serta tiga dari tujuh anaknya. Dan sebelas jam kemudian, Senin (6/6/2011), sekitar pukul 11.15 wita Rosalina, putri kelima petani tambak ini, menyusul sang ayah ke alam baka. Dalam tempo dua jam, keluarga dan petugas jenazah mengurus dua mayat sekaligus. Mereka memandikan, mengafani, mensalatkan, dan menguburkan dua orang di rumah, masjid, dan tanah pekuburan yang sama. Sejatinya, almarhum Syarifuddin dan Aminah Dg Rannu (61) memiliki tujuh anak. Dari ketujuhnya, kini sisa lima. Mereka adalah Ridwan (38), Rahman (36), Ruslan (34), Rosmawati (30), dan Rosdiana (28). Kakek nenek ini juga sudah dikaruniai delapan cucu. Dua anak lainnya, Ahmad Rifai dan Rosalina sudah meninggal. Rifai adalah pelaut. Ia meninggal empat tahun lalu.  Yang tragis, kisah meninggalnya Rosalina. Adik Rifai ini meninggal di pelukan kakaknya, Ruslan yang juga seorang pelaut. Berada di pesisir selatan Sulsel, Paladjau adalah kampungnya pelaut. Banyak warga di sini yang berlayar dan mengais rezeki hidup dari laut. Almarhum Syarifuddin juga seorang petambak.Pelaut dan nelayan tangguhTuratea, julukan bagi Jeneponto, banyak berasal dari kampung ini. Hanafi Dg Sanra, si paman mengisahkan, Ruslan mengetahui kabar ayahnya meninggal, saat kapal asing berbendera Belanda tempatnya bekerja, sandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Mendapat kabar ayahnya meninggal, dengan pesawat pertama dari bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, ia pun membeli tiket peswat ke Makassar. Ruslan sudah hampir 10 tahun tak berjumpa muka dengan bapak, ibu dan enam saudaranya. Ruslan tiba di kampung Paladjau, saat mayat bapaknya dimandikan oleh kakak dan adiknya. Sedih bercampur haru sang adik, Rosalina, bersandar di pelukan kakak si pelaut. Shock, rindu dan bercampur duka yang dalam Rosalina lalu pingsan. Namun 10 menit berlalu Rosalina tak kunjung sadarkan diri. Ternyata, sang adik meninggal di pelukan sang kakak sekaligus depan jenazah sang ayah yang baru saja dimandikan saudara-saudaranya. Jika jenazah sang ayah dan Rosalina masih bisa dimandikan dan dikuburkan oleh keluarga, maka tidak dengan jenazah si kakak sulung,  Ahmad Rifai.  Meninggal 21 November 2007, di usia 35 tahun, hingga kini, jenazah Rivai tak kunjung ditemukan. Rivai bersama 20 ABK kapal berbendera Panama, Vessel Mezzanine, tenggelam di lepas pantai Utara Taiwan. Rivai adalah muallim I, orang kedua setelah nahkoda. (thamzil thahir) Tribun Timur - Senin, 6 Juni 2011 21:30 WITA

Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan