Mohon tunggu...
Muhammad Thamsir Rizani
Muhammad Thamsir Rizani Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Peran Al-Qur'an dalam Komunikasi

20 Mei 2019   07:00 Diperbarui: 20 Mei 2019   07:09 0 0 0 Mohon Tunggu...

Ketika kita sedang berbicara dengan orang lain, biasanya kita dikatakan sedang berkomunikasi dengan dia. Apakah pembicaraan itu ada manfaatnya atau sekadar berbicara saja; apakah dilakukan berdua atau orang banyak; apakah bersifat rahasia atau umum, itu tidak  penting. Sebab yang penting bahwa masing-masing yang hadir di tempat itu saling berbicara, beradu argumentasi, atau ngalor-ngidul. Ini merupakan pemahaman yang paling sederhana tentang komunikasi. Gambaran ini sekaligus menunjukkan bahwa berkomunikasi tidak lebih dari sekadar berbicara.

Namun begitu, kemampuan berbicara bagi manusia ternyata menjadi salah satu anugerah yang sangat besar. Sebab dengan kemampuan itu manusia mampu menceritakan pengalamannya dan menyampaikan maksud serta keinginannya. Inilah yang dimaksudkan dengan komunikasi dalam arti dasar. Lebih lanjut, ia akan mampu membangun hubungan sosialnya. Ini sebagaimana diisyaratkan Al-Qur'an surah ar-Rahman ayat 4:

Artinya: (Dia) mengajarnya pandai berbicara. (ar-Rahman: 4)

Banyak penafsiran yang muncul berkenaan dengan kata al-bayan, namun yang paling kuat adalah berbicara (an-nutq, al-kalam). Bahkan menurut Ibnu 'Asyur, kata al-bayan juga mencakup isyarat-isyarat lainnya, seperti kerlingan mata, anggukan kepala, dan lain-lain. Argumentasi yang dikemukakan, meskipun isyarat-isyarat tersebut tidak termasuk kategori an-nutq, namun ia termasuk ciri-ciri manusia. 

Dengan demikian, al-bayan merupakan karunia terbesar bagi manusia yang dengannya manusia dapat dikenali jati dirinya, dan sekaligus menjadi pembeda dari binatang. Ada banyak kelebihan bicara yang tidak bisa digantikan oleh tulisan. Bicara akan dirasa lebih akrab, lebih personal, dan lebih manusiawi.

Di sisi lain, manusia adalah makhluk sosial, yang dicirikan selalu hidup bermasyarakat dan membutuhkan peran serta pihak lain. Artinya, berinteraksi sosial atau hidup bermasyarakat bagi manusia merupakan sesuatu yang tumbuh sesuai dengan fitrah kemanusiaannya serta untuk  memenuhi kebutuhan naluriahnya.

Sementara itu, demi terwujudnya cita-cita sosial tersebut, Al-Qur'an banyak memberikan arahan atau nilai-nilai positif yang harus dikembangkan; juga tentunya, nilai-nilai negatif yang semestinya dihindari. 

Sebagaimana bisa dipahami secara berbalik (mafhum mukhalaf) dari surah al-Hujurat ayat 11 dan 12, yaitu, dilarang menghina atau merendahkan martabat sesamanya, tidak boleh mencela orang lain, tidak boleh berprasangka buruk, tidak boleh menebarkan fitnah dengan mencari-cari kesalahan orang lain, terlebih terhadap sesama muslim, dan membicarakan aib/kekurangan orang lain (ghibah). 

Dan, redaksi yang digunakan pada ayat tersebut adalah ya ayyuhan-nas walaupun ayatnya adalah madaniyyah. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud "saling mengenal" pada ayat itu adalah tidak membedakan suku, ras, bahasa, kebudayaan, bahkan agama.

Melihat kenyataan di atas, maka posisi manusia sejatinya sangat penting dan strategis dalam konteks membangun sebuah masyarakat yang beradab. Sebab, hanya  manusia yang memiliki kemampuan berbicara, dan berbicara merupakan inti dari komunikasi.