Mohon tunggu...
Thamrin Dahlan
Thamrin Dahlan Mohon Tunggu... Saya seorang Purnawirawan Polri. Saat ini aktif memberikan kuliah. Profesi Jurnalis, Penulis produktif telah menerbitkan 20 buku. Organisasi ILUNI Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

Mott Menulis Sharing, connecting on rainbow. Pena Sehat Pena Saran Pena Kawan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Saya 67 Tahun Punya Sahabat Usia 107 Tahun

16 Oktober 2019   18:55 Diperbarui: 16 Oktober 2019   18:56 0 3 0 Mohon Tunggu...
Saya 67 Tahun Punya Sahabat Usia 107 Tahun
dokumen pribadi

Gunung gunung tinggi adalah pasak bumi.  Orang tua berusia lanjut tetap istiqomah beribadah juga disebut sebagai pasak bumi.  Bumi ini dikuatkan karena ada pasak atau paku paku yang melesak  ke dasar tanah nan paling dalam agar bumi tidak bergoyang.  Gunung gunung dan ulama sepuh masih ada di muka bumi atas se izin Allah SWT berfungsi untuk menjaga agar bumi ini tetap beredar pada porosnya seperti adanya.

Gunung memiliki usia panjang ber abad abad kecuali meletus dan kemudian menjadi kawah.  Jumlahnya sangat banyak disepanjang khatulistiwa nan melintasi nusantara.  Sedangkan ulama sepuh bisa dihitung dengan jari.  Agak sulit mencari ulama berusia diatas 100 tahun.  Namun di yakini para ulama sepuh ini ada disetiap kawasan sesuai dengan fungsinya tersebut yaitu menjaga bumi.

Rata rata usia manusia sesuai dengan perkiraan hasil penelitian di setiap negara sangat berbeda.  Indonesia usia harapan hidup berkisar 70 tahunan sedangkan dinegara maju mendekati angka 90 tahun. Kalaupun ada warga berusia melebihi usia harapan hidup maka bisa dikatakan istimewa dengan pertanyaan standard "apa resep umur panjang dan tetap sehat tidak pikun"

Rabu, 16 Oktober 2019 saya bersilaturahim keseorang sahabat lama.  Kami telah berteman lebih dari 35 tahun walaupun usia bertaut 40n tahun.  Tuan Hajin Taufiq Ismail berusia 107 tahun sedangkan saya 67 tahun.  Boleh juga dikatakan sahabat walau usia terpaut satu generasi.  Oleh karena itu saya lebih menganggap Tuan Haji sebagai seorang Guru.

Usia diatas 100 tahun lebih Tuan Palengah (demikian panggilan akrab dari sanak saudara sekampong di Lubuk Jantang Lintau Buo Sumatera Barat) tetap beribadah.  Walaupun terbaring di tempat tidur setahun belakangan ini Tuan Haji tetap mendawamkan shalat 5 waktu.  Malah dalam satu hari satu malam dibantu oleh Istrinya beliau shalat mencapai 40 rakaat.

Selain itu Tuan Haji Binjai demikian nama lain Beliau mengkhatamkan Al Quran setiap 3 hari sekali.  Subhanallah.  Pasak Bumi ini masih hadir di tengah kota Jakarta tepatnya di Jalan Sutan Agung Jakarta Selatan.  Beliau tingal dengan putrinya Hajjah Varia di kediaman sebelah Masjid Taufik persis di depan halte Halimun Bus TransJakarta.

Persahabatan berbeda umur ini memang sudah sejak lama.  Kami saling mengunjungi, yaitu Tuan Haji masih sehat malah  acap bermalam dikediaman kami di Asrama Polisi Polsek Ciracas Jakarta Timur.  Demikian pula sebaliknya saya secara rutin mengunjungi Beliau kalau sedang ada di Jakarta. Ketika masih kuat Tuan acap bolak balik ke kampong halaman Lintau.

Satu peristiwa kejaiban kami alami ketika secara kebetulan bersama menunaikan Ibadah Haji tahun 1994.  Saya mendapat tugas sebagai Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) sedangkan Tuan Palengah menunaikan haji pada sistem reguler. Saya gelombang pertama, Tuan Palengah gelombang ke dua. Satu hal yang beda saya tidak mendapatkan informasi dari anak anak Tuan Palengah terkait nomor kloter dan maktab Beliau.

Tanpa informasi Kloter tentu saja sangat sulit mencari Beliau diantara sedemikian banyak jamaah haji dunia.  Satu satunya  jalan adalah berdoa. Alhamdulillah berkah Allah SWT kami dipertemukan di depan Ka'bah.  Inilah kejadian tak terduga bila dihitung secara statistik probabilitas pertemuan kami berdua sangat kecil sekali.

Namun atas kuasa Allah dan doa sambung menyambung antara 2 sahabat sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi.  Setelah bertemu kami selalu berangkat ke Masjidil Haram bersamaan.  Saya mukim  di Maktab Sulaimaniah sedang Tuan di Hotel dekat Masjid Kucing (Buhchari). Selama 5 hari saja bersama di tanah suci setelah itu Tuan Haji berangkat ke Madinah dan saya bersiap kembali ke tanah air.

Sebelum berpisah seorang ulama Mekah mempererat persahabatan kami dengan memberi nama baru . Tuan Palengah di beri nama Haji Taufiq Ismail sedangkan saya Haji Siddieq.  Itulah keabadian dunia dimana kami saling memanggil nama pemberian itu sampai saat ini.  Saudara, Ulama itu masih ada dimuka bumi ini.  Beliaulah pasak bumi bersama beberapa ulama sepuh lainnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x