Mohon tunggu...
Thamrin Sonata
Thamrin Sonata Mohon Tunggu... Penulis - Wiswasta

Penulis, Pembaca, Penerbit, Penonton, dan penyuka seni-budaya. Penebar literasi.

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Kompasianer yang Rajin Menulis Pantun: Thamrin Dahlan

23 Juli 2019   07:41 Diperbarui: 23 Juli 2019   07:42 91 10 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kompasianer yang Rajin Menulis Pantun: Thamrin Dahlan
Buku Thamrin Dahlan, buku ke-21. (dok pri)

Dalam soal menulis, Kompasianer senior yang satu ini lebih dari lumayan produktif. Tulisannya membuncah dan melimpah-ruah. Terutama dekade, sebelum setahun terakhir ini. Berbagai tulisan bergenre sosial. Terkadang menyerempet politik.

Tak pelak, karena rajinnya menulis,  ada monumen berupa buku yang dijahit dari tebaran tulisannya tersebut. Bukan Hoax, Celoteh Kompasianer Tede dan Bukan Orang Terkenal (2012), sebagai kumpulan tulisan tersebut. Yang hebat, ia menulis: Prabowo Presidenku (2014).

Dialah Thamrin Dahlan. Yang kini sudah (siap) membukukan Pantun. Ya, kumpulan Pantun. Nggak usah kaget. Karena Uda TD, saya menyebutnya begitu, memang berlatar belakang Melayu yang cukup kuat. Meski, apa hubungannya?, ia seorang pensiunan Polisi.

Selaku Bundo Kanduang Suku Peto Kayo merasa bangga mempunyai adik kandungyang menurunkan bakat bertutur kata Ibunda Hj. Kamsiah Binti Sutan Mahmud (Alm). "Alhamdulillah menulis gaya Melayu kini dituangkan dalam bentuk pantun," kata sambutan pada buku dengan cover sederhana ini.

Menulis pantun, tidak sederhana. Ada aturan-aturan yang "mengikat". Setidaknya, ada rima (irama) yang kemudian bisa menyunggingkan senyum apabila didengar kita. Tersebab akhiran yang pas, dan mengena.

Pantun Madura sipulau Jawa

Bahasa beda entah kenapa

Puluhan pesan masuk ke WA

Hapus hoax pilihlah fakta

Jelas, pantun dengan mengacu kekinian. Aktualitas. Mana mungkin ada (istilah) WA ketika zaman dua puluh tahun lampau. Dan oleh Uda TD diringkus menjadi sebuah pantun jenaka dan masih mengandung "petuah". Selazimnya sebuah pantun.

Inilah yang dikerjakan oleh Kompasianer Thamrin Dahlan dalam menuliskan pantun-pantunnya yang dihimpun dari buku barunya, disebut buku ke-21.  Memang, tidak dimaktubkan di Kompasiana. Kecuali petilan-petilan dan hampir dibuat tiap hari.  Pantun itu ditayangkan di akun medsos yang dipunya. Terutama FB. Sehingga nama-nama hari: Senin hingga Minggu bisa dipantunkan oleh Kompasianer yang satu ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x