Mohon tunggu...
Don Kisot
Don Kisot Mohon Tunggu...

Meminati seni budaya. Berusaha kritis dan sering tergelitik dengan ketidakbenaran- ketidakbecusan dalam hidup kehidupan ini.

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Kembali ke Wayang Tanpa Wawasan

7 Februari 2012   18:34 Diperbarui: 25 Juni 2015   19:56 0 3 6 Mohon Tunggu...
Kembali ke Wayang Tanpa Wawasan
13286505311457822896

[caption id="attachment_169248" align="aligncenter" width="500" caption="Ilustrasi/Admin (Shutterstock)"][/caption] IDIOM wayang kembali menyeruak ke sisi-sisi hidup dan kehidupan kita, utamanya di politik dan pemerintahan. Tak jelas, apakah karena ini terus didengungkan Sudjiwo Tedjo, mantan wartawan yang kebetulan seorang dalang yang seniman. Atau karena Goenawan Mohammad menulis Karna yang memilih mengabdi pada Kurawa tersebut. Yang jelas, dua pemberitaan terakhir tentang 'orang penting' di Tanah Air juga berakar dari cerita wayang, yang sayangnya satu di antaranya salah kaprah. Yang pertama, ini yang salah kaprah, saya ambil beritanya dari kompas.com soal Pandawa Lima di Demokrat. Hasil suvei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebut, dua faktor yang menyumbang turunnya dukungan publik terhadap Partai Demokrat. Faktor yang pertama, terkait dugaan keterlibatan lima petinggi Partai Demokrat dalam kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games. Faktor yang kedua adalah turunnya pamor Susilo Bambang Yudhoyono. Peneliti LSI, Barkah Pattimahu mengatakan, di antara dua faktor tersebut, keterlibatan "Pandawa Lima" dalam kasus wisma atlet SEA Games lebih kuat pengaruhnya dibanding pamor SBY yang melorot. "Hanya butuh satu "Gatot Kaca" (SBY) untuk membuat Demokrat naik tahta di 2009, tapi butuh "Pandawa Lima" untuk membuat Demokrat turun tahta di 2012," katanya di Jakarta, Minggu (5/1/2012). Adapun yang dimaksud dengan Pandawa Lima adalah Anas, Mirwan Amir, Muhammad Nazaruddin, Angelina Sondakh, dan Andi Mallarangeng. Kelimanya terseret dalam kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games. Nazaruddin menjadi terdakwa sementara Angelina menjadi tersangka kasus ini. Yang jadi pertanyaan, tepatkah Anas, Mirwan, Nazar, Angie, dan Andi disebut Pandawa Lima, meski ada embel-embel Demokrat? Harus saya jawab, tidak. Pandawa Lima sudah menjadi pakem paten dalam cerita wayang yang menggambarkan perilaku kebaikan lima ksatria, yakni Puntadewa (Yudhistira), Bima (Brotosena), Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kelimanya bisa dibilang tokoh mulia yang mencari kesucian hati dengan kiprahnya masing-masing. Sedangkan Pandawa Lima yang disebutkan LSI, dari segi apapun tidak pantas disandingkan dengan Pandawa Lima di Mahabharata, itu. Tentang penyebutan SBY sebagai Gatot Kaca, dari mana ukurannya? Tahukah LSI peran si 'otot kawat tulang besi' ini dalam kisah Baratayudha? Perlu klarifikasi untuk menyamakan SBY dengan Gatot Kaca! Yang kedua, saya ambil beritanya dari akun facebook yang mampir ke saya. Ferizal Ramli lulus S3 di Jerman, saat ini tinggal di Munchen. Menjabat Manager SAP Mercy. Juga Ketua perhimpunan pelajar Ina - Jerman. Menulis: "Dahlan Iskan (Menteri BUMN) sang Sengku...ni kah?" Ini terkait keinginannya Dahlan yang Menteri BUMN menjual BUMN kepada pengusaha, yang berarti tidak pro rakyat. Untuk yang kedua saya belum bisa berkomentar lebih banyak. Meski jika yang dituduhkan Ferizal benar, ini harus menjadi kajian yang menarik. Terus terang, sebagai penggemar wayang -- meski ayah saya seorang sopir tetap berusaha mengajak saya menonton 'cermin kehidupan' ini di gedung pertunjukan -- saya senang dengan penggunaan idiom ini. Namun, sekali lagi, harus pada konteksnya. Apapun alasannya harus dengan wawasan. Jangan sampai sekadar menyebut lima orang yang ditengarai (telah) korupsi harus memakai cap orang baik yang justru harus menjadi teladan dalam hidup ini. Gimana LSI?

KONTEN MENARIK LAINNYA
x