Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... Pegawai Negeri Sipil

https://www.youtube.com/channel/UC23hqkOw50KW12-6OHvnbQA

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Midnight Diner", tentang Belahan Jiwa yang Tetap Kembali Sekalipun Bebas untuk Melupakannya

8 April 2020   16:10 Diperbarui: 10 April 2020   19:29 628 11 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Midnight Diner", tentang Belahan Jiwa yang Tetap Kembali Sekalipun Bebas untuk Melupakannya
Zhang Sisi dan Tsao di Midnight Diner, Courtesy of Well Go USA (Sumber: www.cinemaclock.com)

Disajikan di sebuah kedai kecil yang nyaris tersembunyi, berada di sudut sebuah gang yang seakan terjepit di antara bangunan pencakar langit di kota Shanghai. Itu adalah sebuah rumah makan kecil, sederhana, tapi dengan atmosfer yang hangat.

Tidak saja karena rumah makannya, atau bisa juga disebut kedai bagi mereka yang singgah hanya untuk sekadar minum, yang buka mulai tengah malam hingga menjelang fajar, tapi juga karena berbagai kisah kehidupan dari orang-orang yang menjadi langganan atau pernah makan minum di kedai ini. Kedai tengah malam itu ibarat pangkalan kenangan dengan beragam kisah.

Plot dan latar kisah ini adalah dari sebuah film yang berjudul "Midnight Diner". Film China yang dibintangi dan disutradarai oleh Tony Leung Ka Fai ini, diadaptasi dari serial manga Jepang berjudul "Shinya Shokudo" yang ditulis oleh Yaro Abe. Tony Leung Ka Fai sendiri pernah memenangkan kategori aktor terbaik pada Hong Kong Film Awards.

Satu hal yang menarik terkait film ini, bahwa kebiasaan dan selera masak-memasak yang hampir mirip dalam budaya bangsa-bangsa ras Mongoloid, barangkali membuat Midnight Diner sebelumnya telah diadaptasi ke layar kaca di negara-negara lainnya yang sama-sama terkenal dengan aneka macam makanan olahan mie, pasta, dan sayuran ini.

Selain film China yang berjudul "Midnight Diner" produksi tahun 2019 ini, ada juga "Midnight Diner: Shinya Shokudo" yang bisa dikatakan sebagai adaptasi versi orisinilnya dalam bentuk serial TV di Jepang pada tahun 2011, dan "Late Night Restaurant: Simyasikdang", dalam format serial TV di Korea Selatan pada tahun 2015.

Midnight Diner versi film China yang dibintangi oleh Tony Leung Ka Fai, Eddie Peng, dan Joyce Cheng ini, berlatar kesibukan sehari-hari kota Shanghai, China, dengan beragam aktivitas warganya yang nyaris berlangsung sepanjang hari setiap harinya. 

Cerita drama kehidupan manusia yang menyentuh dan mengalir dari satu kisah ke kisah lainnya dari berbagai orang berbeda yang pernah makan di rumah makan atau kedai ini, dalam bingkai selingan cerita masak-memasak dan makanan. Atau sebaliknya, cerita tentang masakan khas China di sebuah kedai yang hangat dengan bingkai selingan berbagai kisah manusia yang pernah singgah di sana.

Cerita ini mengalir dari sudut pandang sang pemilik dan pengelola kedai, The Chef, yang juga dikenal sebagai The Master, yang diperankan oleh Tony, dan keterlibatannya dengan kisah setiap pelanggan di kedainya.

The Chef (Sumber: console.celestialtiger.com)
The Chef (Sumber: console.celestialtiger.com)
Dari sudut pandang sang Chef, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari bersama sebagai pesan moral yang saya pandang cukup berkesan ketika menonton film ini. Tentu saja sesuai dengan judulnya, saya menontonnya saat tengah malam menjelang dini hari.

Kata Chef, meskipun kita bertemu dengan banyak orang dalam hidup, kita tidak mudah dan tidak bisa setiap saat bertemu dengan belahan jiwa kita. 

Ia terkadang bisa saja muncul dalam wujud seseorang yang rela menemani hingga larut malam demi semangkuk Wanton (makanan khas China berwujud daging olahan yang digiling bersama dengan sayuran dan dibungkus dengan tepung olahan, seperti bakso).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x