Mohon tunggu...
Marjono Eswe
Marjono Eswe Mohon Tunggu... Tukang Ketik Biasa
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Menulis Bercahayalah!

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Relaksasi dan Moderasi Diri

9 Oktober 2020   11:09 Diperbarui: 9 Oktober 2020   12:27 50 11 1 Mohon Tunggu...

Angka Nol (0) menjelang akhir tahun ini rupanya mampu menjadi magnet publik,  menggeser dominasi angka 10. Coba sedikt kita buka, ketika kita pinjam dana di bank dan dikenakan bunga 0% tentu akan sangat menarik ketimbang dengan bunga sebesar 10%. Inilah pergerakan angka nol yang mampu mendepak bilangan 10.

Angka Nol menjadi istimewa di sini, memang saat kita belajar berhitung tak pernah dimulai dari penyebutan angka nol, dan kita memastikan mengatakan mulai angka satu, dua, dan seterusnya. Angka 10 akan menjadi nominal atau nilai yang luar biasa sewaktu penulis masih belajar di SD, karena nilai setiap mata pelajaran ata mata ujian berlaku rentang 1-10.

Bagi beberapa kalangan angka 10 merupakan angka sempurna secara akademik kala itu. Dan, kini perkuliahan nampaknya hanya menerapkan rentang ABCD atau 1-4. Jika pun skripsi atau tesis kita beroleh angka 4 atau A, namun perolehan itu tak mereprentasi jaminan sukses selepas lulus dari bangku kuliah.

Jika kemudian angka 0 begitu bergairah, sekurangnya pada fase 3 (tiga) bulan ke depan, lebih karena Kemenkue mengeluarkan kebijakan bebas pajak atau pajak 0% bagi pembelian mobil baru.

Angin segar ini menjadi lahan perebutan bagi pemilik uang atau bagi para kolektor mobil, sungguh ini sebuah kesempatan yang langka yang mampu memanjakan orang untuk memiliki kendaraan yang jauh lebih murah, karena kita tak perlu lagi mengeluarkan kocek buat pajak sepeser pun.

Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh bagi pasar mobil bekas. Ia bisa saja tetap ramai, karena masyarakat yang dananya pas-pasan tetap memilih mobil sehat tapi harga terjangkau. Atau Ia juga dapat sebaliknya, pasar mobkas menjadi sepi, karena warga lebih memilih beroleh barang baru, mutu terjaga, bergaransi dan lebih memberikan kepuasan.

Bagi masyarakat yang dananya sempit barangkali tak terpengaruh dengan kemurahan-kemurahan cara tersebut, mereka harus memoderasi diri. Artinya jer basuki mowo bea. Pembelian mobil, misalnya, mereka harus menyesuaikan dana yang sudah dikantongnya.  Atau pun ketika membeli secara kredit, maka harus diperhitungkan secara matang persoalan angsuran yang menjadi tanggungjawabnya setiap waktu jatuh tempo setiap bulan. Jika tidak, maka mereka hanya akan beroleh predikat, kegedhen cagak kurang empyak (terlampau tinggi cita-cita tapi dananya tidak cukup).

Di satu sisi, memang kebijakan 0% membuat masyarakat berbondong-bondong menjejali showroom, dealer mobil, harapannya ekonomi tetap bergerak di pusaran pandemi covid-19. sementara orang miskin tetap saja berpofesi sebagai pengamat atau penonton belaka.

Bagi penulis sendiri, kebijakan 0% belum mampu mencuri hati untuk membeli produk baru mobil, karena menimbang kesiapan dana juga belum menjadi kebutuhan mendesak. Karena mobil lama masih dalam kondisi sehat dan layak jalan.

Persoalannya bukan 0% nya tapi lebih bagaimana kita mampu konsiten merawat angsuran secara regular dalam kurun 3-5 tahun mendatang. Sudah seharusnya kita tak sontak gembira dengan kebijakan atau sesuatu yang baru, apapun. Termasuk penerapan pajak 0% ini.

Dengan membeli mobil baru, sebetulnya semakin menambah volume kendaraan di jalan yang berpotensi semakin mempercepat proses bisnis kemacetan jalan raya. Sebaliknya, kala tak membeli mobil baru tersebut, sekurangnya kita membantu pemerintah mengurangi polusi udara, udara menjadi bersih mendukung gerakan masyarakat sehat maupun memperbanyak tabungan oksigen bagi kehidupan. Turut mempercantik paru-paru kota.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN