Mohon tunggu...
Marjono Eswe
Marjono Eswe Mohon Tunggu... Tukang Ketik Biasa

Menulis Bercahayalah!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Berkaca dari Panakawan and The Gang

14 Agustus 2020   18:01 Diperbarui: 14 Agustus 2020   18:22 15 5 1 Mohon Tunggu...

Usreg intoleransi Mertodranan Solo (8/8) meleleh di tengah kita berjuang menghadapi dan mengatasi pandemi covid-19. Artinya, kita harus meneguhkan kembali semboyan Bhinneka Tunggal yang mencengkeram kuat di kaki Burung Garuda, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Itulah kapital basis yang jadi kekuatan membangun bangsa. Ingat, bangsa ini lahir diatas banyak perbedaan didalamnya, yaitu terdiri atas banyak suku, etnis, golongan dan agama. Yang kemudian dipersatukan dalam satu semangat juang dan persamaan tujuan untuk menggapai cita-cita menuju Indonesia merdeka, adil dan sejahtera.

Untuk itu, merawat persatuan, kebersamaan, kegotong royongan, dalam kibaran Merah Putih itu harus dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bukan hanya besar karena letak geografisnya yang sangat strategis yaitu diantara dua samodra dan dua benua, terbentang dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Pula Rote, punya jumlah penduduk besar (demogafis) dan kekayaan alam yang melimpah. Bangsa ini besar juga karena punya semangat juang untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan serta bagaimana dapat terus merawat persatuan, kesatuan dalam ke-Bhinneka-an guna menghadapi berbagai persoalan.

Bung Karno dalam pidatonya pada tahun 1955 menyerukan jargon kebhinekaan, yaitu: "Indonesia bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Marauke!" Dalam kehidupan berbangsa kita harus menerima kebhinekaan sebagai sebuah fakta.

Saat ini bangsa kita sedang diuji. Ujian atas kemajemukan bangsa. Kita prihatin menyaksikan anak-anak bangsa yang saling sikut menyikut, hujat menghujat dan menebar kebencian satu sama lain, saling serang, saling keroyok dan viral di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Kita juga sedih ada sebagian saudara kita yang sangat pragmatis, atau berpikir untuk tujuan sesaat demi kepentingan sempit (pribadi dan golongan). Padahal ada kepentingan lain yang lebih besar yaitu kepentingan negara dan bangsa.

 Apalagi pada era kemajuan teknologi dan kebebasan menyatakan pendapat, seringkali orang dengan sesuka hati berpendapat tanpa mempedulikan yang lain. Mereka mengkritisi tanpa solusi tetapi justru penuh kata-kata memaki. Rasanya kita terhenyak dan dikejutkan atas kerja keras Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri yang telah menangkap 72 tersangka kasus tindak pidana terorisme. Penangkapan dilakukan di delapan provinsi di Indonesia selama periode 1 Juni hingga 12 Agustus 2020 (okenews.com, 14/8/2020). Menurut informasi kepolisiaan terdapat jaringan dengan kelompok radikal. Meski rencana, ini sudah perbuatan keji. Bagaimana kalau tidak diamankan dulu oleh polisi. Maka akan banyak jatuh korban jiwa.

Kita yakin ujian ini semestinya menjadikan momentum proses untuk naik kelas menjadi bangsa yang makin besar. Tinggal bagaimana kita dapat menyikapi ujian ini dengan baik. Untuk naik kelas menghadapi ujian ini, maka Bhinneka Tunggal Ika hendaknya bukan sekedar dipahami artinya. Tetapi harus betul-betul dihayati dan diamalkan. Termasuk nilai-nilai yang terkandung pilar ke-Indonesia-an juga harus betul-betul mampu diimplementasikan secara baik dalam sikap dan perbuatan serta karya nyata.

Itu semua adalah Ibu kandung yang memperkuat bangunan keberagaman bangsa kita. Ketika kita mengamalkannya sebagai perilaku harian, maka sama saja  kita  telah memperkuat bangunan bangsa ini sehingga makin kokoh dan kuat menuju bangsa besar. Maka pada konteks kerukunan-persatuan, upaya merawat keberagaman, satu hal yang harus dilakukan adalah memperkuat toleransi kehidupan antar warga bangsa. Mutual tri kerukunan umat beragama harus dimantapkan, penghargaan antar satu suku dengan suku lainnya harus dikokohkan, serta yang tidak kalah penting saling menghargai perpedaan pendapat antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Indah sekali penghargaan dalam suatu perbedaan. Apapun itu.

Budaya Damai

Yang pasti hari ini, Solo atau Indonesia itu bukan hanya aku. Indonesia juga bukan hanya kamu. Indonesia adalah kita semua.  Pengakuan akan adanya pluralitas dan kesediaan untuk menghormati kemajemukan bangsa Indonesia. Inilah yang lebih menjamin persatuan-kesatuan serta integrasi nasional dalam rentang waktu panjang, kukuh dan lestari. Tidak ada satu kelompok lebih dari yang lain. Tidak ada mayoritas mendzolimi minoritas, atau minoritas menjadi sebuah tirani di negeri ini. Semua pada kedudukan yang sama sebagai warga Indonesia.

Meminjam istilah Indra Tranggono (Kompas, 4/12/2016), Panakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong terus hidup rukun. Meskipun kadang berselisih paham dan saling mengkritik serta mengejek, mereka tetap solid dan kompak. Selain itu, Panakawan and The Gang-nya sangat meyakini bahwa keselarasan dapat menciptakan kerukunan tanpa pemisahan, pengucilan (segregasi) dan kekerasan.

Prinsip mereka: rukun agawe santosa, crah agawe bubrah (kerukunan menciptakan kekuatan dan permusuhan menimbulkan kehancuran). Panakawan dan anggotanya yang paham ngelmu (ilmu) sak cukupe lan sak butuhe (pentingnya manusia memiliki batas atas kepemilikan). Rakyat pun ingin naik kelas : hidup damai, guyup, dan rukun layaknya Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang lahir dari rahim masyarakat. Inilah kontemplasi untuk selalu meniupkan budaya ramah, damai dan toleran di sekujur Indonesia.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x