Mohon tunggu...
Teka Teki Malam
Teka Teki Malam Mohon Tunggu... Alam yang Memanjakan

Pahami saja dirimu terlebih dahulu, baru mulai memahami orang lain. Jika belum paham, jangan mencoba memahami orang lain. Kamu harus tahu kamu siapa. Aku juga masih mencari tahu

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Asa Profesionalitas Buruh Berita

24 Mei 2019   19:54 Diperbarui: 24 Mei 2019   20:06 0 1 0 Mohon Tunggu...

Malam sudah sangat larut, tapi mereka yang berprofesi sebagai jurnlias masih di luar, masih bekerja, demi memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat. Tidak banyak anak yang memiliki cita-cita menjadi seorang jurnlis, bahkan mungkin tidak ada. Bahkan seorang jurnalis pun mungkin tidak pernah mendambakan menjadi seorang jurnalis. Orang-orang yang menjadi jurnalis merupakan manusia langka, kenapa ? karena di era saat ini menjadi jurnalis bukanlah pilihan utama.

Profesi ini kerap dianggap sebelah mata, terlebih mereka yang memiliki pekerjaan dengan gaji yang tinggi, padahal mereka tidak pernah menyadari peran jurnalis sangatlah besar, bukan hanya untuk perusahaan yang menaungi si jurnalis, tapi untuk bangsa ini.

Untuk masyarakat. Bayangkan saja jika sehari saja tidak ada berita di televisi, radio, koran maupun portal berita online. Kalian buta akan informasi yang terverifikasi, tidak akan pernah tahu ada kejadian apa dibelahan dunia sana.

Semua orang mendambakan mempunyai pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan yang sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan lebih. Tapi tidak bagi orang yang berprofesi sebagai jurnalis. Upah seorang jurnalis hanya lebih besar sedikit dari upah minimum kota, terlebih jurnalis muda yang baru memulai langkahnya di dunia pemberitaan. Padahal, jurnalis dituntut untuk selalu profesional dalam menjalankan tugas, tidak memihak, kritis, skeptis, serta selalu berada di antara masyarakat kecil, terlebih yang tertindas.

Hal itu diperparah dengan upah yang tidak rutin keluar, bahkan ada jurnalis yang telah berbulan-bulan upahnya tidak keluar karena keuangan perusahaan yang tidak menentu. Tapi, seorang jurnalis tetap dituntut profesional, di tengah himpitan ekonomi, dan kebutuhan hidup sehari-hari. 

Hal ini juga lah yang menyebabkan banyak jurnalis yang menerima, bahkan berharap "amplop" dikeluarkan narasumber untuknya. Belum lagi pada "bodrek" yang selalu menggerogoti marwah jurnalis, banyak orang yang menganggap jurnalis hanya mencari uang dibandingkan nilai berita yang diliputnya.

Profesi jurnalis saat ini bukan hanya berbicara mengenai kepekaan, maupun kecerdasan. Tapi juga dibutuhkan modal, sebut saja perlengkapan "perang" yang saat ini harus dimiliki jurnalis, kamera, smartphone, serta kendaraan guna dapat menjangkau lokasi liputan. Tanpa itu semua, apakah tetap bisa jurnalis mendapatkan berita, jika hanya mengandalkan kepekaan, nalar dan kecerdasannya di era digital saat ini ?

Saat ini seorang jurnalis juga dituntut membuat semua komponen yang dapat menjawab tantangan di era digital, yakni membuat naskah berita, video, foto, bahkan live report dari satu orang jurnalis. Jadi, saat ini bukan hanya jurnalis televisi saja yang membuat video, tapi jurnalis media cetak, radio, serta media online.

Miris memang, disaat informasi yang akurat, serta terverifikasi dibutuhkan masyarakat, seorang jurnalis masih sibuk memikirkan mengenai kapan upah akan diberikan, kapan upah naik, dan kapan lainnya yang selalu membuat jurnalis merelakan kesenangannya demi nilai profesionalitas. 

Jurnalis merupakan benteng dari berita-berita hoax yang kerap tersebar di media sosial. Percayalah kepada seorang jurnalis, mereka tidak akan tega membuat berita yang tidak benar, apalagi berita yang dapat memicu kebenciaan.

Hal ini juga lah yang membuat banyak jurnalis banting stir menjadi tim peliput kegiatan pejabat, serta politikus. Di musim Pemilu, tidak sedikit jurnalis yang menjadi tim sukses, tapi tidak ditempatkan diposisi yang strategis, hanya sebagai juru foto maupun kameramen. Godaan upah yang melibihi kerja jurnalis lah yang membuat jurnalis memilih terjun bebas, mengkebiri marwahnya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2