Mohon tunggu...
Teguh Gw
Teguh Gw Mohon Tunggu... Pernah menjadi guru

Pemerhati pendidikan, tinggal di Semarang, Jawa Tengah

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

"Yang Terhormat" Mestikah Tunggal?

28 Agustus 2020   13:53 Diperbarui: 28 Agustus 2020   13:47 114 8 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Yang Terhormat" Mestikah Tunggal?
Tangkapan layar

Yang terhormat, Kanjeng Ratu Agung Sejagat;
Yang terhormat, Kanjeng Patih Agung Sebenua;
Yang terhormat, Kanjeng Tumenggung Agung Senusa;
... dst.

Tidak sekali dua kali saya mendapati kultistis (kuliah kritis gratis) yang menyalahkan rangkaian sapaan dalam pembuka pidato seperti itu. Di mana salahnya? Itu, lho, penyebutan "yang terhormat" secara berulang-ulang. Kenapa salah? Awalan ter- dimaknai "paling". Logikanya, yang paling itu selalu hanya satu di antara sekumpulan objek.

Indonesia adalah negara terkaya di Asia.

Jika pernyataan itu benar, Cina adalah negara terkaya di Asia menjadi salah. Cina mungkin memang kaya, tetapi tidak sekaya Indonesia. Semua negara di Asia boleh mengaku atau dibilang kaya, tetapi satu-satunya yang terkaya hanya Indonesia.

Analogi demikian itu yang dipakai sebagai dasar untuk menyalahkan sapaan pada baris ke-2 dst. pada contoh pembuka pidato di atas. Hobi menggugat saya lalu kumat. Betulkah ter- pada yang terhormat itu bermakna paling? Jika betul, berarti yang terhormat = yang paling hormat. Ini mengambil makna ter- yang melekat pada kata sifat (adjektiva). Sedangkan kata hormat di dalam KBBI diartikan sebagai berikut. 

Mengikuti rumus bahwa yang terhormat = yang paling hormat (adjektiva, arti 1), maka Yang terhormat, Kanjeng Ratu Agung Sejagat mesti dipahami sebagai "yang paling menghargai (takzim, khidmat, sopan), Kanjeng Ratu Sejagat". Atau, kalau diinversi menjadi Kanjeng Ratu Agung Sejagat yang terhormat, arti yang dapat dipahami adalah "Kanjeng Ratu Agung Sejagat yang paling menghargai, paling takzim, paling khidmat, paling sopan".

Sejauh pemahaman saya (padahal, pemahaman saya hanya dekat-dekat saja), hormat pada terhormat itu masuk kelas (walaupun bel belum berdentang) kata nomina (arti 2). Ketika melekat pada nomina atau verba, ter- punya makna (tidak sengaja) di- atau (orang yang layak) di-.

  • Ketika memaku tembok, jempolku terpalu (tidak sengaja dipalu [olehku]).
  • Akhirnya ia ditetapkan sebagai terdakwa (orang yang didakwa [sebagai kriminal]).

Makna ter- pada kata terhormat dapat dilacak dari pemakaiannya dalam contoh-contoh berikut.

  1. Sebagai bangsa terhormat, kita tidak pantas membiarkan rasuah membudaya dalam praktik bernegara. >> bangsa terhormat = bangsa yang (layak) dihormati
  2. Ia membalas caci maki mereka dengan cara terhormat. >> cara terhormat = cara yang layak dihormati
  3. Para hadirin yang terhormat disilakan duduk kembali. >> yang terhormat = yang (layak) dihormati

Tidak bisakah ter- dimaknai sebagai (yang) paling di-? Jadi, yang terhormat, Bapak Gubernur dimohon pulang = yang paling dihormati, Bapak Gubernur dimohon pulang? Usulan arti baru ini bisa diterima asal konsekuen. Apa konsekuensinya? Arti tersebut dapat digeneralisasi pada kata-kata yang lain sehingga berlaku secara universal. Misalnya, ketika ter- diimbuhkan pada kata cinta, maka tercinta = yang paling dicintai.

Mari, berilustrasi.

  1. Pada hari-hari pertama berumah tangga, saya suka sok romantis. Menjelang tidur malam, saya selalu memanggil (baca: merayu) istri saya dengan panggilan istriku yang tercinta. Namun, panggilan mesra itu selalu gagal mewujudkan pamrih saya. Bukannya bermanja-manja dalam kepasrahan, justru istri saya membalikkan badan dengan muka ditekuk. Suatu pagi pada hari libur, ketika istri saya tengah memasak di dapur, saya coba melancarkan serangan serupa. "Istriku tercinta, ...." panggil saya, lembut nan syahdu. Apa yang kudapat? Wajan mendarat deras di wajah saya! Lhah, apa pasal? Dia mengartikan istriku tercinta = istriku yang paling dicintai (olehku). Kalau dia--istri saya yang (masih) baru itu--adalah istri saya yang paling saya cintai, berarti ada istri(-istri) saya yang lain yang kurang saya cintai. Pantaslah dia marah!
  2. Pada pesta perkawinan saya yang ke-4, saya memperkenalkan tiga istri saya terdahulu kepada istri saya yang terbaru. "Istriku tercinta, kenalkan," kata saya, "Ini ketiga kakakmu. Mereka semua istriku yang tercinta." Satu per satu, ketiga istri terdahulu (bukan istri tua karena ketiga-tiganya masih muda; bukan juga istri lama karena mereka baru saya nikahi--berturut-turut--tiga, dua, dan satu hari sebelumnya) saya menyalami istri terbaru saya. Semua tersenyum tulus karena merasa sama-sama tercinta (dicintai oleh saya, dengan kadar setara). Lalu kami berswafoto. Saya duduk di tengah, diapit dua istri tercinta di kanan dan dua istri tercinta di kiri. Betul-betul selfie karena sudah tidak ada orang lain yang masih tinggal di arena pesta. Mungkin mereka tidak tahan menyaksikan kebahagiaan kami berlima. Atau, mungkin juga mereka takut tertular sukses saya berpoligami! 
  3. Sebulan menjelang pesta perkawinan kami--yang empat hari berturut-turut itu--saya menyiapkan surat undangan. Jumlahnya sekira 4.000 lembar. Saya berencana mengundang semua orang yang saya kenal, dari segala lapisan sosial. Ada kalangan pejabat, kaum agamawan, politisi, pebisnis, pegawai negeri, buruh swasta, seniman, pengamen, penganggur, gelandangan, pengemis, hingga orang gila. Pada kolom alamat di sampul undangan untuk semua kasta itu tertulis Kepada Yth. .... Saya tidak tahu, mereka merasa sebagai "yang paling dihormati" atau "yang layak dihormati" (oleh saya). Yang jelas, saya tidak bermaksud menipu 3.999 orang di antara 4.000 orang undangan yang terhormat itu. 

Sebagai pelengkap, saya sematkan arti sejumlah kata berawalan ter- (hasil tangkapan layar KBBI daring) yang senada dengan terhormat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN