Mohon tunggu...
Teena .
Teena . Mohon Tunggu...

Jadi kompasianer supaya bisa menulis INI dan ITU

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Hendaknya Ajal di Tangan Tuhan

19 Januari 2015   00:26 Diperbarui: 17 Juni 2015   12:51 11 0 0 Mohon Tunggu...

Tadi malam, 5 orang yang dijatuhi hukuman mati karena drug trafficking akhirnya dieksekusi oleh regu tembak.  Alhasil Brazil dan Belanda menarik Duta Besar mereka sebagai penyataan protes karena permohonan pengampunan untuk warga mereka tidak dikabulkan pemerintahan Jokowi.  Hukuman mati dinilai tidak berperikemanusiaan.

Saya jadi teringat kasus serupa di Singapura.  Nguyen Tuong Van, warga negara Australia keturunan Vietnam, tertangkap basah membawa heroin yang jumlahnya 26 kali jumlah maksimum untuk ancaman hukuman mati.  Pria yang berusia 24 tahun saat itu sebenarnya hanya sedang transit, membawa dari Vietnam ke Australia.  Kasus ini lantas menjadi berita besar baik di Singapura maupun di Australia.  Pemerintah Australia dan organisasi-organisasi masyarakat mengajukan permohonan pengampunan kepada pemerintah Singapura tapi hukum Singapura yang memang tegas dalam hal ini, menolak memberikan keringanan.

Saya ingat karena saya waktu itu berpikir, umur 25 tahun, masalah terberat apa yang saya punya?  Nguyen menerima job jadi kurir heroin ini karena katanya butuh uang untuk membantu saudara kembarnya melunasi hutang.  Ini perjalanan Nguyen ke luar negeri pertama kali sejak keluarganya mengungsi ke Australia waktu dia masih bayi.  Umur 25 tahun, beban saya yang paling berat barangkali hanya stress karena ujian dan tugas kuliah.   Saya waktu itu baru akan memulai hidup saya sebagai seorang yang sudah dewasa, sementara hidup Nguyen ditentukan oleh pemerintah Singapura sudah berakhir.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan seseorang yang menunggu ajalnya.  Apalagi sudah tahu akan seperti apa akhirnya.  Saya membayangkan teror yang luar biasa.  Apakah ajal sudah bukan rahasia Tuhan lagi? Kejahatan apa yang layak diganjar hukuman mati?  Penjahat seperti apa yang layak dihabisi?  Di agama saya, Tuhan Yesus mengatakan ”Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Markus 12:17).   Hukum manusia berlaku di bumi ini, hukum Tuhan berlaku di akhirat.  Menurut saya, mencabut nyawa seseorang sudah masuk ke ranah Tuhan, apa pun alasannya.

Sementara itu, ada orang-orang Indonesia yang juga menunggu ajal di negara lain karena melanggar hukum negara bersangkutan.  Semoga pemerintah kita tidak akan berhenti mengusahakan pengampunan kepada mereka walaupun sudah menolak memberikan pengampunan dalam kasus ini.

Mungkin suatu hari hukuman mati akan dihapus tapi nyawa orang-orang seperti Nguyen tidak akan kembali lagi.  Lalu bagaimana dengan mereka yang dipinjam tangannya oleh pemerintah untuk mewakili malaikat maut?  Saya hanya berharap, pada saat mereka menjelang ajalnya tidak akan terbebani oleh kesadaran telah mencabut nyawa orang.

-Teena-

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x