Mohon tunggu...
TauRa
TauRa Mohon Tunggu... Konsultan - Rabbani Motivator, Penulis Buku Motivasi "The New You" dan Pembicara Publik

Rabbani Motivator, Leadership and Sales Expert and Motivational Public Speaker. Instagram : @taura_man Twitter : Taufik_rachman Youtube : Taura_Official email : taura_man2000@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

"Football is Coming to Rome"

12 Juli 2021   07:06 Diperbarui: 12 Juli 2021   07:07 242 28 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Football is Coming to Rome"
Italia Juara Eropa tahun ini (liputan6.com)

Tuntas sudah perhelatan akbar Piala Eropa tahun ini. Ya, beberapa saat yang lalu Italia baru saja membuat Inggris menangis di depan publiknya sendiri. Inggris harus melihat Italia berpesta juara di stadion kebanggaan mereka, Wembley. Ya, Italia adalah juara Eropa edisi tahun ini.

"Football Is Coming Rome"

Media-media Inggris sudah menantikan berita besar hari ini yang mungkin akan berjudul "Football is coming home". Tapi yang terjadi justru sebaliknya, "Football is coming Rome", plesetan yang dibuat salah seorang pendukung timnas Italia yang mengatakan kalau tropi piala Eropa tidak akan ke Inggris, tapi justru akan ke Roma, Italia. Tentu sebuah plesetan yang manarik dan akhirnya menjadi kenyataan.

Ya, Inggris sejatinya tidak bermain jelek. Bahkan, Inggris sudah mampu unggul cepat saat laga baru berjalan 2 menit. Umpan manis Kieran Trippier dari kanan berhasil di tuntaskan dengan sempurna oleh Luke Shaw di kiri yang sekaligus bisa dipertahankan hingga babak pertama berakhir.

Tapi sekali lagi, Italia tetaplah Italia. Seperti kebiasaan mereka pada umumnya, Italia berhasil mendapatkan gol penyeimbang di babak kedua dalam situasi kemelut di depan gawang Pickford. Singkatnya, ini adalah gol ciri khas Italia yang sering membuat gol dari situasi kemelut di kotak penalti.

Setelahnya memang terlihat kedua tim tampil lebih hati-hati dalam melancarkan serangan hingga akhir babak kedua dan perpanjangan waktu tetap berakhir dengan 1-1 hingga dilanjutkan adu tendangan penalti.

Perjudian Southgate

Di menit 119 atau 1 menit sebelum adu penalti terjadi, pelatih Inggris memasukkan 2 pemain yang danggap mampu menjadi penendang penalti sukses buat Inggris. Dua nama yang di musim depan akan menjadi rekan 1 tim di Manchester United yaitu, Rashford dan Jadon Sancho.

Sayangnya, apa yang menjadi harapan Southgate tidak terbukti. Kedua pemain ini lah yang justru gagal memasukkan bola ke gawang Italia di babak adu penalti. Tendangan Rashford membentur tiang sedangkan tendangan Sancho berhasil ditepis Donnarumma. Yang menarik adalah, kedua pemain ini memakai sepatu yang sama di pertandingan itu. Apakah warna sepatu berpengaruh? tentu bisa kita bahas di waktu yang lain.

Meski sempat punya harapan ketika Pickford menggagalkan penalti Jorginho, tapi penendang kelima Inggris yang masih berusia 19 tahun, Saka, juga gagal menjaringkan bola karena tendangannya berhasil ditepis Donnarumma.

Tentu menjadi pertanyaan, kenapa anak 19 tahun diberikan kepercayaan menjadi penendang kelima yang biasa menjadi penendang paling penting dalam sebuah adu penalti? Padahal di sana masih ada Jack Grealish yang merupakan andalan Aston Villa ketika mengeksekusi penalti?

Jika pertanyaannya dilanjutkan, kenapa harus memasukkan Sancho dan Rashford diujung akhir pertandingan jika mereka hanya untuk mengeksekusi tendangan penalti? jangan-jangan kegagalan mereka salah satunya disebabkan karena mereka "belum panas" di lapangan? Bukankah lebih baik memasukkan mereka 10 menit lebih awal untuk "mengajak lari" bek-bek Italia yang sudah terlihat sangat kelelahan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN