TAUFIQ RAHMAN
TAUFIQ RAHMAN

Tinggal di Surabaya, bekerja di Jakarta. Senang menulis dan berbagi kisah inspirasi, agar orang lain bisa bermimpi dan berbuat lebih.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Puisi Bunga Aprikot

17 Juli 2017   08:55 Diperbarui: 17 Juli 2017   09:19 195 1 1

Farah duduk di belakang. Sambil menggenggam erat tas kresek hitam, tangannya yang kecil memeluk pinggangku. Langit sore yang sedikit mendung bercampur angin, membuatku memacu motor agak cepat. Hujan bisa turun setiap saat.

Aku memarkirkan motor di bawah pohon lamtoro di depan rumah kayu bercat biru kusam. Itu rumah kami. Lengang. Tas kresek hitam berisi sepatu dan kaos olah raga yang kami beli di pasar tadi, aku taruh di kasur kapuk tipis, di atas amben. Secepat kilat Farah membuka tas kresek dan mencoba sepatu barunya. Betapa suka citanya dia.   

Aku sangat menyayanginya, itulah yang selalu kusimpan dalam hati hampir sepanjang tujuh tahun kehadirannya. Meskipun aku jarang pulang, aku tak pernah benar-benar menyia-nyiakan hidupnya. Aku rela bekerja apa saja dan tinggal di kontrakan pengap, karena dia.

Tak kusangka, Rabu minggu lalu, keinginanku menemui pak Darma akhirnya terlaksana. Aku sodorkan kepadanya selembar surat. Ketika suaraku belum lagi keluar, pak Darma sudah mengeluarkan amarahnya. Tarikan alisnya, suara nafasnya, dan gayanya memandang, menunjukkan ia sangat marah dan tidak suka dengan keputusanku mengundurkan diri.

Itulah kemarahan pak Darma terbesar padaku. Kemarahannya semakin menjadi-jadi ketika aku memintanya untuk menandatangani surat pengalaman kerja yang telah aku siapkan sebelumnya. Dengan wajah menahan murka, ia menolak menandatangani dan mengancam akan menahan gaji terakhirku.

Sudah hampir enam tahun aku mengabdi kepadanya dan selalu berusaha membesarkan rasa sabarku. Karena, bukankah banyak orang mengatakan agar kita tak gampang menyerah pada segala kesulitan? Namun, ternyata pengalamanku bekerja sebagai pelaksana di perusahaan kontraktor kecil selama ini benar-benar membuatku hampir mati lemas.  

Walaupun menjadi pelaksana bukan cita-citaku, tetapi aku berusaha menunjukkan dedikasi terbaikku untuk perusahaan. Setiap hari aku berusaha menyelesaikan tugas yang diberikan pak Darma hari itu juga. Aku tak mau menumpuknya untuk esok hari. Aku sebenarnya ingin pergi meninggalkannya, tetapi aku benar-benar tak punya pilihan. Aku sudah sangat lelah berjalan ke sana kemari menenteng amplop berwarna coklat sebelumnya, sambil mengharap ada perusahaan yang mau menjadikanku sebagai arsitek, sesuai bidang yang kutekuni. Namun sungguh sial, ternyata, tak ada satupun perusahaan yang menerima lamaranku. Mendapati kenyataan itu, saat wawancara terakhir di sebuah ruko di daerah Fatmawati, aku hanya bisa pasrah menerima tawaran pak Darma, menjadi pelaksana sekaligus logistik proyek.

Sungguh! Tak ada bahagia sedikitpun dalam pekerjaanku itu. Aku harus bangun subuh, berangkat kerja sebelum jam 6 pagi, menyusuri jalan kecil dengan pemandangan jemuran baju di halaman depan rumah-rumah mereka, lalu melewati kebun kosong tak terurus, mampir sebentar ke warung mak Ipah untuk sarapan ketan dengan serundeng. Sepuluh menit kemudian, aku sudah duduk di kursi plastik keras kopaja P20. Aku kerap mengutuki diri sendiri, mengapa aku dulu tak pernah menolak diserahi tugas membawa kunci ruangan pimpinan. 

Setiap hari, aku harus datang ke lapangan, mengontrol pekerjaan tukang-tukang dan memberi perintah mandor, mengikuti rapat dan membuat laporan, datang ke toko-toko bangunan lalu meminta diskon, membawa contoh segala macam barang, lalu mensortir puluhan kuitansi setiap hari. Setiap Jumat aku harus rela menerima omelan dari pemilik toko-toko karena tagihannya belum dibayar oleh kasir kantor.

Di depan orang dan petugas sensus, aku kerap berbohong, mengaku bekerja sebagai arsitek perusahaan properti besar dan menerima gaji belasan juta perbulan. Maka, bukanlah salah mereka jika asumsi-asumsi konserfatif yang digunakan berikut hasil-hasil sensus sama sekali tidak mewakili keadaanku yang sebenarnya. Aku tak peduli!

Sekarang, aku merasa aku adalah ayah yang nyaris gagal. Pegawai bagian umum, lulusan perguruan tinggi terkenal dengan nilai bagus, bekerja lebih dari 12 jam sehari, hidup di kontrakan pengap seharga 700 ribu sebulan, dan setiap hari harus duduk di kursi kusam dengan banyak coretan atau jika aku sial, aku harus rela bergantungan di tiang besi karatan dengan tulisan gede di kaca depan "Lebak Bulus-Senin". Secara psikografi, aku bahkan menyebut diriku adalah ayah yang tidak memiliki masa depan. Malah, aku hampir kesulitan mencari definisi dan format masa depanku. Mertuaku pasti sangat cemas dan menghawatirkan nasib putrinya.

Aku sekarang juga memiliki sikap realistis yang lain, bahwa membangga-banggakan masa silam, sama sekali tidak membantu. Maka, sekarang, aku benar-benar hampir lupa betapa aku dulu pernah berdiri gagah di depan ruang kelas, dan berdebat di depan guru soal rumus integral dan geometri yang rumit, atau ketika puluhan kali aku berdiri di panggung sambil mengangkat piala. Aku juga hampir lupa berapa kali aku juara kelas.

Setiap hari, sehabis kerja, menjelang jam 9 malam, aku sering duduk di bawah pohon mangga, di pinggir lapangan basket, di dekat kamar kontrakanku. Menghadap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, aku sering merenungi nasib. Aku kerap menyalahkan diri sendiri!   

Sekarang, hanya Farah-lah satu-satunya hiburan dalam hidupku. Dia cerdas, manis dan penurut. Saya kadang-kadang menyesal, sering membohonginya hanya gara-gara aku tidak memiliki uang berlebih. Aku sering merangkulnya, sambil berkata "Nanti kalo Farah juara satu, pasti Ayah belikan kado." Usianya masih 7 tahun. Saya harus menyelamatkan hidupnya!  

Lelah seharian bekerja, tapi jika mendengar suara Farah di ujung handphone dan melihat semangat belajarnya, aku jadi semangat menjalani hidup. Demi dia, aku rela kerja lembur hingga dinihari, membantu atasanku membuat laporan dan rencana anggaran, membuat gambar, menerima ketikan dan terjemahan bahasa Inggris. Anak kecil itu sering membawaku hanyut dalam semangat.  

Demi Farah, aku tulis janjiku dengan spidol merah besar di dinding kamar kontrakan: aku tidak ingin pensiun dalam keadaan miskin! Menjalani masa tua hanya duduk di amben bambu setiap pagi. Menyeruput kopi, mengibas-ngibaskan koran lawas..... lalu tahu-tahu adzan Dhulur berkumandang. Demikian seterusnya. Setiap hari seperti itu! Lalu aku mati merana sebagai orang yang bukan siapa-siapa.  

Jarum jam sudah menunjukkan angka 10 lebih. Aku menatap wajah putri satu-satuku yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang ia ucapkan setip hari di ujung handphone, atau teringat saat ia menggelayut manja di pundakku saat aku pulang sebulan sekali. Kusentuh perlahan wajahnya yang lembut dan kusadari inilah kali pertama mataku berkilauan. Aku mencium keningnya.

Aku sedih melihat gambar di kertas folio yang dibingkai pigura murahan, di atas meja kayu. Ada gambar orang dengan mata bulat besar dan tulisan ayah dibawahnya, sedang menggandeng anak kecil yang diberi lidah besar menjulur. "Ini kado ulang tahun Ayah, foto Ayah sama Farah. Besok Ayah belikan tempat gambar ya Yah...." katanya serius, menyebut pigura, yang hingga sekarang belum sempat aku belikan. Gambar yang indah. Tentang rasa cinta yang besar kepada ayahnya.

Dadaku semakin serasa sesak.

Keputusan sudah aku ambil. Aku sudah menandatangi kontrak dengan perusahaan Jepang selama 2 tahun. Besok aku harus berangkat. Tas besar penuh pakaian dan dokumen sudah siap di ruang tamu.  

Aku membayangkan besok aku sudah tidak bisa merangkul Farah. Tiga hari lagi aku sudah sudah berada di pabrik besar. Aku ingin menyusuri jalan setapak, di samping pabrik itu, menuju taman yang ditumbuhi bunga Aprikot. Aku ingin duduk sepuas hati di sana. Di tempat itu, aku ingin menulis kisah hidupku dan cita-citaku menyelamatkan masa depan Farah.