taufan satyadharma
taufan satyadharma Swasta

ABNORMAL | ig : taufansatyadharma

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Penunjuk Tapak Rindu

9 Januari 2019   15:45 Diperbarui: 9 Januari 2019   15:58 425 1 0
Penunjuk Tapak Rindu
Dokpri

Bunga nampak bermekaran pada pagi hari. Tidak ada yang dapat menghalangi bunga-bunga teratai ini untuk bermekaran saat terkena belaian hangat Sang Mentari. Seolah mereka ingin menyapa, jika hari ini selalu istimewa. Ya, sebuah hari kelahiran yang memberikan kelahiran berikutnya. Mengenalkan sebuah kelahiran pada dunia, lalu mengajarkan apa arti sebuah cinta.

Surga berada di telapak kaki ibu hanya berlaku bagi mereka yang hanya mengidamkan kenikmatan surga. Andaikata surga itu tidak terciptakan, apakah kamu masih bersedia memperhatikan telapak kaki ibumu? Andaikata segala laku yang nampak seperti neraka dengan kasihnya yang selalu memanaskan hati, semestinya tak menggoyahkan rasa dan hanya yakin kita akan tetap mencintainya. Walau mesti dengan seribu senyap. Sejauh mata memandang bahkan jika alam telah memisahkan, seseorang yang paling berharga adalah ibu.

Ibu, ibu, ibu, lalu bapak bukanlah sembarang idiom. Kenapa ibu mesti diulang tiga kali baru setelah itu bapak. Ibu pertama adalah tentang sebuah pengasuhan, sejak dari dalam kandungan hingga kita menemukan kemandirian, ibu lah yang selalu utama memberi perhatian. Kemudian ibu yang kedua adalah tentang beliau yang memiliki kuasa atas kehidupan kita. 

Makanya, selalu kita diingatkan jangan sekali-kali pernah membantah atau menyakiti hati ibu nanti kita akan kualat. Ibaratnya kewajiban atas diri kita milik Allah, tapi hak atas diri kita hanyalah seorang ibu. Dan yang terakhir, ibu sebutan yang ketiga adalah tentang bagaimana seorang ibu adalah representasi dari af'al Allah. 

Rasa sayangnya, perhatiannya, murkanya, dan segala sifat lainnya. Jadi ada baiknya kita selalu ingat, apa pesan yang selalu disampaikan ibu. Bisa saja itu sebuah reward atau peringatan yang Allah sampaikan.

Setiap perempuan adalah calon ibu dengan berbagai macam kompleksitas lakunya yang memiliki khas tersendiri. Seseorang yang nantinya diberikan amanat untuk menyediakan jalan surga kepada kehidupan-kehidupan yang ditipkan kepadanya. Seseorang yang sangat mudah juga melemparkan ke jurang nestapa bagi kehidupan yang dititipkan. Sebuah hak prerogatif yang istimewa telah diberikan oleh Allah kepada setiap wanita.

Walau kenikmatan itu telah pudar, menyusui pun terkadang enggan. Entah lupa atau melupakan diri dengan dalil pekerjaan. Ya, manusia pun sama sekali tidak bisa memberi petunjuk kepada orang yang dikasihi. Baik itu antara sahabat sejak dari kecil, antar sepasang kekasih atau suami-istri dengan pondasi cintanya yang terkuat sekalipun, bahkan anak ke orang tua atau sebaliknya yang sudah pasti saling memberikan yang terbaik. Semua itu pun sama sekali tidak akan mempan jika Allah tidak memberi petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya.

Petunjuk disini masih memiliki makna yang sangat kompleks. Terkadang petunjuk yang disampaikan manusia lain pun jika dibenturkan dengan "boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu", semua juga seperti angin, hanya lewat. Petunjuk disini mungkin lebih kearah sebuah taufik atau hidayah. Yang hanya Allah yang lebih mengetahui siapa orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Tapi kehidupan ini sangat sarat makna dan penuh filosofis yang tersembunyi. Seperti kata ibu yang sering dipakai dalam kitab dengan sebutan 'umm' dan 'walidah'. Tentunya kedua kata ini memiliki makna yang berbeda. Cuma terkadang kita terlalu melihat satu literasi tanpa mau belajar lebih mendalami literasi tersebut, sebelum benar-benar paham mengetahui suatu ilmu. karena beda satu kata saja, hal tersebut akan mempengaruhi makna dari sebuah kalimat. Yang pada akhirnya akan mempengaruhi sebuah perilaku atau sifat.

tapak2-5c35b493ab12ae34662ccfd5.jpg
tapak2-5c35b493ab12ae34662ccfd5.jpg
Surga mungkin saja sudah tidak lagi berada di telapak kaki seorang ibu karena sedikit saja beliau salah mununjukkan jalan, maka neraka akan menjadi miliknya. Lantas, apakah masih adakah surga di telapaknya? Mungkin saja iya. Segala sesuatu masih sangat mungkin bagi seorang ibu. Karena kemuliaan ibu di hadapan Allah sangatlah tinggi. Karena kehidupan yang dititipkan bisa juga berlaku sebagai penyelamat. Karena skenario Tuhan pun pada akhirnya semua akan berakhir di surga, karena baik atau buruk pun benar ataupun salah memang diperlukan demi keseimbangan dan pembelajaran.

Dan kehidupan seorang anak yang dititipkan kepada seorang ibu lah yang nantinya akan membahagiakan, disaat tugas seorang ibu adalah mengasuh titipan kehidupan yang sering disebut anak tersebut. Suatu chemistry atau sense antara ibu dan anak adalah sebuah karunia. Tidak ada tindas dan menindas, tidak mungkin tidak ada keadilan, tidak ada pemaksaan. "Dan kami berkehendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di Bumi, dan menjadikan mereka pemimpin, serta menjadikan mereka sebagai pewaris."

Itulah reward bagi anak-anak yang setia untuk tetap menyayangi kedua orang tuanya disaat mereka tidak sepenuhnya bisa memberikan pengasuhan kepada anaknya. Tetapi Si Anak yang memendam rindu tetap menempuh jalan sama yang dilalui kedua orang tuanya, mengembarai perjalanan itu dan mempelajarinya, lalu berusaha untuk menghiasi tapak jalan yang suram tersebut. Surga atau neraka sudah bukan jadi masalah. Karena cinta telah meleburkan segala kecemasan menjadi kegembiraan, sekalipun dalam keterasingan dunia.

9 Januari 2019