taufan satyadharma
taufan satyadharma

pencumbu 2 bunga dalam terang dan 3 bunga di tepi gelap | ig : taufansatyadharma

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Essai | Mengaku Surga

2 November 2018   11:09 Diperbarui: 2 November 2018   11:30 353 0 0
Essai | Mengaku Surga
pixabay.com

Negeri ini sedang terhanyut dalam tajuk mabuk beragama. Negeri mimpi ini sedang dilanda mimpi buruk. Karena ketenteraman para penduduknya sedang terusik oleh orang yang mengaku benar, oleh orang yang mengaku alim hanya karena ilmu kembalinya ia ke ajaran sunnah. 

Mayoritas telah hanyut dan terjebak dalam lingkaran benar dan salah. Benci dibalas dengan benci, persekusi dibalas dengan hastag pembelaan dengan melakukan klarifikasi pembenaran. 

Lantas saling beradu pemikiran serta logika tentang mana yang paling benar. Tidakkah kita memperhatikan jika hal-hal yang berhubungan dengan bencana, kematian, kebencian, ataupun kesalahan pribadi ataupun kolektif selalu menjadi trending topic. Apakah ini menandakan jika di dunia jurnalistik khususnya medsos kita lebih suka dengan sesuatu yang negatif? 

Siapa yang tidak senang kembali ke ajaran yang semestinya. Islam yang menyampaikan kabar gembira. Bukan islam yang suka mendoktrin, mengancam, bahkan mengjudge kafir bagi orang yang tidak sefaham dengan jalan pemikirannya.

Seperti para penjaga pintu surga yang suka mengkategorikan segala perilaku ataupun gejala sosial yang akan menuntunnya masuk ke dalam surga. Islam yang sejatinya agama yang penuh kasih sayang, mereka ubah seperti subjek yang paling suci. Hingga suka merendahkan yang lain, mereka tebar kebencian dimana-mana.

Mungkin mereka memang sudah memasuki surga. Padahal mereka sendiri tidak percaya kepada hal-hal yang berbau ghaib. Lantas bagaimana bisa mereka merasakan itu? akhlakul karimah yang menjadi pokok tujuan utama pembelajaran pun seakan telah melenceng jauh. Padahal mereka berikrar telah kembali ke ajaran sunnah. Yang sejatinya telah meniru segala perilaku Rasulullah Sholallahi 'alaihi wassalam.

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata,"Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi dan Nasrani." Itu hanya angan-angan mereka. Katakanlah, Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar." (QS 2:111)

Setelah membaca ayat tersebut, maaf saya sendiri merasa curiga kepada orang-orang yang suka mengklaim surga. Yang sejatinya manusia tidak punya hak untuk memilih bahkan mengetahui kriteria semacam apa yang akan memasukkannya ke surga.

Apakah kriteria Yahudi dan Nasrani dalam Firman Allah tersebut hanya diperuntukkan bagi yang bukan beragama islam? ataukah bagi semua pemeluk agama? Wallahu 'alam.

Oleh sebab itu kita selama masih berseragam raga yang kita sewa dengan gratis. Mbok ya merasa kalau kita sedang dipinjami. Kita hanya perlu membawa seragam identitas ini tidak hanya untuk upacara peribadatan. Tapi juga untuk menjaga dunia ini yang Tuhan tugaskan kita untuk menjaganya.

Sedang kita selalu berebut kesementaraan, walaupun kita tahu keabadian. Kita hanya mengenal syariat sudah merasa paling benar. kita mengenal hakikat dikira kita syirik. Seragam kita ini hanya kesementaraan. Seragam ini tak sanggup kita bawa ke level berikutnya. Seperti sejatinya pakaian, semakin tua semakin lusuh. Begitu pula tubuh ini. Yang semakin renta termakan zaman.

Kita tidak akan mampu menggapai hakikat kebenaran. karena kebenaran hanya milikNya. Hiduplah dengan penuh rasa hina dan kesalahan. Sehingga kamu tidak akan terbebani oleh tendensi-tendensi dunia yang selalu menjadi provokator ulung untuk menjadikanmu budak dunia.

Manusia hanya akan selalu tersesat dalam pencarian untuk kembali menuju asal muasalnya. Jadi janganlah saling berkelahi seburuk apapun ia. Jangan saling menyalahkan setengil apapun ia. Jangan saling berprasangka, sesombong apapun ia.

Yang merasa benar biarlah dunia bertindak sesuka hatinya, biarlah ia dicintai oleh yang mencintai. Jangan mengaku-ngaku merasa paling berhak atas surga. Hiduplah dengan angan neraka selalu tepat berada di bawah kedua kakimu. Bukankah tirakat terbaik adalah diremehkan oleh orang lain bahkan dunia?

Kita terlalu takut dengan identitas dan simbol yang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali sama diri kita. Kalian bilang memperjuangkan negara sedang kanan kiri kalian terabaikan, hah?