taufan satyadharma
taufan satyadharma

pencumbu 2 bunga dalam terang dan 3 bunga di tepi gelap | ig : taufansatyadharma

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Essai | Muamalah Zaman

12 Oktober 2018   16:03 Diperbarui: 12 Oktober 2018   16:07 571 1 0
Essai | Muamalah Zaman
wallpaperlepi.com

Andai kita tahu kalau ada beberapa isyarat dalam kita mengamalkan muamalah. Dalam syariat banyak yang menjelaskan kalau kita mesti pintar dalam memilih teman, karena hal tersebut akan mempengaruhi ahwal kita secara tidak langsung. Jika kita berteman dengan orang-orang saleh, maka kita akan ikut saleh. Begitupun sebaliknya, jika kita memilih teman yang suka melakukan hal yang tidak baik, maka kita perlahan ikut mengikutinya.

Pertanyaannya, apakah benar semua seperti itu? Apakah yang baik akan menjadi tidak baik jika berkumpul dengan orang-orang yang tidak baik? Atau yang tidak baik menjadi baik jika berkumpul dengan orang-orang yang tidak baik? Apakah yang diperhatikan di muamalah hanyalah baik atau tidak baiknya atau terdapat hal yang lebih mendalam daripada sekedar baik dan tidak baik?

Apakah kita bakal merasa aman kalau kita sudah merasa baik dan saleh? Lalu kita membatasi hubungan kita dengan orang lain yang menurut kita kurang baik? Membiarkan mereka dalam penderitaan yang selalu dibalutnya dalam kesenangan dunia? Apakah kalau kita sudah merasa baik lalu kita tidak akan memperhatikan orang-orang yang tidak baik? Padahal sesungguhnya, adakah "baik" itu hanya menurut kita? Menurut pandangan golongan kita? Menurut sumber literasi yang kita baca?

Apakah kita sudah merasa baik dan saleh? Sehingga kita acuh dengan orang-orang yang selalu dilimpahi kenikmatan dunia, padahal mereka sedang tertipu, lalu akankah kamu membiarkannya? Sedang kamu mengetahui dan melihatnya. Apakah kamu tega? Apakah Allah tega? apakah Allah tidak memberi kasih sayangNya kepada mereka? Lalu kenapa kita acuh?

Saat saya membaca kisah seorang yang berkata bahwa biarkan aku masuk ke neraka sendirian, sehingga semua orang bisa mendapati kenikmatan surga. Dia membiarkan dirinya dihukum dan disiksa dalam panasnya api neraka, asalkan semua orang menikmati kesenganan dengan segala sesuatu di surga. Terlalu cintanya ia kepada segala ciptaan Tuhan yang hanya bisa menikmati kefanaan dunia, tanpa pernah mengenal kesejatian yang abadi.

Semua perbedaan yang terjadi di dunia ini termasuk antara baik dan tidak baik adalah suatu gambaran untuk saling melengkapi. Semuanya bisa menjadi baik kalau pas menurut empan papan, dan tidak akan menjadi baik jika tidak sesuai tempat dan waktunya. Yang sekarang baik belum tentu pada masa akhir hidupnya dalam keadaan baik dan yang sekarang belum baik bisa jadi mendapat khusnul khotimah pada akhir masa hidupnya. Itu semua terserah Allah. Wallahu 'alam.

Jadi dalam bermuamalah yang menjadi inti pembelajaran bukan mengenai baik dan tidak baik karena itu hanyalah ahwal dan bisa berubah menurut waktu dan tempat. Tentu terdapat sesuatu yang lebih inti yang lebih mendekati sifat rububiyah maupun ubudiyah. Karena jika kita hanya memandang baik dan buruk, saleh atau tidak, itu hanya ada di permukaan. itu bukan hasil. Tapi sekarang orang sudah pintar berdandan, agar luarnya kelihatan cantik atau rupawan. Pakaiannya yang minimalis agar banyak yang memperhatikan. dengan make up duniawi sedemikian rupa, yang buruk bisa berdandan baik, yang tidak saleh bisa sedikit pencitraan dengan memakai kopiah biar dikira alim. Dan lain sebagainya.

Kalau kita hanya melihat dengan tatapan mata tentang baik dan buruk dalam bermuamalah. Sungguh kita sangat bisa dengan mudah tertipu. Dalam bermuamalah hal terpenting adalah cinta. Segala konflik yang terjadi di negeri ini bahkan di dunia karena dilandasi dengan ada atau tidak adanya cinta yang menimbulkan romantisme atau kecemburuan antara dua pihak atau lebih. Cinta disini tentunya bukan cinta yang dilandasi dengan nafsu, akan tetapi cinta ini timbul karena rasa cintanya kepada Sang Khaliq.

Jadi jika kita ingin menapaki jalan muamalah, janganlah memandang diri ini benar, jangan pernah menganggap diri kita baik. Pandanglah diri ini dengan penuh rasa bersalah, tidak akan benar. Sehingga kita tidak pernah berprasangka buruk kepada sesama ciptaan Tuhan. Pandangan kita akan dipenuhi rasa welas karena diri ini sudah tidak ada artinya sehingga cahaya akan muncul dengan sendirinya.

 Tentu hal seperti ini tidak akan mudah, dengan zaman yang dipenuhi dengan tata rias untuk memperindah, untuk memanipulasi khalayak demi mendongkrak eksistensi. Tubuh ini dipacu melaju untuk menuju kesuksesan yang celakanya hanya bertumpu pada dunia dan ketakutan akan pandangan orang lain.

Lalu kita akan dianggap fakir karena tidak memiliki apa-apa yang berupa materi, padahal yang disebut fakir sesungguhnya ialah ia yang masih terus memenuhi kebutuhan ego dan nafsunya. Sedang orang kaya ialah ia yang sudah tidak membutuhkan apa-apa di dunia ini, kecuali kesabaran. Keikhlasan dan ketabahan. Bahkan seorang Rasul pun meminta dikumpulkan dengan orang-orang fakir semasa hidupnya maupun ketika ajal beliau datang.

Karena apapun yang kita miliki pada saatnya akan hilang, semuanya. Kecuali satu, rasa, yang meliputi cinta dan kasih sayang yang akan terbawa di kehidupan berikutnya. Itulah mengapa kalau kau membawa cinta duniamu ke kehidupan berikutnya, hal itu akan menyengsarakan kita disana. Lalu mengapa kita mesti takut oleh prasangka manusia. Bukannya prasangka para penduduk langit yang kamu harusnya lebi takuti.

Jadi jangan pernah merasa diri ini lebih baik ketimbang orang lain. Berbekallah kehinaan dalam menempuh kehidupan yang fana ini. Agar kita tidak terlalu sombong ketika dikasih titipan ilmu, agar kita tidak merasa benar ketika diberi keluasan berpikir. Yang terpenting ialah cinta kasih sayang sesama, tidak peduli ras, suku, maupun agama. Kita semua sama di mata Tuhan. Karena Tuhan sendiri yang menciptakan perbadaan agar kita saling melengkapi, saling  mengisi. Bukannya malah ingin menyeragamkan apa yang sudah ditakdirkan menjadi perbedaan.

Inilah tantangan dari generasi baru. Bagaimana bisa merangkul segala golongan yang mempunyai ego sendiri-sendiri. Bagaimana bisa memasuki wilayah pemikiran satu dengan yang lain kemudian mencari titik-titik persamaan sehingga  bisa bersama-sama mewujudkan seenggaknya sila pertama dalam pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa. Tentu perjuangan yang tidak mudah.

Jika kita ingin memakan buah yang manis, tentu kita harus mengupas kulit buah terlebih dahulu. Tidak ada kulit buah yang manis atau bisa dimakan. Hidup pun juga begitu, untuk merasakan buah yang manis, kita mesti merasakan pahitnya dahulu. Itu hanya pandangan umum tentang kebaikan yang wajar. Dengan mencicipi buah manis. Tapi apakah kita tahu jika ada yang lebih nikmat lagi dari yang manis tersebut?

Inilah hakikatnya, di dalam daging buah yang manis terdapat biji yang pahit, akan tetapi biji tersebut dapat menghasilkan berpuluh-puluh buah yang manis. Dan akan terus tumbuh. Apabila kita bisa belajar dari biji tersebut, jangan harap kita bakal memetik kenikmatan dalam dunia. Jangan pernah berharap kemanisan dalam bermuamalah, karena justru kepahitan yang akan kau nikmati terus-menerus. Nikmatilah karena justru disitu terdapat lautan ilmu dan terasa sangat dekat pertolongan Tuhan. Akan kau rasakan rahman dan rahimNya.

Kita hanya perlu percaya kalau segala yang terjadi itu atas ijin Allah, sehingga kita akan memandang semua kejadian dengan penuh hikmah, pandangan kita selalu berprasangka baik walaupun terkadang kita dibilang bodoh oleh orang-orang. Nikmatilah perjalananmu, sembari habiskan kopi yang kau seduh. Karena sebentar lagi akan ada malaikat yang menjemput kita. Yyang bisa datang kapan saja tanpa kita pernah mengetahuinya.