Ekonomi

Bedakan Gula Industri dan Konsumsi

11 Januari 2019   22:59 Diperbarui: 11 Januari 2019   23:14 190 2 0
Bedakan Gula Industri dan Konsumsi
Gula (boldsky.com)

Tong kosong memang nyaring bunyinya. Pepatah itu memang benar adanya. Coba saja anda gedor sebuah tong yang ada isinya, tentu tiada bunyi yang akan terdengar. Tapi bila tong itu tiada berisi, maka akan keluarlah suara.

Dalam dunia nyata, pepatah itu pun berlaku pula. Orang yang tidak punya pengetahuan, alias kosong, cenderung lebih lantang berbicara. Entah apa tujuannya. Mungkin saja untuk menutupi kondisi ketidaktahuannya.

Sayangnya, kali ini yang berperilaku seperti tong kosong itu adalah seorang ekonom yang cukup punya nama.

Lewat akun twitter pribadinya, Faisal Basri yang merupakan seorang ekonom dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia salah mengelola gula. Menurutnya, dua tahun terakhir ini Indonesia menjadi importir gula terbesar di dunia. Importasi ini lah yang dianggapnya berkontribusi dalam menciptakan defisit perdagangan.

Data yang dibeberkan Faisal memperlihatkan bahwa sepanjang tahun 2017-2018, Indonesia mengimpor gula hingga 4,45 juta ton. Volume impor gula ini tertinggi dibanding Cina (4,2 juta ton), Amerika Serikat (3,11 juta ton), Uni Emirat Arab (2,94 juta ton), Bangladesh (2,67 juta ton), dan Aljazair (2,27 juta ton).

Volume gula yang diimpor Indonesia itu juga melampaui negara seperti Malaysia (2,02 juta), Nigeria (1,87 juta ton), Korea Selatan (1,73 juta ton), dan Arab Saudi (1,4 juta ton).

Selain itu, ekonom yang pernah gagal di Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu itu mengatakan bahwa harga gula di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan dengan negara lain.  Sebagai contoh, per Januari 2017, harga gula per kilogram di Indonesia US$ 1,1, sementara harga gula di dunia US$ 0,45. Begitu juga per Juni 2017, harga gula sebesar US$ 1 per kilogram, atau lebih tinggi ketimbang harga di dunia US$ 0,31.

Pada November 2018, harga gula di Indonesia sebesar US$ 0,85 atau melampaui harga gula dunia US$ 0,28. Dengan kurs Rp 14.041 per dolar AS, harga gula di Indonesia saat itu mencapai Rp 11.936 atau tiga kali lipat dari harga gula dunia Rp 3.932 per kilogram.

Sumber Tempo.co

Parahnya lagi, Faisal menuduh bahwa ada pemburu rente yang meraup triliunan rupiah dari impor gula tersebut.

Untung saja, informasi semacam ini tidak dibiarkan berkembang liar. Lewat Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution, dijelaskan bahwa yang diimpor merupakan gula industri, bukan gula konsumsi.

Dua jenis gula itu jelas berbeda. Gula industri bukanlah gula yang biasa kita seduh untuk menambah manis teh atau kopi. Gula industri ini digunakan untuk kebutuhan industri makanan dan minuman.

Selain itu, impor gula industri juga dilakukan atas rekomendasi Kementerian Perindustrian, berdasarkan permintaan pelaku industri. Oleh karena itu, impor gula kita, tidak seliar seperti yang digembar-gemborkan Faisal Basri.

Lagi pula, impor gula industri yang semakin banyak, artinya industri kita semakin berkembang biak. Oleh karena itu, mereka membutuhkan lebih banyak lagi gula sebagai bahan bakunya.

Kendati dia mendapat julukan sebagai seorang ekonom, mungkin sebaiknya ada sudut pandang lebih luas yang disampaikan oleh seorang Faisal Basri.