Kotak Suara

Menakar Kekuatan Pilkada Kota Tangerang 2018

15 April 2017   14:30 Diperbarui: 15 April 2017   14:34 320 0 0
Menakar Kekuatan Pilkada Kota Tangerang 2018
Sumber: jabar.pojoksatu.id

Dukungan Nasdem terhadap Ridwan Kamil sebagai gubernur Jabar menunjukan bahwa genderang persaingan pilkada 2018 segera akan dimulai. Bukan tanpa alasan nasdem mencuri start lebih awal melihat bahwa potensi Ridwan Kamil yang saat ini menjadi Walikota Bandung memiliki peluang besar untuk menjadi gubernur Jabar. Pasalnya Aher sudah dua kali memimpin Jabar. Secara nasional tentunya nasdem menunjukan agresifitasnya dalam peta pertarungan pilkada 2018 mendatang.

Berbeda dengan Jawa Barat, Banten di 2017 sudah memiliki Gubernur baru yakni Wahidin Halim dan Andika. Salah satu kota yang menjadi daya sorot di Banten pada 2018 mendatang adalah Kota Tangerang. Pasalnya Kota Tangerang merupakan salah satu basis pemenangan Wahidin-Andika pada pilgub banten lalu. Hal ini tentunya akan membawa imbas tersendiri bagi kondisi politik Kota Tangerang.

Isu yang bergulir di kalangan sebagian masyarakat bahwa Arief dan Sahrudin tidak lagi akan berdampingan tentunya akan menjadi kesempatan bagi partai lain yang sudah mulai membuka pembicaraan politik. Jika melihat kombinasi partai antara Arief-Sahrudin yakni adalah Demokrat-Golkar. Sayangnya pasangan petahana nampaknya tidak akan lagi bersama. Disebagian wilayah kota tangerang sudah terliha spanduk dukungan terhadap Sahrudin untuk maju sendiri sebagai walikota tangerang. Meskipun belum mendeklarasikan secara langsung namun hal ini cukup santer terdengar.

Jika menarik kebelakang pada pemilihan 2013 lalu tentunya ada beberapa nama yang sempat muncul, yang kemungkinan nama-nama tersebut akan kembali berkompetisi pada pilkada 2018 mendatang. Harry Mulya Zein-Iskandar (PPP, PKNU, Partai Hanura), Abdul Syukur -Hilmi Fuad (Partai Golkar, PKS, PKPB, PBB, PPI),  Dedi Gumelar-Suratno (PDIP, PAN), dan Ahmad Marju Kodri-Gatot Suprijanto (Partai Buruh, PPNUI, PPRN, PKPI, PBR, Partai Damai Sejahtera dan 16 parpol non parlemen lainnya). Kemungkinan hanya Ahmad Maju Kodri yang kemungkinan tidak dapat berpartisipasi karena kasus korupsi yang memvonis dirinya selama 3,5 tahun.

Pecahnya pasangan petahana akan membuat peta politik kota tangerang pada pilkada 2018 mendatang akan terlihat cukup seru. Diprediksikan akan terjadi persaingan ketat antara Arief dan Sahrudin karena keduanya akan berebut kursi Kota Tangerang Satu. Hal tersebut bukan tanpa alasan karena masing-masing personal saat ini sudah mulai menyusun strategi untuk dapat mempertahankan dan merebut kursi walikota tangerang.