Politik Artikel Utama

Debat Pilkada Banten, Miskin Gagasan dan Normatif

28 Desember 2016   10:53 Diperbarui: 28 Desember 2016   21:15 1158 3 1
Debat Pilkada Banten, Miskin Gagasan dan Normatif
sumber : https://www.youtube.com/watch?v=DkTDKJIJzU8

Debat Cagub dan Cawagub Banten yang dilaksanakan tadi malam di Metro TV merupakan sarana agar masyarakat Banten dapat memilih pemimpin terbaik pada periode mendatang. Melihat paparan dan gagasan yang disampaikan oleh kedua belah calon, nampaknya terlihat bagaimana gambaran Banten ke depan. Banten yang dihuni oleh 10.083.370 jiwa merupakan provinsi yang cukup besar, dengan luas wilayah 9.663 km². Selain itu, provinsi yang memiliki ibu kota Serang itu sudah memiliki KEK (Kawasan Ekonomi Khusus), yakni Tanjung Lesung. Selain itu, ke depan Banten memiliki 12 Proyek Strategis Nasional.

Latar belakang proyek strategis nasional dan KEK nampaknya menjadi salah satu langkah strategis untuk mampu meningkatkan potensi Banten ke depan. Dari data Maret 2016, jumlah penduduk miskin Banten sejumlah 658,11 ribu orang. Tentunya hal ini merupakan salah satu agenda yang perlu diperhatikan oleh masing-masing pasangan Cagub dan Cawagub. Selain kemiskinan, pendidikan juga menjadi salah satu permasalahan di Banten. Pasalnya, dari data yang didapatkan indeks pembangunan manusia, Banten masuk urutan kedelapan dari 34 provinsi se-Indonesia, yaitu hanya mencapai 69,89 persen.

Angka tersebut di bawah Provinsi Djogyakarta, padahal Provinsi Banten berdekatan dengan DKI Jakarta. Artinya, ke depan pendidikan kawasan yang dekat dengan Ibu Kota dan mendapatkan kemudahan akses Banten harus mampu keluar dari keterpurukan pendidikan. Dalam bidang kesehatan, Banten merupakan provinsi dengan rasio puskesmas paling tinggi, yakni 0,58 dihitung dari puskesmas per 30.000 penduduk Indonesia. Artinya, puskesmas menjadi salah satu keunggulan Banten agar dapat dijangkau oleh masyarakat dengan mudah.

Potensi dasar yang ke depan dimiliki oleh Banten sangat besar. Banten terletak di kawasan yang cukup strategis menjadi wilayah penyangga antarpulau, yakni Pulau Jawa dan Sumatera. Tentunya menjadi kawasan penyanga merupakan salah satu keuntungan yang dimiliki oleh Banten untuk dapat mengeksplorasi potensi dengan maksimal. Kawasan industri yang cukup besar, pelabuhan serta bandara internasional merupakan potensi yang sudah ada pada Banten saat ini. Untuk itu, ke depan Cagub dan Cawagub tinggal memaksimalkan potensi agar Banten dapat menjadi provinsi terbaik di Indonesia.

Proses Berjalannya Debat

Melihat proses berjalannya debat, cukup disayangkan potensi besar Banten tidak mampu dieksplorasi dalam bentuk gagasan yang lebih konkret dalam penyampaian visi dan misi. Jika melihat kedua pasangan, ketika penjabaran visi-mis terlihat normatif. Selain itu, tidak dengan jelas menyampaikan apa perbedaan satu dengan yang lainnya. Salah satu yang disoroti adalah kedua Cagub dan Cawagub sama-sama mengusung akhlakul kharimah, berkakhlak dan beriman. Hal ini menjadi cukup utopis melihat beberapa kejahatan di Banten kerap terjadi namun tidak ada yang menyampaikan bagaimana konkretnya dalam penanggulangan.

Dalam proses tanya-jawab, masing-masing cagub dan cawagub terkesan melakukan black campaign dalam hal ini menerangkan kekurangan lawan, bukan menyampaikan gagasan dan solusi terhadap sebuah permasalahan. Hal ini menjadi gambaran seolah kontestasi pilkada hanya formalitas, bukan memilih siapa yang terbaik namun masyarakat disuruh memilih siapa yang terbaik dari yang terburuk. Ini menjadi salah satu koreksi yang ke depan perlu dibenahi oleh masing-masing tim sukses. Masyarakat Banten perlu dicerdaskan dengan adanya debat terbuka, bukan mempertontonkan debat kusir tanpa substansi.

Kosong Gagasan

Nampaknya ‘kosong gagasan” menjadi penilaian yang cukup subjektif. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Melihat proses debat yang berlangsung, masing-masing Cagub dan Cawagub tidak memperlihatkan gagasan konkret yang dibawa untuk perbaikan Banten. Mungkin hal ini bukan berarti tidak ada program yang bagus dari kedua pasang calon melainkan cara penyampaiannya yang masih normatif dan konvensional.

Jika berkaca pada gaya kampanye Jokowi-JK pada pemilu 2014 lalu, perbedaan yang cukup mencolok adalah dibawanya isu “Poros Maritim Dunia”, “Tol Laut”, dan “Kartu-kartu”, dan “Revolusi Mental”. Mengapa empat hal tersebut cukup menyolok? Karena jarang ada yang mampu mengubah arah berpikir dan menyampaikan gagasan yang terlihat cukup fenomenal. Gagasan merupakan trademark untuk dapat membawa pemilih mengingat pasangan secara nalar. Selain itu, hadirnya gagasan “kartu-kartu” merupakan gambaran bahwa jaminan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan akan mampu tangible jelas terlihat oleh mata, dan dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Artinya, masyarakat Indonesia butuh kepastian yang jelas dan hal tersebut mampu dijawab dengan “kartu-kartu” sebagai jaminannya.

Dari pemaparan di atas, yang dimaksud adalah bagaimana masyarakat Banten mampu dibuat sadar dan dapat melihat bahwa kontestasi pilkada merupakan ajang pertarungan gagasan, bukan sekadar mencari siapa yang baik dan buruk untuk menjadi pemimpin. Hal ini menjadi pekerjaan rumah para Cagub dan Cawagub agar ke depan masyarakat Banten mampu diedukasi untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas.