Tabrani Yunis
Tabrani Yunis pegawai negeri

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Anak Usia 3 Tahun itu Hilang Terbawa Banjir di Aceh Singkil

13 November 2017   14:50 Diperbarui: 13 November 2017   15:42 923 5 2
Anak Usia 3 Tahun itu Hilang Terbawa Banjir di Aceh Singkil
dokumenatsi pribadi

Musibah itu bisa datang tiba-tiba, tanpa diketahui kapan waktu dan di mana. Yang jelas musibah juga terjadi akibat sebuah bencana, seperti halnya bencana banjir yang akhir-akhir ini mendera banyak wilayah di Aceh, termasuk banjir di Trumon Timur, Aceh Selatan dan di tiga Kecamatan di Aceh Singkil, baru-baru ini.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Dalam konteks agama, orang-orang Islam itu selalu berpegang pada ajaran agama Islam dan menyakini bahwa Allah Maha Berkuasa. Segala sesuatu itu datangnya dari Allah. Kita pun sebagai umat-Nya, meyakini bahwa langkah, rezeki, pertemuan dan maut ada pada Allah. Kita hanya bisa mampu dan harus rela sembari mengucapkan Innalilahi wa inna ilaihi rajiun. Dari Allah, kembali kepada Allah. Ya, kita pasrahkan diri pada Allah.

Begitulah mungkin yang dialami oleh pasangan Salman Limbong ( 36) dan Eny (35) tahun, warga Desa Suka Makmur, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil ini. Pasangan yang seharian bekerja sebagai buruh dan nelayan ini harus kehilangan buah hatinya, Alwi Syahputra Limbong, usia 3 tahun dalam bencana banjir yang melanda Singkil pada tanggal 11 November 2017 lalu. 

Balita dengan jenis kelamin laki-laki yang masih beumur tiga tahun itu hilang dibawa banjir.  Menurut informasi yang terkumpul, bahwa sore itu, saat kejadian ibu korban sedang dalam keadaan tertidur di atas pentas papan berukuran 4x4 meter. Lantai papan yang digunakan sebagai pengganti lantai, berhubung rumah kontrakan mereka digenangi air sekitar 50 cm dari dasar lantai rumah.

Nah, ketika Ibu korban tertidur pulas, mungkin karena lelah, setelah bekerja sejak sebelum subuh membuat kue yang dititipkan ke warung. Dalam keadaan tertidur dan pintu tertutup, anaknya Alwi Syahputra Limbong keluar dari jendela depan. Ia bermain main di teras rumah dalam keaadan banjir dengan ketiggian air sekitar 50 cm itu. Lalu, ketika ibunya terbangun, ternyata anak satu-satunya itu hilang. 

Yang tertinggal hanyalah mainan yang tergeletak di atas teras rumah yang tergenang air itu. Melihat anaknya sudah tidak berada di rumah, ya hilang, sementara  sang ayah anak tersebut sedang bekerja bongkar muat beras dan mie instan untuk bantuan korban banjir. Dalam keadaan panik, ibu korban langsung meminta pertolongan kepada tetangga dan masyarakat sekitarnya. Laporan itu kemudian dilanjutkan oleh Kepala Kampong Suka Makmur, Burhan  ke pihak Kecamatan serta BPBD Kab. Aceh Singkil. Lalu, dilakukan upaya pencarian.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

Dari hasil pencarian di seputaran rumah korban dan menyelam menyisir sungai sampai ke muara Singkil dengan menggunakan speed boat dan  kompresor serta  dibantu oleh para penyelam LOKAN , PMI dan TAGANA dan ratusan orang membantu,  hingga  detik ini korban masih belum ditemukan.  Di samping pertolongan pencarian korban dengan menggunakan kapal motor serta speed boat,  masyarakat juga mengadakan pembacaan Suratul yasin serta zikir bersama untuk mendapat pertolongan Dari Allah SWT agar korban dapat segera di temukan. Kita doakan semoga cepat ditemukan.

Ibukota Kabupaten Singkil memang mulai digenangi banjir sejak Jumat, 10 November 2017. Banjir tersebut disebut-sebut kiriman dari Kabupaten atau kota tetangga yang sungainya bermuara di laut Singkil. Sebagaimana diberitakan oleh Harian Serambi Indonesia (11/11/17), bahwa banjir dari Kota Subulussalam mengalir ke Singkil melalui sungai Lae Soraya, kemudian dari Pakpak Barat melalui sungai Lae Kombih dan Aceh Tenggara mengirim banjir melalui sungai Alas. 

Sungai-sungai itu menyatu dengan sungai Lae Cinendang yang mengalir melalui Simpang Kanan di sekitar Pemuka Lama, sebelum akhirnya menuju Kota Singkil. Musibah banjir yang terjadi di beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil seperti  di Kecamatan Suro, air mencapai ketinggian 1,5 hingga dua meter. Akibat banjir tersebut jalan penghubung Singkil ke Kabupaten Subulussalam tidak dapat dilalui kendaraan. 

Banjir yang melanda Singkil, bukan  terjadi  terjadi tahun ini saja, tetapi selama ini terjadi setiap tahun, bahkan tahun-tahun sebelumnya juga dilanda banjir yang sangat parah.  Kita doakan saja, banjir tidak semakin memburuk dan tidak menimbulkan korban-korban baru. Kita ikut berduka terhadap apa yang dialami oleh Alwi Syahputra Limbung seperti yang di awal tulisan ini.

Kini alhamdulilah  air bah sudah surut. Singkil kembali aman dari terjangan bencana banjir. Tetapi ada korban, anak umur 3 tahun diperkirakan terbawa arus yang hingga saat ini masih belum ditemukan. Begitu kata Pak Saidul Bahri yang kini tinggal di Singkil.  Semoga banjir buruk seperti yang telah terjadi, tidak terulang lagi kelak.

Oleh Tabrani Yunis