Tabrani Yunis
Tabrani Yunis pegawai negeri

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, menerbitkan majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Kompasiana (Tidak) Memaksaku Menulis

13 Oktober 2017   15:38 Diperbarui: 13 Oktober 2017   16:09 395 6 0
Kompasiana (Tidak) Memaksaku Menulis
Doc. Pribadi. Kompasiana ikut dalam training menulis

Oleh Tabrani Yunis

Seringkali aku telat berangkat ke tempat tidur, untuk merebahkan badan dan menikmati tidur yang pulas, untuk mengobati rasa lelah dan penat setelah bekerja seharian. Walau sebenarnya kebiasaan telat tidur itu tidak baik atawa tidak sehat. Apalagi untuk orang-orang yang usia sudah di atas 50 tahun, seharusnya memiliki waktu tidur yang cukup. Idealnya, menurut National sleep Foundation (NSF)  waktu tidur  orang dewasa usia 26-64 tahun selama 7-9 jam per haru. Lumayan panjang, bukan?  Usiaku, masuk dalam kelompok itu. Berarti aku memang secara ideal harus tidur selama lebih kurang 7-9 jam per hari. Faktanya, waktu tidurku lebih pendek, kurang dari kondisi ideal itu.

Selama ini rasanya hampir setiap malam aku tidur pada pukul 24.00 WIB. Bahkan sering pula melewati waktu yang dikatakan tengah malam itu, hingga pikul 02.00. Tentu saja hal ini bukan hal atau kebiasaan yang baik dan sehat yang harus dilakukan untuk orang seusiaku. Kebiasaan begadang seperti ini sebenarnya memang kebiasaan yang kurang baik bagi kesehatan, bukan saja bagi yang sudah usia kepala lima, tetapi juga bagi orang muda. Maka, tidak salah kalau Raja dangdut, Rhoma Irama melarang kita dengan lagunya " Begadang". Salah satu lirik lagu itu adalah " Begadang, jangan begadang..., kalau tiada artinya.... Begadang boleh saja, ha ha ha, kalau ada perlunya".

Ya, Rhoma Irama dan mungkin para dokter sering mengingatkan orang-orang yang sakit untuk mengurangi kebiasaan tidur telat atau terlambat. Aku sendiri juga mengerti dan sadar hal itu, Namun, mengapa aku seperti mengabaikan peringatan itu. Apakah ini karena faktor usia yang membuat sering terganggu tidur, tidak bisa tidur cepat, atau memang karena sudah menjadi sebuah kebiasaan buruk?

Bisa saja, bebeberapa factor di atas sebagai penyebabnya. Namun, tak dapat dipungkiri hal itu sering aku lakukan karena aku merasa ada yang perlu. Ya, seperti kata Rhoma Irama tadi, Begadang boleh saja, kalau ada perlunya. Jadi, aku telat tidur itu, karena selalu merasa perlu. Aku merasa banyak hal, ide atau gagasan yang memaksaku untuk bisa diungkapkan lewat tulisan, ditambah lagi dengan sifat mood menulis yang datangnya menjelang larut malam. Seringkali terasa sangat banyak hal yang harus aku tulis. Apalagi, kalau setelah pulang dari sebuah kegiatan, baik di kota maupun di daerah-daerah hingga pelosok desa. Jadi, salah satu yang membuat mata enggan dipejam menjelang tengah malam, yak arena ada kebutuhan untuk menulis. Bagiku, menulis itu bukan hobi, tetapi sudah menjadi sebuah kebutuhan. Boleh jadi kebutuhan sehari-hari, kebutuhan hidup. Menulis itu membuat hatiku senang. Menulis itu membuat aku merasa puas. Ya, batinku terasa puas. Apalagi bila menyentuh hal-hal menyentuh emosi, social dan kemanusiaan. Rasanya ingin secepatnya ditumpahkan dalam tulisan, walaupun tulisan-tulisan tersebut tidak dipublikasikan ke media.

Sebagai bukti kesukaan dan kecintaanku pada kegiatan menulis, aku sebenarnya punya blog sendiri. Juga lewat kegiatan penerbitan majalah POTRET, aku juga mengelola www.potretonline.com. Jadi, aku punya ruang yang cukup untuk menulis. Idealnya memang begitu. Kenyataannya, ada keanehan yang aku lakukan pada blog dan website yang aku kelola. Seakan-akan pameo rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, terjadi pada diriku. Aku mengajak orang-orang menulis di www.potretonline.com, sementara aku sendiri banyak menulis di www.kompasiana.com.  Jadi aneh bukan?

Bisa jadi banyak orang yang akan berkata aneh, tetapi bagiku itu tidak aneh. Dikatakan tidak aneh, karena selama ini www.kompasiana.com, tidak pernah mengirim surat kepadaku untuk menyuruh aku menulis. Aku tidak pernah mendapat perintah untuk menulis di kompasiana. Benar lho, tidak pernah. Lalu, mengapa aku selalu menggebu-gebu menulis di Kompasiana?

Sekali lagi, bisa jadi, apa kata orang dengan istilah rumput tetangga tadi itu benar. Aku melihat banyak sekali kekuatan yang dimiliki oleh Kompasiana selama ini. Ya sebagai sebuah media warga yang tanpa batas wilayah (borderless)yang penghuninya sangat banyak itu adalah sebuah media yang bisa mempertemukan orang-orang yang memiliki hobi, bahkan kebutuhan yang sama, yakni menulis untuk berbagi. Menulis untuk kemanusiaan. Menulis untuk bersilaturahmi, saling kenal, saling sapa, saling menilai, saling bisa berkomentar dan sebagainya. Apalagi untuk bisa masuk ke media ini tanpa harus ada proses seleksi tulisan seperti kita menulis di media cetak. Semua warga diberikan kebebasan untuk menulis dan memuat sendiri, asal bertanggung jawab dengan apa yang mereka tulis, karena tanggung jawab setiap tulisan yang diposting ada pada penulisnya.

Aku tahu bahwa menulis di Kompasiana tidak sama seperti kita menulis di Harian Kompas, atau di media cetak lain. Kalau di media cetak seperti Kompas kita bisa jadi terdorong menulis karena selain tulisan kita dibaca luas oleh para pembaca di Indonesia, juga karena honor tulisan yang besar itu memotivasi kita menulis. Namun, tidak semudah yang kita bayangkan, karena tidak mudah tulisan opini yang kita tulis bisa masuk. Tentu sangat tergantung kepada kualitas dan kemampuan kita memenuhi kriteria pemuatan  yang dibuat di setiap media  seperti Kompas tersebut. Walau sebenarnya aku sudah pernah menulis di Kompas sebanyak dua kali. Lalu, kalau begitu, mengapa aku terus menulis di Kompasiana, bahkan bisa memaksaku menulis hingga larut malam?

Hmm, akan banyak sekali alasan mengapa aku seperti dipaksa menulis hingga larut malam. Ya akan banyak sekali alasan yang bisa aku ungkapkan. Namun demikian, ada baiknya rekan- rekan warga kompasiana yang selama ini banyak menulis, seperti para warga lainnya yang sudah sangat lama tinggal di kampong Kompasiana itu. Paling tidak, kata yang paling bisa mewakili alasan itu adalah Kompasiana memang beda. Ia tak pernah memaksa kita menulis, tetapi kita seperti ibarat wartawan atau penulis yang sedang dikejar-kejar deadline. Kompasiana selalu saya seperti memanggil keinginan dan kemauan kita untuk segera menyelesaikan tulisan dan segera menyampaikannya kepada pembaca. Jadi, aku tidak dipaksa oleh Kompasiana, tetapi rasa cinta menulis di Kompasiana yang membuat aku mau begadang hingga di ujung malam.