Mohon tunggu...
Lupin TheThird
Lupin TheThird Mohon Tunggu... Seniman - ヘタレエンジニア

A Masterless Samurai -- The origin of Amakusa Shiro (https://www.kompasiana.com/dancingsushi)

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Tentang Budaya dan Pembukaan Olimpiade Tokyo 2020

25 Juli 2021   20:00 Diperbarui: 27 Juli 2021   05:50 918 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tentang Budaya dan Pembukaan Olimpiade Tokyo 2020
Pertunjukan Kabuki oleh Ichikawa Ebizou (Getty Images/Frank Fife)

Ketika usia SD, rasa dongkol timbul saat ingin nonton pertunjukan layar tancap dekat rumah, namun dilarang oleh mak. Perasaan yang sama saya rasakan ketika menonton acara pembukaan olimpiade pada tanggal 23 Juli melalui televisi. 

Ya, saya dongkol seperti ketika kecil dahulu, karena ada larangan untuk pergi ke sana. Padahal stadion Kokuritsu Kyougijou, tempat berlangsungnya acara, bisa ditempuh dari apartemen dengan kereta kurang lebih satu jam saja.

Akan tetapi, kemarin (dan hari ini) rasa dongkol sirna dan timbul rasa gembira. Alasannya, saya dapat menonton langsung acara final cycling road race yang merupakan bagian dari olimpiade, waktu rombongan atlet melewati rute dekat rumah. Akhirnya impian untuk menyaksikan olimpiade secara langsung terlaksana.

Pengalaman ini mungkin tidak akan terulang kembali, dan menjadi  pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Jika Anda penasaran bagaimana suasananya, sila saksikan video saya pada tulisan ini untuk perlombaan road race yang dilaksanakan kemarin (Men's final) dan hari ini (Women's final).

Olimpiade Tokyo akhirnya secara resmi dimulai tanggal 23 Juli lalu, setelah satu tahun tertunda. Kontingen atlet dari 205 negara memasuki stadion dengan menjaga jarak (meskipun ada yang terlihat tidak menjaga jarak) pada acara pembukaan. 

Mereka masing-masing akan berlaga selama 17 hari pada 33 cabang olahraga, melalui 339 pertandingan di stadion yang sudah disiapkan di Tokyo dan beberapa tempat lain.

Melalui layar televisi, kita bisa menyaksikan atmosfer acara pembukaan yang terasa lain dibandingkan olimpiade sebelumnya.

Tidak ada teriakan maupun suara riuh rendah penonton saat atlet memasuki area stadion. Senyuman atlet pun tidak dapat terlihat karena tertutup masker. Sebagian besar bangku stadion berkapasitas 68 ribu penonton itu kosong melompong. 

Adalah kenyataan ironis bahwa sorotan lampu berwarna-warni yang rencananya digunakan untuk memperindah dan meramaikan suasana, ternyata digunakan sebagai kamuflase agar stadion terlihat penuh. Meskipun kenyataannya, bangku hanya terisi 1,4 persen dari kapasitas total.

Suara ramai hanya terdengar dari letusan kembang api, dengan pancaran sinar bak lukisan warna-warni di udara lembap pada musim panas di Tokyo. Selain itu, tidak ada sorak-sorai. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x